Site icon NTD Indonesia

Empat Sehat Lima Sempurna Versi Gugus Tugas, Tidak Proporsional?

Piramida gizi seimbang

Piramida gizi seimbang. (Wikipedia)

Akhir bulan Mei lalu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo, memperkenalkan slogan baru sebagai pengingat yang mudah bagi masyarakat di masa pandemi ini. Ia mengadopsi slogan 4 Sehat 5 Sempurna sebagai upaya pencegahan virus. Tentunya bagi mereka yang berusia 40 tahunan masih mengingat slogan yang dahulu sangat populer itu.

Empat sehat versi Doni yang juga Kepala BNPB ini, adalah menggunakan masker, jaga jarak (baik dengan physical distancing maupun social distancing), rajin mencuci tangan dengan sabun, dan olahraga, tidur teratur dan cukup serta tidak panik. Sedangkan penyempurnanya, atau yang ke-5 yakni makanan yang bernutrisi.

Namun slogan yang diperkenalkan ini dianggap tidak proporsional oleh Prof. Soekirman, PhD, “Begitu mendengar empat sehat lima sempurna, pikiran masyarakat pasti langsung tertuju pada makanan, bukan pada virus, jadi ini tidak proporsional,” ujar Soekirman dalam acara live di Kanal Youtube Makan Bener bersama Prof. Soekirman, PhD dengan tema “Akhir Minggu Bersama Guru”, Sabtu 13 Juni 2020. “Kedua, begitu melihat slogan tersebut, saya teringat profesor saya. Seorang penginsiatif. Memang, bukan asli dari dia tetapi mengadaptasi dari slogan Basic 4 dari Amerika. Menurut saya penggunaan itu justru melecehkan Profesor Poorwo, meskipun orang lain merasa bangga. Menurut saya, tidak proporsional digunakan disana, karena bukan makanan,” lanjut  Guru Besar (Em.) Ilmu Gizi, Fakultas Ekologi Manusia, IPB, Bogor tersebut.

Empat sehat lima sempurna sendiri diciptakan pada 1950-an oleh Prof. Poorwo Soedarmo. Namun slogan ini sudah tidak digunakan lagi karena dianggap tak lagi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi. Sejak 1990-an telah diperkenalkan konsep baru, dikenal dengan gizi seimbang, yang divisualisasi dalam bentuk “piramida.” Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan (BB) ideal. Di Indonesia sendiri, gizi seimbang divisualisasikan dalam bentuk “tumpeng” gizi seimbang.

Dalam penjelasannya, Soekirman membagi gizi seimbang dalam 4 Pilar Gizi Seimbang.

Pertama, mengonsumsi makanan beragam. Semakin bervariasi jenis makanan yang dikonsumsi, akan semakin baik. “Aspek makanan itu beragam, tidak perlu detail, ditimbang berapa gram, pokoknya semakin banyak macamnya, semakin baik,” terang Soekirman.

Kedua, kebersihan dan keamanan pangan. “Keamanan pangan itu termasuk jajanan anak-anak yang menggunakan pewarna makanan. Itu perlu dihindari, jangan menggunakan, karena itu berbahaya,” lanjut Soekirman. Pada paparan sebelumnya, telah banyak dijelaskan tentang kebersihan makanan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sanitasi sehat. Diantaranya dengan kebersihan pengolahan makanan dan mencuci tangan.

Ketiga, pola hidup aktif dan olah raga. Mengingat saat ini ruang gerak telah sangat terbatas, maka anak-anak harus aktif bergerak. Jika tidak, anak-anak akan mudah sekali menjadi gemuk.

Keempat, mengontrol berat badan. Pilar terakhir ini digunakan sebagai kontrol apakah gizi yang masuk telah sesuai. “Timbang berat badan saudara, paling tidak sebulan sekali, kalau berat badan saudara normal terus, artinya semua yang dimakan sudah sesuai.” tutup Soekirman.

Jelaslah bahwa pola hidup sehat dengan mengadopsi gizi seimbang telah dirancang bahkan jauh sebelum ada pandemi. Tidak hanya mengonsumsi pola makan sehat, selain agar gizi tercukupi juga menjaga stamina tubuh, menjaga kebersihan makanan dengan mencuci tangan dan membatasi asupan bahan makanan aditif sebagai keamanan pangan, dan juga berolah raga. Hanya saja, saat pandemi, pola hidup sehat ini kemudian diingatkan kembali.

Jadi, bagaimana empat sehat lima sempurna versi gugus tugas, menurut Anda? (NTDIndonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI