Dengan suasana hati gembira kami mendarat di Moskow, kota keberangkatan Viking River Cruise kami yang akan menyusuri “Waterways of the Tsars”. Kehangatan temperatur musim semi, langit biru cemerlang – menambah kesan baik pada kunjungan pertama kami ke ibukota Rusia.
Ketika mayoritas teori setuju bahwa nama Moskow berasal dari Sungai Moskwa, pemandu Viking Cruise kami punya pendapat lain yang romantis. Dia mengklaim nama kota itu berasal dari Pangeran Musco dan istrinya nan rupawan, Via; disatukan menjadi Muscovia. Entahlah mana yang benar, namun yang tidak dapat dipungkiri: Kota ini memiliki masa lalu penuh perang, wabah, kelaparan, dan kebakaran sejak didirikan secara resmi di tahun 1147 oleh Pangeran Rusia, Yury Dolgoruky.
Sejarah kejayaan Moskow benar-benar dimulai dengan dibangunnya Kremlin oleh Pangeran Dolgoruky di tahun 1150. Kremlin berarti benteng dalam bahasa Rusia, dan konstruksi aslinya terbuat dari kayu, material yang saat itu mudah didapat dari hutan sekitarnya. Kayu sebagai sumber daya yang melimpah dan telah digunakan untuk konstruksi banyak bangunan dan jembatan; bahkan jalanan pun dibuat dari kayu, membuat kota tersebut rentan terhadap ancaman kebakaran. Dalam banyak peristiwa, Kota Moskow terbakar habis dan harus dibangun kembali, yang mungkin menjelaskan kurangnya nuansa “kota tua”.
Moskow adalah kota penuh bangunan-bangunan besar dengan ruang terbuka luas dan sejumlah taman-taman kota dan area hijau yang mengejutkan. Bangunan dari era Stalin yang bergaya monumental masih mendominasi, namun kini diseling gedung pencakar langit baru. Svetlana, pemandu kami, dengan bangga menunjukkan kelompok lima tower baru yang bersinar di sepanjang garis sungai.
Karena ruang terbuka yang demikian luas, blok-blok apartemen kaku berlantai lima dari era komunis Soviet yang didominasi warna abu-abu menyebar dari pusat seperti jaring laba-laba. Belakangan dalam pola melingkar bermunculan komplek perumahan baru, dengan arsitektur yang lebih bergaya dan ramah.
Moskow dengan luas 965 mil persegi dianggap sebagai kota terbesar di dunia, penduduknya antara 12,5 hingga 15 juta jiwa termasuk yang tinggal di pinggiran kota. Moskow adalah ibukota sekaligus pusat budaya, industri, politik, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan olahraga. Menurut Svetlana, segala sesuatu di Moskow adalah “yang terbaik, yang terbesar, yang terhebat.” Kebanggaannya sebagai warga terselip hampir di setiap kalimat.
Metro Moskow yang Terkenal
Setelah mencoba kereta bawah tanah di seluruh dunia, saya ingin mengunjungi Metro Moskow yang mendapat banyak pujian. Bagi pemandu kami, Svetlana adalah tugas berat untuk memimpin sekelompok wisatawan asing yang berjalan sambil lirik kiri kanan ke sistem transportasi cepat yang mengangkut lebih dari 8 juta penumpang setiap harinya. Metro dibuka untuk umum pada tahun 1935 dengan 13 stasiun; sekarang telah menghubungkan 214 stasiun. Lebih banyak lagi stasiun baru dalam tahap perencanaan; jaringan akan diperluas hingga ke pinggiran kota yang terus berkembang.
Kecuali anda tahu di mana pintu masuk Metro, bagi orang asing cukup sulit untuk menemukannya karena satu-satunya petunjuk tampaknya huruf “M” di depan salah satu bangunan besar. Sekali berada di dalam, terima kasih kepada Svetlana yang terus menghitung jumlah grup, kami memulai perjalanan panjang, turun hingga ke tingkat di mana kereta bawah tanah beroperasi. Rupanya Stasiun Aeroport (Bandara) di lini warna hijau – tidak hanya yang terdalam tetapi juga salah satu yang terdekorasi paling indah. Perjalanan memakan waktu beberapa menit dengan eskalator berkecepatan tinggi yang turun begitu curam dan dalam sehingga anda tidak dapat melihat dasarnya.
(Barbara Angelakis)
Biaya besar dikeluarkan untuk menjadikan Metro Moskow yang terindah di dunia. Di Stasiun Aeroport, marmer tujuh warna yang berbeda dan bebatuan dari Pegunungan Ural melapisi dinding, dan di setiap lengkungan pintu masuk ke kereta berdiri patung-patung perunggu heroik yang menakjubkan. Salah satunya adalah patung seorang prajurit yang memegang senjata – terlihat demikian hidup dengan ujung laras usangnya terlihat tergosok mengkilap karena begitu banyak warga Moskow yang melintas berusaha menarik-nariknya.
Frekuensi kereta cukup tinggi dan kami sebagai grup berhasil berkeliling ke Stasiun Mayakovskaya, yang dihiasi dengan mosaik menakjubkan pada langit-langit yang menggambarkan peristiwa bersejarah. Perhentian terakhir kami adalah Stasiun Teatralnaya, di mana kami ke luar tepat di pusat kota, dekat dengan Lapangan Merah, Teater Bolshoi, Katedral St. Basil, Kremlin, dan Pusat Perbelanjaan Gum yang terkenal.
Kremlin
Kremlin dianggap sebagai jantung kota. Dibangun kembali dari bata merah dengan 20 gedung dan 19 menara pada akhir abad ke-15, Kremlin tetap menjadi kompleks instansi-instansi negara, istana-istana dan gereja-gereja berkubah emas yang mengesankan. Katedral Annunciation saja memiliki sembilan kubah emas. Di komplek itu ada berbagai museum dan biara untuk dikunjungi, jembatan penyeberangan, gereja-gereja berkubah emas yang berlimpah untuk difoto kontras dengan langit biru yang sangat jernih, dan orang-orang seperti kami. Dan saat pulang, tak lupa kami mampir di toko oleh-oleh dan membawa kenangan akan apa yang kami lihat dalam bentuk suvenir yang memikat dibawah ini:
(theepochtimes/barbara angelakis/mer/kar)

