Site icon NTD Indonesia

Cara Merapikan Barang untuk Kesehatan Mental

Di era kepuasan instan, orang mungkin bertanya-tanya mengapa sekitar 40 persen orang menderita depresi atau kecemasan. Ini adalah paradoks yang cukup menarik: kita memiliki semua yang kita inginkan, kecuali ketenangan pikiran. 

Mungkinkah kita memiliki terlalu banyak barang? Menurut Departemen Energi AS, satu dari empat rumah dengan garasi dua mobil menyimpan begitu banyak barang sehingga mereka bahkan tidak dapat memasukkan mobil ke dalam garasi. 

Ya, saya pikir itu terlalu banyak barang. Bukan rahasia lagi bahwa kekacauan fisik menciptakan beban mental yang dapat memengaruhi kesehatan emosional dan fisik anda, jadi mengapa ini terjadi?

Jika anda adalah manusia yang memiliki rumah, anda memiliki barang-barang. Dan jika anda telah hidup cukup lama, anda mungkin telah mengumpulkan banyak barang. Namun, seiring bertambahnya usia, kita berubah, dan sebagian besar barang kita akhirnya menjadi tidak relevan dengan kehidupan kita; jadi kita membeli barang baru.

Jika anda bukan salah satu dari sedikit orang yang menjaga agar kekacauan tetap terkendali dengan pembersihan yang teratur dan ketat, anda mungkin menyimpan terlalu banyak barang, dan akhirnya membuat rumah anda berantakan.

Mengapa kita menyimpan terlalu banyak barang?

Ketika kita mengaitkan sentimen dengan barang-barang kita, kita sering membiarkan kekacauan menumpuk tanpa menyadarinya. Kita merasa sulit untuk melepaskan barang-barang karena berbagai alasan:

Jika alasan-alasan ini terdengar masuk akal untuk menyimpan sesuatu, penalaran anda mungkin salah. 

Barang-barang membebani kita. Barang-barang itu diam-diam menyiksa kita hanya dengan berada di sana. Kita mengkhawatirkannya; kita merasa bersalah, sedih, kesal, atau terbebani dengan tanggung jawab atasnya. Dengan melepaskan kelebihan (dan sebagian besar memang berlebihan), kita dapat bergerak maju dengan kebebasan dan kejelasan. 

Sebagai contoh, Kakek saya, Dick, bertemu banyak orang menarik dalam pekerjaannya sebagai sopir limusin. Dia pernah bercerita tentang seorang wanita Swedia kaya yang akan dia antar ke bandara. Wanita itu baru saja kehilangan semua harta miliknya, namun ia tetap riang dan ceria seolah-olah tidak memiliki beban apa pun di dunia ini. 

Sekarang, mari kita lihat daftar itu lagi:

Latih pengendalian diri

Rata-rata orang Amerika menghabiskan hampir $3.000 (lebih dari 50 juta rupiah) setiap tahunnya untuk pembelian impulsif. Itu adalah barang-barang yang bahkan tidak kita ingin beli sejak awal! Waspadalah terhadap taktik pemasaran yang manipulatif:

Belajarlah untuk bersabar. Ketertarikan yang tiba-tiba mungkin akan membuat anda tertarik selama seminggu, sebulan, atau mungkin dua bulan; tetapi jika anda menunggu cukup lama, bahkan obsesi pun akan memudar. Uang dihemat. Kekacauan dicegah.

Manfaatkan apa yang anda miliki

Alih-alih bergegas membeli semua yang anda butuhkan untuk suatu tugas, atau bahkan untuk makan, lihatlah sekeliling rumah anda dan lihat apa yang sudah anda miliki. Jika anda memiliki sesuatu yang bisa dijadikan substitusi, bisakah anda menggunakannya?

Jelajahi alternatif untuk terapi belanja

Banyak orang beralih ke belanja untuk menghilangkan stres, meningkatkan suasana hati, dan mengurangi kecemasan. Meskipun manfaat jangka pendeknya bisa sangat besar, dalam jangka panjang, terapi belanja adalah kebiasaan mahal yang justru merugikan anda. Sebagai gantinya:

Jadilah pembeli yang lebih bijak

Seberapa sering anda membawa pulang sesuatu hanya untuk bertanya-tanya, “Mengapa saya membeli ini?” Luangkan waktu untuk mengevaluasi setiap barang yang dipertimbangkan dengan bertanya pada diri sendiri:

Tantang diri anda untuk membeli lebih sedikit.

Catat pengeluaran anda selama satu minggu untuk melihat berapa banyak uang yang dihabiskan untuk barang-barang yang tidak penting. Cobalah untuk mengurangi jumlah tersebut pada minggu berikutnya. Pada akhirnya, anda dapat menetapkan tujuan seperti “Tidak Online Shopping di Bulan November,” atau “Hanya Kebutuhan Pokok di Bulan Juli,” untuk mencapai satu “tahun berhemat” tahun demi tahun. 

Nikmati penghematan dengan berinvestasi pada hal-hal yang benar-benar berharga—seperti pendidikan, pengalaman, pertumbuhan pribadi, dan makanan sehat—yang akan memperkaya hidup anda secara berkelanjutan. Dengan kata lain, fokuslah pada apa yang dapat anda lakukan dengan uang anda daripada apa yang dapat anda miliki. 

Di Tahun Baru Imlek, masyarakat keturunan Tionghoa di seluruh dunia membersihkan “debu” untuk memberi ruang bagi awal yang baru dan lebih baik. Ikuti tradisi yang disengaja ini dan cobalah membereskan beberapa barang yang tidak perlu hari ini. Dengan usaha yang konsisten, anda dapat mengganti terlalu banyak barang dengan ketenangan yang sederhana.