Mengendalikan pikiran adalah kemampuan yang membutuhkan waktu dan tekad untuk belajar. Di sini saya duduk, sendirian, dengan jari diatas keyboard, menatap kursor yang berkedip. Saat ini tahun baru dan waktunya mempublikasikan artikel baru di blog kami. Harapan saya cukup tinggi — saya ingin menuliskan sesuatu yang berwawasan luas, membantu, dan menyenangkan hati. Namun harapan ini sungguh, melumpuhkan. Saya hanya fokus pada hasilnya, dan saya khawatir hasil pekerjaan saya akan dangkal dan tidak berarti. Hanya omong kosong, seperti setetes air di tengah samudera.
Jadi pikiran saya berpacu. Hal yang paling penting — fokus — yang diperlukan untuk mencapai hasil yang saya inginkan — wawasan — menjauh dari saya. Singkatan untuk kondisi kelumpuhan ini adalah writer’s block.
Hal yang aneh, writer’s block. Bukannya saya lupa cara menulis. Menulis hanyalah meletakkan kata-kata di atas kertas. Seperti yang Seth Godin katakan, writer’s block bukan seperti pembicara yang dihalangi. Anda bisa berbicara, dan kata-kata larut dalam artikel yang dinantikan pembaca. Oleh karena itu, memiliki harapannya yang sangat tinggi.
Di saat-saat seperti ini, menurut pengalaman saya, satu-satunya jalan keluar adalah dengan menghadapi kendala secara langsung. Tuliskan apa yang Anda ketahui, seperti yang mereka (pikiran) katakan, dan yang saya tahu, saat ini saya sedang terjebak oleh pikiran saya sendiri. Maka, kita mulai saja.
‘Pikiran adalah Pelayan yang Sangat Baik tetapi Guru yang Mengerikan’
Asal usul kutipan ini tidak jelas, tetapi artinya sangat jelas: Pikiran adalah sekutu Anda yang paling kuat tetapi bisa menjadi musuh terbesar Anda.
Entah kita menyadarinya atau tidak, setiap saat kita pasti berpikir. Berhentilah sejenak, tataplah dinding, dan pertimbangkan baik-baik, apakah isi di kepala Anda menyuarakan hal yang menyimpang atau lurus.
Kecuali jika Anda seorang biksu yang terlatih atau telah mengembangkan rutinitas meditasi dan menenangkan pikiran, suara-suara di kepala hampir selalu ada. Beberapa orang mungkin menyibukkan diri dengan mendaki, merajut, atau memperbaiki mobil tua, menenangkan pikiran dengan caranya sendiri.
Tetapi umumnya, celotehan dalam pikiran terus bersuara. Lebih buruk lagi, diantara kita banyak celotehan yang negatif. Negativitas adalah manifestasi dari “monkey mind,” atau lompatan-lompatan pikiran liar, yang menimbulkan perasaan malu, ragu, dan gelisah. Ini semacam kritik dari dalam diri yang menyampaikan jika kita tidak cukup baik, tidak cukup pintar, atau tidak layak. Ironisnya, monkey mind kita dapat menghentikan kita melakukan hal berisiko yang kita yakin dapat melakukannya. Dia juga bisa menghentikan kita mengambil kesempatan atau menghentikan melakukan sesuatu yang ingin kita lakukan dari hati kita, karena, kita khawatir akan apa yang dipikirkan orang lain.
Kembali ke topik: Writer’s block hanyalah bentuk hukuman lain dari “tuan yang buruk.” Tetapi implikasi dari ketidakmampuan untuk menjinakkan pikiran, tentu saja, lebih penting daripada itu. Terlalu banyak orang menghabiskan masa dewasanya tanpa menyadari telah terperangkap dalam pikiran mereka daripada menyadari dan hidup di dunia yang menakjubkan di sekitar mereka.
Kedengarannya sangat kejam, kan? Jadi apa yang harus dilakukan?
Jawabannya terletak pada mengubah persepsi seseorang tentang apa yang mungkin. Pikiran adalah hal yang misterius, tetapi melalui perhatian, kesadaran, dan disiplin, pikiran dapat dimanfaatkan.
Kita menghabiskan masa muda dengan proses pembelajaran dan pendidikan yang berkelanjutan. Kita melatih pikiran kita. Hal yang membingungkan terjadi ketika kita mencapai usia dewasa: banyak dari kita berhenti belajar dan memikirkannya karena terlalu sibuk melakukannya. Kita terjebak dalam mengejar makna.
