Menurut panduan terbaru oleh beberapa lembaga kesehatan terkemuka AS, susu nabati yang terbuat dari beras, kelapa, gandum, atau jenis tanaman lain, terkecuali susu kedelai yang telah melalui proses fortifikasi (pengayaan vitamin), tidak memiliki nutrisi utama yang dibutuhkan untuk pertumbuhan awal anak.
Gagasan ini muncul setelah diskusi pakar kesehatan dari Akademi Nutrisi dan Diet, American Academy of Pediatric Dentistry, American Academy of Pediatrics, dan American Heart Association.
Membatasi susu nabati adalah perubahan utama berdasarkan tren minuman
Megan Lott, wakil direktur Healthy Eating Research, penggagas usulan ini mengatakan bahwa dalam 5-10 tahun terakhir telah terjadi lonjakan minat terhadap susu nabati. Semakin banyak orang tua yang memilih susu nabati karena berbagai alasan dan ada kesalahpahaman bahwa susu nabati setara dengan susu sapi.
Lebih lanjut, Lott mengatakan bahwa permasalahannya adalah sebagian besar susu nabati tidak menunjang cukup nutrisi utama, seperti vitamin D dan kalsium, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak-anak.
Namun ide tersebut membuat pengecualian bagi balita penderita alergi susu sapi atau yang tubuhnya tidak toleran laktosa atau yang berbenturan dengan pantangan religi atau yang menjalankan pola makan vegan. Dalam hal ini orang tua harus berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi, kata Lott.
Bahkan sebagai ahli diet terdaftar, Lott mengatakan dia harus melihat dengan cermat apa yang cocok untuk anaknya. Putranya hampir berusia tiga tahun dan alergi terhadap susu sapi. Berdasarkan pola makannya yang normal, dia harus mencari tahu susu pengganti apa yang bisa mengisi kekurangan nutrisi.
“Apa yang mungkin bisa diterapkan ke anak saya mungkin tidak dengan anak lainnya, itu tergantung pada kebutuhan individu dan mengapa kita berbicara tentang perlunya orang tua untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi anak”, kata Lott.
Minuman yang harus dihindari balita
Beberapa minuman lain yang harus dihindari, menurut pedoman itu, termasuk minuman rendah kalori dan nol kalori.
“Kami menemukan semakin banyak makanan kemasan yang mengandung pemanis buatan dan tidak ada penelitian terhadap pemanis buatan ini apakah aman dikonsumsi balita”, kata Lott.
Susu untuk balita dan susu dengan perasa juga tidak dianjurkan. Rekomendasi terdahulu memberikan kelonggaran bahwa susu coklat atau susu dengan perasa manis lainnya akan lebih baik daripada tidak minum susu sama sekali, kata Lott, namun kemudian persepsi ini bergeser dengan pertimbangan bahwa ini menyangkut usia kunci ketika seorang anak mengenal preferensi rasa dan kami merasa penting untuk menciptakan kebiasaan sehat sejak dini.
Minuman dengan kadar gula tinggi atau yang mengandung kafein seperti soda sangat tidak dianjurkan untuk balita.
Perubahan kunci lainnya termasuk jus. Pedoman ini menganjurkan anak di bawah usia 1 tahun tidak minum jus sama sekali. Untuk usia 1-3 tiga tahun, tidak lebih dari ½ gelas sehari, dan untuk anak-anak yang berusia 4-5 tidak lebih dari ½-3/4 gelas sehari.
Minuman yang disarankan untuk dikonsumsi balita
Gagasan itu mengatakan bayi hanya membutuhkan ASI atau susu formula dan sedikit air bagi bayi yang telah berusia 6 bulan. Anak-anak harus minum susu, air, sesekali jus.
Sangat disarankan untuk anak-anak berusia 1-2 tahun minum 2 hingga 3 gelas susu murni sehari. Anak usia 2 – 3 tahun, minum tidak lebih dari 2 gelas (susu bubuk atau susu rendah lemak) sehari. Untuk usia 4-5 tahun mereka hanya minum tidak lebih dari 2½ gelas sehari. Untuk air, ½ -1 gelas untuk anak usia 6-12 bulan, 1-4 gelas sehari untuk anak usia 1-3 tahun, dan 1½-5 gelas sehari untuk anak usia 4-5 tahun. (visiontimes/bud/may)

