Kesehatan

Perhatikan Setiap Perubahan pada Air Seni Anda!

(Ilustrasi: Mohamed Hassan/Pixabay)

Air seni (urin) merupakan produk limbah yang disaring oleh ginjal yang berasal dari darah dan berwarna kuning tergantung pada proporsi zat limbah pada air seni, warna kuning tersebut berasal dari urochrom (zat yang dihasilkan oleh pemecah hemoglobin yang merupakan protein pembawa oksigen dalam sel darah merah).

Di hari-hari yang biasa, umumnya air seni kita tidak “berbau” dengan warna kuning terang atau cenderung transparan. Ada beberapa hal yang menyebabkan perbedaan intensitas warna urin dan perubahan pada bau urin, misalnya setelah minum secangkir kopi atau makan sayur petai dalam jumlah tertentu, kita akan menemukan bau air seni kita beraroma kopi atau petai; kemudian setelah menelan obat-obatan tertentu warna kuning berubah menjadi lebih kemerahan atau timbul aroma zat kimia tertentu; atau memakan buah-buahan tertentu seperti buah bit, beri hitam dalam jumlah besar juga akan mengubah warna air seni kita. Itu semua wajar dan tidak perlu dikhawatirkan.

Namun jika air seni tiba-tiba menjadi agak merah muda (apakah indikasi adanya darah samar pada air seni), atau tiba-tiba berwarna kuning gelap bahkan coklat (apakah indikasi masalah pada organ liver kita), atau berwarna agak kehijauan (apakah indikasi terkena infeksi bakteri), baiknya kita berhati-hati. Kurangnya minum hari itu bisa saja membuat air seni kita berubah warna ke kuning gelap, gejala ini akan segera hilang setelah kita meneguk beberapa gelas air putih. Tapi bila perubahan warna dan bau tersebut terus berlangsung selama beberapa hari, maka anda baiknya waspada dan bila perlu konsultasikan dengan dokter anda.

Di samping warna dan bau, perlu kita perhatikan pula frekuensi kita ke kamar kecil. Apakah perlu buang air kecil beberapa kali di malam hari (yang barangkali mengindikasikan gejala diabetes), apakah buang air kecil terlalu jarang dan lainnya.

Tentu saja setelah meneguk beberapa cangkir teh atau kopi, kita akan menemukan harus lebih sering ke kamar kecil. Sebaliknya, saat kita melakukan aktivitas fisik yang menyebabkan kita berkeringat dalam jumlah besar atau tengah berpuasa, buang air kecil juga akan lebih jarang. Saat demikian, kita harus memerhatikan untuk menambah porsi minuman kita setelah usai aktivitas tersebut untuk menyeimbangkan kembali jumlah cairan dalam tubuh.

Sesungguhnya, tubuh yang sehat bukan saja terefleksi pada keseharian kita yang dapat makan minum dengan lancar tanpa masalah, tetapi penting pula dapat buang air (baik besar maupun kecil) dengan lancar dan wajar.

(ntdindonesia/nurhadi/dr. ratna)

Artikel ini hanya dimaksud sebagai informasi umum, tidak menggantikan konsultasi medis.