Pikiran kita dikondisikan oleh mitos dan konsep yang meyakini jika kebahagiaan ada di setiap sudut, dan karenanya kita tidak pernah berhenti untuk menghargai setiap momen. Kita terperangkap dalam penyesalan masa lalu dan kecemasan akan masa depan, dan bukannya kesempurnaan saat ini. Jika Anda hanya terpaku pada masa lalu dan masa depan, mustahil untuk menyadari dan menghargai saat ini (betapapun tidak sempurna tampaknya) adalah segalanya.
Pikiran kita, seperti tubuh kita, tidak terlepas dari kita. Sangat mungkin melatih keduanya sepanjang hidup. “Diri” kita atau identitas, yang ada di kepala kita tidak statis. Pikiran yang melesat di benak kita tidak bisa dikendalikan. Tidak mudah melawannya. Hal itu membutuhkan perhatian, latihan, dan kerja keras. Tapi sungguh sepadan.
Enam Cara Mengambil Alih Kendali
Keberhasilan, kebahagiaan, kepuasan, kegembiraan, pencapaian — semua hal ini bergantung pada kemampuan seseorang untuk menjinakkan pikiran. Dengan kesadaran penuh. Untuk menjadikan pikiran sebagai pelayan, bukan tuan kita. Berikut adalah beberapa cara untuk mengambil alih kendali.
Berjalan-jalan di alam: Penelitian menunjukkan bahwa berada di alam menguntungkan pikiran dan tubuh, dari mengurangi stres dan kecemasan hingga meningkatkan rasa kekaguman — perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri. Dengan kata lain, berjalan-jalan di udara terbuka, dengan desiran dedaunan dan angin semilir menerpa wajah, dapat membantu Anda keluar dari suara-suara di kepala, masuk ke dalam hati, dan terhubung dengan dunia luar.
Praktik Mindfulness: Stres, kekhawatiran, dan kecemasan adalah gejala-gejala yang menghabiskan hampir setiap waktu yang mengokupasi pikiran – kita disandera oleh apa pun pikiran itu. Melalui latihan meditasi dan praktik mindfulness, memungkinkan kita untuk melepaskan keruwetan pikiran dan dapat mengendalikan pikiran dan emosi, atau setidaknya reaksi kita terhadapnya.
Membaca: Ketika kita terjebak dalam pikiran kita sendiri, kita berpegang teguh pada pandangan dunia kita sendiri dan sulit menghargai perspektif orang lain. Membaca adalah cara memecahkan kondisi tersebut. Aktivitas menenangkan ini membutuhkan konsentrasi, refleksi, dan perhatian penuh.
Menulis dalam Jurnal: Jurnal adalah metode tradisional mengeksplorasi diri. Ini adalah proses mengeluarkan pikiran dari kepala seseorang dan menuangkannya di atas kertas —sarana memproses dan mengeksplorasi pertanyaan yang mengganggu dan keraguan yang mengaburkan pikiran. Setelah Anda melihat hal-hal tersebut, Anda dapat mengatasinya.
Mendengarkan: Saat Anda sedang termakan oleh suara di kepala, Anda tidak mungkin dapat mendengarkan suara orang lain. Dalam percakapan, pikiran orang lain akan menjadi halangan yang memperlambat pikiran dari sudut pandang Anda sendiri. Dengan memusatkan perhatian dan sungguh-sungguh mendengarkan, daripada berbicara sendiri, Anda dapat melepaskan celotehan pikiran Anda dan penuh kesadaran pada saat itu.
Pengalaman Baru: Salah satu cara terbaik mengganggu pola pengaturan rutin Anda adalah dengan mencoba pengalaman baru. Kami menyebutnya “momen pertama”. Terkadang Anda perlu mengistirahatkan naskah kehidupan dan pikiran Anda, untuk menghargai apa yang ada di depan mata, untuk melihat apa yang mungkin, dan untuk memperlambat hidup.
Tidak ada yang dapat menghentikan kita menjalani kehidupan yang memiliki tujuan dan bahagia kecuali diri kita sendiri, keyakinan kita yang terbatas, dan celotehan negatif diri kita. Pikiran kita dapat memenjarakan kita tetapi juga membebaskan kita. Itu pilihan kita. Kita harus memilih dengan bijak.
Jay Harrington adalah seorang penulis, pengacara yang berubah wirausaha, dan menjalankan merek gaya hidup yang terinspirasi oleh Michigan utara yang disebut Life and Whim. Dia tinggal bersama istri dan tiga gadis muda di sebuah kota kecil di Michigan utara dan menulis setiap minggu tentang menjalani kehidupan yang bertujuan, disengaja, bahagia, berorientasi luar ruang di blog-nya (epochtimes/jayharrington/feb)

