Site icon NTD Indonesia

Akrab dengan Satwa di Taman Nasional Yala di Sri Lanka

Gajah di Taman Nasional Yala (Foto: Mohammad Reza Amirinia)

Gajah di Taman Nasional Yala (Foto: Mohammad Reza Amirinia)

Sri Lanka, yang digambarkan Marco Polo sebagai “pulau terbaik dunia,” adalah tanah misterius dengan sedikit sentuhan fauna Afrika yang dikombinasikan dengan gaya hidup dan tradisi India yang menarik.

Selain pantai berpasir, di pulau ini terdapat beberapa cagar alam yang unik yang dilindungi dunia, banyak di antaranya berasal dari zaman kolonial dan sebelumnya.

Kali ini kami akan mengajak anda mengunjungi Taman Nasional Yala yang berbatasan dengan Samudra Hindia di pantai tenggara. Dengan area seluas 98.000 hektar, tempat ini menawarkan tempat perlindungan bagi hewan langka seperti macan tutul, dan merupakan habitat bagi populasi kucing besar yang aman dan terlindungi. Ini merupakan taman terpopuler di Sri Lanka, juga merupakan habitat bagi jenis hewan liar lain, seperti reptil dan spesies burung.

Pertama, kita sambangi Hotel Cinnamon Wild Yala yang terletak di tepi taman. Di jalan berdebu menuju hotel dekat danau besar, terlihat sekumpulan buaya. Dua ekor buaya besar berjemur di sebuah pulau sementara yang lain bermalas-malasan di air.

Hotel ini terletak di hutan di tepi garis pantai, dan lahannya sering dikunjungi oleh satwa liar yang hidup di taman.

Sekelompok monyet minum air di Hotel Cinnamon Wild Yala
(Foto: Mohammad Reza Amirinia)

Setelah check-in, pengunjung dapat berjalan memasuki area populasi monyet, beberapa dari mereka berkeliaran di lantai, sementara monyet lainnya bermain dan makan di pohon. Bila tidak yakin tentang mereka sebaiknya menjaga jarak. Selain monyet, ada juga sekelompok kecil babi hutan kemungkinan mendadak lewat di depan anda. Namun mereka tidak berbahaya karena sudah terbiasa dengan manusia.

Safari Yala

Safari dimulai keesokan pagi pada pukul 4 pagi. Taman Nasional Yala dibagi menjadi lima blok. Yang paling populer adalah blok 1 yang terletak di sebelah Hotel Cinnamon, sayangnya ditutup karena sedang perbaikan. Karena itu safari dilakukan ke ujung lain taman yaitu blok 5 yang terletak 90 menit berkendara.

Saat tiba di sana matahari telah terbit, ada banyak jip safari lain yang dipenuhi pengunjung yang ingin menyaksikan macan tutul. Melewati belokan pada jalan sempit berdebu di hutan dan melewati sebuah danau yang berbatasan dengan kumpulan tumbuhan, tampak di atas pohon para monyet, kadal dan sekelompok besar kerbau di danau, tapi tak terlihat seekor pun macan tutul.

Setelah berkendara ke berbagai lokasi dan menunggu dalam waktu lama tanpa hasil, safari dilanjutkan menuju ke tempat-tempat menarik lainnya di taman.

Perhentian pertama adalah Waduk Weheragala, sebuah bendungan krusial sehingga menjadi gambar belakang uang kertas 5.000 rupee Sri Lanka. Waduk itu dibangun di atas hutan yang luas. Pohon-pohon mati kelabu yang mencuat di atas air adalah pemandangan yang indah tapi menakutkan.

Perjalanan dilanjutkan ke bagian yang lebih tropis dari taman dan berhenti di tepi sungai di mana terdapat burung merak dan rusa, dan dalam perjalanan kembali ke hotel terlihat beberapa gajah dari jarak dekat, sebuah pengalaman yang menggetarkan.

Seekor gajah melintasi jalur kendaraan di Taman Safari Yala
(Foto: Mohammad Reza Amirinia)

Dari informasi yang didapatkan kemudian, ternyata macan tutul lebih sering berada di blok 1 taman daripada blok 5. Sayang sekali, blok 1 ditutup selama kunjungan kali ini.

Biara Sithulpawwa Kuno

Pagi berikutnya, pemandu wisata membawa kami para wisatawan ke sebuah peternakan setempat untuk melihat pagar baja portabel yang diberikan kepada petani sebagai bagian dari upaya melindungi macan tutul. Macan tutul sering memangsa ternak di daerah itu dan petani akan membunuh macan tutul. Pemandu wisata menjelaskan bahwa pagar bermanfaat untuk melindungi macan tutul dan ternak.

Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju kota ziarah Budha, Kataragama yang berbatasan dengan Taman Nasional Yala, untuk mengunjungi biara kuno Sithulpawwa Rajamaha Viharaya, yang dibangun pada abad ke-2 SM oleh Raja Kavanthissa.

Selama lebih dari 2.000 tahun biara ini adalah tempat ibadah serta pusat pendidikan bagi para biksu Budha. Ditempat ini ada patung batu Budha dan Bodhisattva, kuil gua, lukisan zaman Anuradhapura, dan beberapa stupa (monumen yang menampung relik suci Budha). Di lembah di bawah kuil terdapat sebuah gua yang dihiasi dengan lukisan dinding dan prasasti, dengan patung Budha besar di satu sisi.

Puncak Sithulpahawwa setinggi 122 meter disebut “bukit pikiran tenang.” Untuk mencapainya sangat sulit karena harus melalui terowongan dan jalan berdebu yang berliku menuju puncak sambil menikmati pemandangan yang menakjubkan.

Menikmati beberapa hari di Yala dan melihat binatang-binatang di habitat alami mereka adalah sangat menyenangkan. Kunjungan berikutnya adalah melihat gajah besar berkumpul di Taman Nasional Minneriya di Sri Lanka utara. Selama musim kemarau, kurang lebih 300-400 ekor gajah berkumpul ke Minneriya untuk minum air dan rumput segar, karena ditempat lain semuanya telah mengering. Ini merupakan tempat pertemuan gajah Asia terbesar dunia. (epochtimes/mohrezaamirinia/bud/may)