Pelaut Jerman memiliki banyak kosa kata sendiri yang khas, salah satunya adalah: ‘Ahoi.’ Kata yang awalnya adalah bahasa signal panggilan terhadap kapal, kemudian berkembang menjadi salam antarsesama ‘Matrose’ (pelaut), baik saat berjumpa atau akan berpisah. Bagi penulis sendiri – kata “Ahoi” senantiasa mengingatkan pada Kota Hamburg, membangkitkan kenangan lama yang indah.
Kota pelabuhan Hamburg adalah terbesar kedua di Jerman (setelah Berlin) dengan penduduk lebih dari 1,8 juta – meskipun sempat mengalami kerusakan yang lumayan parah saat Perang Dunia II akibat pemboman oleh pesawat tempur Sekutu, namun Hamburg masih menyimpan banyak pesona.
Banyak grup wisatawan dari Indonesia hanya berkunjung ke Berlin, kemudian bergegas menuju Bavaria di selatan, melewatkan pesona Kota Hamburg. Tiga destinasi berikut ini, janganlah dilewatkan jika suatu hari anda singgah di Hamburg:
Hamburger Rathaus (Balai Kota Hamburg) dan Danau Alster
Rathaus terletak di kota tua Hamburg (Altstadt), dekat dengan pusat belanja, Mönckebergstraße, jalan yang menghubungkan Rathaus dengan Hauptbahnhof (stasiun kereta sentral). Keindahan area ini terutama karena adanya danau di sekitarnya, Danau Alster dan kawasan khusus pejalan kaki yang cukup luas dan nyaman. Di hari musim panas yang cerah, jika anda sudah lelah berbelanja, bergabunglah dengan banyak orang yang duduk-duduk santai di sekeliling danau, dengan Rathaus di latar belakang, sekadar membaca buku, menikmati es krim, memberi makan angsa atau menatapi burung-burung dara yang tengah mencari makan.
Landungsbrücken
Dok apung ini tidaklah lebih dari 1 kilometer panjangnya. Namun menawarkan panorama ke pelabuhan yang sibuk sekaligus romantis apalagi saat musim gugur atau dingin. Salah satu tempat terbaik untuk menikmatinya adalah dari lapangan di depan youth hostel, dari atas sana memandang ke bawah, sungguh tidak akan menjemukan, mengamati kapal-kapal yang keluar masuk kanal, menyusuri Sungai Elbe, galangan kapal di seberang bangunan menara dan di kejauhan – banyaknya crane besar yang digunakan untuk aktivitas bongkar muat kapal laut.
Speicherstadt
Terletak di aliran Sungai Elbe, Speicherstadt (Speicher = Gudang, Stadt = Kota) dahulu adalah pusat perdagangan Kota Hamburg. Barang-barang impor ekspor akan bongkar muat langsung ke gedung-gedung tua yang dulunya memiliki crane di bagian belakangnya yang menghadap ke air, sehingga proses bongkar muat barang dapat langsung dikerjakan seketika kapal-kapal pengangkut merapat. Speicherstadt ini cukup luas, dan terhubung dengan daratan utama melalui beberapa jembatan/pintu masuk, sehingga mirip sebuah kota terapung tersendiri. Kunjungan ke Speicherstadt tentu dapat dilakukan dari sisi air dengan perahu wisata (“Hafenrundfahrt” – dengan perahu wisata mengelilingi area pelabuhan), alternatifnya dengan berjalan kaki atau bersepeda – kedua opsi pastinya memberikan perspektif yang berbeda.
Hamburg tentunya masih menyimpan lebih banyak lagi pesona, selain itu juga menjadi kota tempat bercengkerama para pecinta seni dan budaya karena banyaknya teater, museum, galeri dan lainnya. Karena memiliki pelabuhan cukup besar, Kota Hamburg sejak dahulu sudah memiliki nuansa kosmopolitan dan warganya umumnya cukup terbuka.
Akhir kata, bila berkunjung ke Jerman, jangan lupa singgah di Hamburg. Ahoi, ahoi! (ntdindonesia.com/karnadi nurtantio)

