Site icon NTD Indonesia

North Cape, Dimana Mentari Tak Pernah Terbenam

North-Cape (mundycruising.co.uk)

North-Cape (mundycruising.co.uk)

Orang Norwegia menyebutnya Nordkapp, alias Semenanjung Utara, terletak di paling ujung dari wilayah Finnmark, serta berbatasan dengan Finlandia dan Rusia. Sebelum adanya bandara Honningsvåg di Valan (yang berjarak sekitar 31 kilometer dari North Cape), wisatawan harus menempuh ribuan kilometer perjalanan darat maupun dengan feri untuk mencapai lokasi wisata ini.

Apa sih spesialnya North Cape? Mengapa ribuan wisatawan setiap tahunnya jauh-jauh berkunjung ke tebing datar yang ujungnya lumayan curam dan memiliki ketinggian sekitar 307 meter dari permukaan laut itu?

Pertama-tama, North Cape pernah disebut sebagai titik paling utara dari daratan Eropa (monumen bola dunia di atas tebing melambangkan hal tersebut), berada di koordinat 71° Lintang Utara, sejajar dengan utara Alaska dan Siberia. Sekarang Knivskjellodden telah menggantikannya, sekitar 1500 meter lebih utara lagi dibanding North Cape. Namun, dengan segala kelebihan infrastrukturnya, North Cape masih memegang simbol “paling utara dari daratan Eropa” hingga hari ini.

Kemudian, North Cape juga merupakan pertemuan antara Samudra Atlantik dan Samudra Arktik. Namun, yang paling spektakuler belumlah disebut: tempat wisata alam ini, pada musim panas antara pertengahan Mei hingga akhir Juli, merupakan salah satu lokasi terbaik di dunia untuk menikmati “Midnight Sun” : matahari di tengah malam alias matahari yang tak kunjung terbenam.

Ketika pertama kali menyaksikan fenomena “Midnight Sun”, penulis merasa sungguh terkesan. Bagaimana tidak, di atas tebing karang itu kita dapat membaca tanpa bantuan penerangan/lampu apa pun, meskipun jam telah menunjukkan pukul 11 malam. Kemudian langit secara perlahan mulai meredup, gema suara para wisatawan pun meredup sejenak, namun ‘kegelapan’ yang tidak sungguh-sungguh gelap itu hanya berlangsung sekitar dua jam, dan saat jam menunjukkan pukul 2 pagi, terangnya adalah mirip pukul 8 pagi di hari yang cerah di Indonesia.

Di sisi lain, bila dipikirkan sesungguhnya ada banyak hal yang kita bisa syukuri dengan cuaca di Indonesia. Pikiran awal penulis saat pertama kali menikmati “midnight sun” barangkali terlampau sederhana: wah asyik, selain bisa membaca – tengah malam bisa barbeque dan bikin telur ceplok di luar. Tetapi saat duduk kembali di bus, terbayang akan musim dingin yang ekstrem, cuaca yang terus-menerus gelap selama beberapa bulan, ditambah angin kencang dan udara dingin, bukankah juga dapat membangkitkan perasaan jemu tertekan bagi banyak orang?

Tetapi bagaimanapun, menurut penulis – Nordkapp adalah tebing yang indah penuh inspirasi, tebing refleksi diri. Betapa tidak, sejauh mata menerawang, terhampar samudera yang luas, hingga menyentuh bibir horison di kejauhan. Ombak lautan yang bagai refleksi riak-riak kehidupan, ditemani hembusan angin yang bagai pengelana bebas, saat itu terkilas: Ahh, kita manusia betapa hanyalah setitik debu kecil di tengah kebesaran dan keabadian alam semesta… dan sinar mentari “malam” pun mengiringi perjalanan bus kami pulang ke Selatan.

(ntdindo.com/karnadi nurtantio)