Site icon NTD Indonesia

Tidur Siang, Aktivitas Menyenangkan yang (Seringkali) Tidak Disukai Anak-anak

© NSF

© NSF

Mengajak anak untuk tidur siang, terkadang sangat melelahkan. Terutama bagi pengasuh yang sudah merasakan penat mendampingi anak-anak bermain sedari pagi, namun si anak belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk.

Bagi orang dewasa, tidur (secara umum) adalah aktivitas menyenangkan yang dibutuhkan. Bahkan bagi sebagian orang, tidur merupakan kemewahan. Namun tidak demikian bagi anak-anak. Banyak alasan mengapa mereka menolak untuk tidur. Mulai dari energi yang masih berlimpah, tidak ingin melewatkan waktu bermain, atau ingin merasakan kebebasan.

Menurut National Sleep Foundation, kebutuhan tidur anak per hari bervariasi tergantung usia, mulai dari 11 jam untuk usia pra sekolah hingga 18 jam bagi bayi baru lahir. Pada sebuah studi yang dilakukan oleh Reut Gruber dan tim di Kanada menemukan bahwa efisiensi tidur malam (bukan durasi tidur) pada anak usia sekolah yang sehat, berkaitan dengan nilai yang bagus pada bidang matematika dan bahasa – mata pelajaran yang dapat menjadi indikator kuat untuk pembelajaran ke jenjang akademik selanjutnya. Ini menunjukkan jika kebutuhan dan kualitas tidur sama-sama dibutuhkan pada anak.

Di sisi lain, para orang tua juga perlu memahami jika kebutuhan tidur anak tidak hanya dipenuhi saat malam hari. Di siang hari, saat mereka telah melakukan aktivitas yang melelahkan sepanjang pagi, anak juga memerlukan istirahat. Bahkan pada bayi yang baru lahir hingga usia sekitar 2 tahun, tidur siang dapat dilakukan dua kali. Namun semakin bertambah usia, aktivitas semakin banyak, seringkali anak mulai menolak jika diajak tidur siang. Meski demikian, tetap perlu mengupayakan agar mereka mau diajak berkompromi masalah tidur.

Saat tidur, tubuh akan melakukan perbaikan dan peremajaan pada jaringan, meningkatkan massa otot, sintesis protein, melepaskan hormon pertumbuhan dan mempertahankan sistem kekebalan yang kuat. Anak-anak yang kurang tidur, misalnya, jauh lebih rentan terhadap pilek dan flu. Tidur juga berkaitan dengan kondisi mental seperti suasana hati dan emosi. Anak yang kurang tidur cenderung mempengaruhi emosi secara negatif. Meskipun tidur tidak menghilangkan stres, namun dia dapat meningkatkan kesiapan mengatasi stres.

Lalu bagaimana sikap kita jika anak menolak untuk tidur? Cobalah beberapa langkah berikut:

Konsistensi

Tetapkan waktu tidur yang sama setiap hari. Tidak ada kompromi dalam hal ini. Konsisten tidur di tempat tidur yang sama, dengan boneka yang sama, atau menggunakan selimut yang sama, juga akan banyak membantu.

Ritual

Ciptakan ritual sebelum tidur. Seperti cuci tangan dan cuci kaki, kemudian mengganti baju dengan piyama, sikat gigi (saat malam hari), membacakan cerita, atau memutar musik yang tenang.

Persiapan Pendukung

Matikan semua perangkat elektronik 30 menit sebelum tidur. Tidak melakukan permainan yang memerlukan aktivitas tinggi tepat sebelum tidur, karena akan membuat anak tetap terjaga. Pastikan ruangan dalam kondisi remang-remang.

Terakhir

Anda mungkin berhasil mengajak anak ke tempat tidur, tetapi Anda tidak mungkin dapat memaksa mereka agar tertidur. Jika semua hal diatas telah dilakukan, namun anak tetap terjaga, kabar baiknya adalah anak-anak tetap dapat mengambil manfaat dari “suasana tenang” yang telah disiapkan dan “mengisi ulang” energi untuk sore hari. Tetap redupkan lampu dan biarkan anak Anda di tempat tidur dengan beberapa buku atau mainan yang tetap membuatnya tenang selama satu atau dua jam. Jika suasana tenang kemudian membuatnya mengantuk, biarkan dia tertidur sendiri. Jika tidak, bermain sendiri dengan tenang lebih baik daripada tidak sama sekali. (ntdindonesia/averiani)