Saat ini kita masih dalam suasana tahun yang baru, Anda mungkin sudah memiliki beberapa resolusi Tahun Baru, salah satunya mungkin adalah “Makan makanan yang lebih sehat.” Jika memang demikian, bacalah 17 mitos makanan yang lazim beredar di internet sehingga Anda tidak perlu menyaring sendiri mana informasi yang menyesatkan.
1. Vitamin C menghindarkan sakit flu
Vitamin C adalah nutrisi yang digunakan tubuh untuk memelihara tulang, otot, dan pembuluh darah. Tubuh manusia tidak menghasilkan vitamin C, tetapi Anda bisa mendapatkannya dari makanan, terutama dari buah jeruk, keluarga beri, dan sayuran hijau. Meskipun vitamin C sering disebut-sebut efektif dalam mencegah pilek dan ditampilkan dalam berbagai suplemen penambah kekebalan tubuh, para peneliti menemukan hanya sedikit atau bahkan tidak ada manfaat vitamin C untuk mempersingkat atau mencegah pilek.
2. Konsumsi banyak porsi kecil daripada tiga kali makan besar
Beberapa pelaku diet meyakini, mengonsumsi makanan porsi kecil namun sering, dapat mempercepat metabolisme dan membakar lebih banyak kalori. Namun, cara konsumsi ini tidak lebih baik dari pola makan tradisional –tiga kali sehari– dalam hal tingkat metabolisme. Sebuah studi 2013 menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam metabolisme pada peserta yang mengonsumsi enam porsi kecil dengan mereka yang makan tiga kali sehari. Belum lagi, kecenderungan lapar dan makan berlebihan pada orang yang mengonsumsi sedikit makanan.
3. Minumlah banyak air es untuk menurunkan berat badan
Minum air es dianggap dapat menurunkan berat badan didasarkan pada gagasan tubuh Anda menggunakan energi ekstra untuk menambah suhu air, sehingga membakar lebih banyak kalori. Secara teknis, ini benar, tetapi dampaknya terlalu kecil untuk mempengaruhi penurunan berat badan. Penelitian menunjukkan bahwa setiap cangkir air es yang Anda minum dapat membakar sekitar 4 hingga 7 kalori, yang pada dasarnya setara dengan satu permen M&M atau kacang cokelat. Namun demikian, minum air es dapat membuat Anda tidak kepanasan selama olahraga dan membantu Anda cepat terhidrasi setelah sesi latihan.
4. Wortel mentah lebih bergizi daripada dimasak
Bertentangan dengan kepercayaan umum, wortel yang dimasak lebih bergizi daripada yang mentah. Ketika wortel dimasak atau diproses, dinding seluler yang keras akan pecah, sehingga lebih banyak beta-karoten yang tersedia. Ini juga berlaku untuk tomat. Produk tomat seperti saus, pasta, atau jus mengandung likopen hingga 10 kali lebih banyak daripada tomat segar.
5. Wortel meningkatkan penglihatan Anda
Mitos konsumsi wortel dapat meningkatkan penglihatan, berasal dari propaganda Perang Dunia II. Selama Pertempuran Britania, Angkatan Udara Britania Raya mengklaim bahwa pilot tempur elitnya mampu menjatuhkan pembom Jerman di malam hari karena asupan wortel reguler dapat meningkatkan penglihatan di malam hari. Faktanya, pilot RAF dapat dengan mudah menemukan pesawat musuh dalam kegelapan karena mereka menggunakan radar udara, yang dirahasiakan dari Jerman. Propagandanya sangat sukses hingga sampai saat ini, masih banyak orang yang percaya.
7. Kacang termasuk “junkfood”
Memang benar kacang mengandung jumlah kalori yang relatif tinggi per satuan berat. Tetapi, bukan berarti kacang tidak bisa menjadi bagian dari makanan sehat Anda. Kacang mengandung protein dan lemak tak jenuh tunggal dalam jumlah tinggi yang baik untuk kesehatan jantung. Misalnya, almon mengandung 6 gram protein dan 14 gram lemak sehat per ons. Mengonsumsi kacang mentah atau dipanggang kering cenderung lebih sehat daripada mengonsumsi kacang yang diolah dengan minyak, yang dapat mengandung lebih banyak lemak tidak sehat.
8. Buah dan sayuran beku dan kalengan kurang bergizi daripada yang segar
Ini mungkin benar jika Anda menanam dan memanen buah dan sayuran sendiri. Tetapi bahan makanan segarpun yang Anda jumpai di rak toko, telah melalui masa berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu dalam proses pengiriman dan penyimpanan. Selama masa tersebut, secara alami mereka dapat kehilangan nutrisi. Sebaliknya, buah-buahan dan sayuran kaleng atau beku diolah segera setelah dipanen, sehingga dapat meminimalisir kehilangan vitamin dan kandungan mineral.
9. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencerna permen karet
Anda tidak perlu panik ketika anak Anda tanpa sengaja menelan permen karet. Ketika masuk dalam sistem pencernaan manusia, permen karet tidak memerlukan perawatan khusus, dia akan dipecah-pecah seperti makanan lainnya. Apa pun yang tidak dapat dicerna akan tetap melalui saluran pencernaan dan berakhir di kamar mandi.
