Salah satu suku di Thailand adalah Kayan atau Padaung. Berasal dari Myanmar, suku ini populer di seluruh dunia karena para wanitanya mengenakan setumpuk kalung di leher mereka. Menurut perkiraan, terdapat sekitar 600 suku Kayan di Thailand, sementara populasi komunitas global diperkirakan sekitar 130.000.
Tiba di Thailand
Suku Kayan aslinya adalah suku “Karen Merah” dari Myanmar. Pada awal 1980-an, konflik antara suku Kayan dan tentara Myanmar meningkat. Ketika jalan damai mengalami kegagalan, komunitas Kayan mulai melarikan diri ke perbatasan Thailand dan akhirnya menetap disana.
Pemerintah Thailand memberi mereka akses masuk ke negaranya bukan sebagai pengungsi, namun sebagai migran ekonomi. Namun, sebagai gantinya sebagian besar Suku Kayan baik pria maupun wanita tidak diizinkan meninggalkan desa “buatan” mereka tanpa kartu identitas Thailand. Dan karena mereka sebenarnya bukan warga negara Thailand, mereka memiliki akses yang sangat terbatas ke infrastruktur dan fasilitas publik seperti air, listrik, pendidikan dan kesehatan.
Keberadaan wanita Kayan berleher panjang yang menarik pusat perhatian para wisatawan mancanegara dimanfaatkan oleh komunitas ini sebagai peluang mata pencaharian.
Sekitar 400.000 wisatawan mengunjungi suku Kayan setiap tahun dan mereka harus membayar antara Rp 120.000 rupiah-240.000 untuk masuk ke desa tersebut.
Namun, bukan suku Kayan yang mengelola uang tersebut, melainkan pemilik desa (penduduk asli Thailand). Suku Kayan tidak menerima uang tersebut. Mereka mencari nafkah dari berjualan kerajinan tangan dan berfoto dengan wisatawan. Orang-orang di desa menerima tunjangan dasar, dan para wanitanya mendapat gaji tambahan karena mengenakan kalung kuningan.
Wanita berleher panjang
Tak seorangpun tahu mengapa wanita Kayan mengenakan gulungan kalung di leher mereka. “Beberapa rumor mengatakan, kalung itu memberi perlindungan dari serangan harimau yang mengincar leher, sementara yang lain menganggap hal itu merupakan cara untuk mencegah orang asing menculik wanita Kayan, kalung itu untuk mengurangi kecantikan mereka. Namun, ada juga yang beranggapan sebaliknya, keindahan dan kebanggaan leher panjang wanita kayan memberikan suku Kayan berkah Ilahi,”menurut Sinchi.
Namun, tidak semua suku Kayan suka mengenakan kalung. Beberapa wanita memakainya karena kebutuhan ekonomi. Para wanita yang memakai kalung kuningan juga tidak diizinkan untuk berkomunikasi dengan para wisatawan. Siapa pun yang ketahuan melanggar bisa terancam penurunan upah.
Meski penggunaan ponsel dan computer dilarang namun beberapa gadis Kayan ada yang menggunakan internet. Hal ini telah menyebabkan perubahan besar pada generasi muda perempuan saat ini, dengan beberapa dari mereka bahkan melepas kalung, ada juga yang berharap bisa mengunjungi tanah asing.
Pemilik desa umumnya geram dengan kelakuan gadis-gadis itu. Mereka berpendapat bahwa menolak mengenakan kalung akan merusak “daya tarik” desa. Namun dengan fakta para wanita tidak diizinkan kerja di tempat lain karena status pengungsinya, mereka yang menolak mengenakan kalung akan menghadapi kehidupan yang keras.
Meskipun banyak wisatawan berpendapat tidak etis mengunjungi desa Kayan karena kunjungan mereka membuat para perempuan terikat pada tradisi, pada kenyataannya kunjungan wisatawan adalah alasan utama para perempuan dapat menikmati sedikit kebebasan yang mereka miliki. Tanpa pendapatan dari wisatawan, masyarakat mungkin akhirnya diabaikan oleh pihak berwenang. (visiontimes/feb/may)