10. Konsumsi versi makanan rendah lemak untuk menurunkan berat badan
Rendah lemak tidak selalu berarti lebih sehat. Label “rendah lemak” sebenarnya cenderung menyebabkan konsumen makan berlebihan. Sebuah penelitian pada 2016 menunjukkan bahwa orang cenderung makan lebih banyak ketika mereka tahu mereka makan makanan yang rendah lemak. Selain itu, makanan rendah lemak sering kali mengandung gula lebih tinggi daripada makanan berlemak, karena saat produsen makanan menghilangkan lemak, mereka cenderung menggunakan gula untuk “memperbaiki” rasa yang hilang.
11. Gula cokelat (brown sugar) lebih sehat daripada gula putih
Pernahkah Anda mengganti gula putih dengan gula cokelat, dan mengira Anda telah membantu keluarga dengan sesuatu yang lebih menyehatkan? Saya akui, saya juga demikian. Tapi inilah kebenaran yang tidak terlalu manis: jika menyangkut kesehatan, gula adalah gula. Pada dasarnya, gula cokelat adalah tebu mentah yang disuling hanya satu kali, yang mengandung molase 5 hingga 10 persen. Jika menyuling gula cokelat berulang kali untuk menghilangkan semua molase yang tersisa, Anda akan mendapatkan gula putih. Jadi, satu-satunya perbedaan antara keduanya adalah warna dan rasa molase itu. Entah Anda memilih gula cokelat maupun putih, secara kesehatan tidak jauh berbeda.
12. 8 gelas air sehari baik untuk kesehatan Anda
Secara sederhana: Anda tidak perlu benar-benar mematuhi aturan 8 cangkir-sehari. Cukup minum saat Anda haus. Jumlah yang dibutuhkan seseorang untuk tetap sehat dan terhidrasi berbeda untuk setiap orang, tergantung pada usia, lingkungan, pola makan, kondisi kesehatan secara keseluruhan, dan banyak faktor lainnya. Hampir tidak ada satu standar yang berlaku untuk setiap manusia di bumi. Minumlah kapan pun Anda merasa perlu dan itu sudah cukup.
13. Minum Susu Mencegah Patah Tulang
Manusia membutuhkan kalsium dan vitamin D untuk membentuk tulang yang kuat, dan susu kaya akan keduanya. Sayangnya, minum susu tidak benar-benar menurunkan risiko patah tulang. Sebuah studi di Harvard yang melibatkan lebih dari 330.000 orang menemukan bahwa mereka yang minum satu gelas susu per minggu tidak lebih mungkin mengalami patah pinggul atau lengan daripada mereka yang minum dua gelas atau lebih per minggu. Studi lain juga menunjukkan tidak ada bukti bahwa minum susu lebih banyak saat remaja menurunkan risiko patah tulang pinggul pada saat lansia. Jika tujuan Anda untuk mencegah patah tulang, susu saja tampaknya tidak cukup, meskipun Anda dapat menambah asupan dengan makanan lain seperti kacang kedelai, kacang almon, salmon, dan ikan sarden, dan terutama berjemur matahari pagi (sebelum jam 9) untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D.
14. Cuci Daging Mentah Sebelum Dimasak untuk Menghilangkan Bakteri
Kenyataannya, bakteri tidak dapat dibersihkan hanya dengan mencuci tidak peduli seberapa keras Anda mencoba. Selama Anda memasak daging atau unggas pada suhu yang tepat, semua bakteri akan mati.
15. Garam Laut Lebih Sehat Daripada Garam Dapur
Jika Anda menguapkan kandungan air dari air laut atau air danau asin, Anda akan mendapatkan garam laut, yang biasanya hanya mengalami sedikit proses dan meninggalkan beberapa mineral yang menambah warna dan aroma. Garam dapur, di sisi lain, ditambang dari endapan garam bawah tanah dan kemudian disempurnakan sehingga lebih mudah digunakan dalam memasak. Dalam hal nilai gizi, tidak ada perbedaan besar diantara keduanya. Dari ukuran berat, mereka mengandung persentase natrium yang sama. Anda tidak perlu beralih ke garam laut untuk penambahan mineral yang sangat kecil, karena dapat dengan mudah diperoleh dari makanan lain.
16. Telur cokelat lebih sehat daripada telur putih
Warna kulit telur tidak ada hubungannya dengan seberapa sehat telur tersebut.
17. Makan larut malam membuat Anda bertambah berat badan
Saran diet “jangan makan setelah larut” telah banyak beredar. Tetapi kalori adalah kalori, yang tidak tergantung waktu dan tidak akan menambah berat hanya karena makan malam. Tubuh Anda membakar kalori 24 jam 7 hari, bahkan saat Anda sedang tidur, jadi meskipun disarankan untuk makan malam beberapa jam sebelum waktu tidur untuk memungkinkan tubuh mencerna makanan, dan mengonsumsi porsi makanan terkecil dari sepanjang hari itu (menurut UAMS Weight Loss Clinic), jumlah total kalori yang Anda konsumsi lebih penting daripada jam saat mengonsumsinya. Kalori tambahan apa pun, yang melebihi apa yang Anda butuhkan kemungkinan akan disimpan sebagai lemak — entah itu camilan pagi atau camilan tengah malam. (epochtimes/feb)

