Venesia, kota paling cantik dan romantis di timur laut Italia ini, bukanlah kota terapung dan dikelilingi Laut Adriatik, tetapi lebih tepat adalah kota di atas pulau-pulau kecil yang dikelilingi oleh laguna.
Pulau-pulau kecil tersebut mulai dihuni 1600 tahun lalu, saat itu bukan karena keindahannya, tetapi karena penduduk Veneti – perlu menghindari serangan suku-suku agresor seperti Vandals (kata ‘Vandalisme’ berasal dari mereka), Huns, Lombards, dan lainnya. Alkisah kehidupan di atas pulau-pulau yang dikelilingi laguna tersebut sebenarnya sangatlah sulit, kebutuhan air hanya mengandalkan curah hujan, karena air laguna sudah tercampur air asin, sehingga tidak cocok dijadikan sumber air minum. Di musim dingin ancaman gelombang laut, di musim panas ancaman malaria, namun mereka setidaknya dapat selamat dari serangan dan penjarahan suku-suku liar tersebut, karena suku-suku liar tersebut umumnya punya kuda, tapi tidak mengerti cara membuat perahu!
Belakangan perekonomian Venesia terus semakin berkembang, awalnya melalui perikanan dan transportasi laut, kemudian penambangan garam dalam kolam-kolam. Garam ini ternyata dapat diperdagangkan dengan harga tinggi, sehingga saat itu disebut sebagai ‘emas putih’, yang kemudian melahirkan saudagar-saudagar baru yang makmur dan seterusnya, seterusnya. Kemakmuran warga kota ini bisa terlihat pada bangunan-bangunan indah yang memenuhi seluruh penjuru kota.
Namun, yang membuat kota ini sangat unik adalah, bila kota-kota lain di dunia didominasi alat transportasi mobil, maka Venesia yang didominasi jalan-jalan sempit, mengandalkan jalan kaki, atau bila lokasi jauh mengandalkan transportasi air.
Tur jalan kaki bisa dimulai dari alun-alun Basilica San Marco, atau Doge’s Palace (Palazzo Ducale), kemudian lanjut melihat gedung ikonik Teatro la Fenice, jembatan Rialto, dan banyak bangunan cantik lainnya. Setiap sudut jalan di kota ini seperti museum, menyimpan pesona tersembunyi sendiri, yang menanti untuk anda temukan. Kota ini memiliki lebih dari 400 jembatan dan 150 kanal, yang menghubungkan seluruh bagian kota. Dan sejak abad ke-16, jembatan-jembatan tersebut dibangun berbentuk busur dan terbuat dari bebatuan.
Tantangan Masa Depan
Pemeliharan kanal tentunya menjadi faktor yang amat penting, terutama upaya pengerukan untuk menghindari pendangkalan jalur transportasi air tersebut. Belum lagi pencemaran air kanal akibat limbah rumah tangga ataupun industri kecil.
Konon dahulu anak-anak lazim berenang di kanal-kanal sempit tersebut. Bila dibayangkan, tentu merupakan masa-masa yang indah, bisa bermain air dan berenang bersama anak-anak tetangga.
Setelah sekian ratus tahun mengalami kejayaan dan kemakmuran, kota ini mulai mengalami penurunan tingkat permukaan tanah, terlihat dari makin seringnya terjadi banjir di sana, terutama saat musim dingin dan bulan purnama, ketika permukaan air laguna meningkat drastis karena limpahan air laut Adriatik. Belum lagi masalah pengikisan air laguna yang mengancam kondisi bangunan-bangunan tua di sana. Upaya konservasi dan pelestarian tentunya terus dilakukan pemerintah Italia.
Terlepas dari semua ancaman di atas, kota Venesia dengan jaringan kanal dan jembatan lengkungnya, serta jalanan kecil namun cantik dan bangunan-bangunan sejarah dengan arsitektur berkelas tinggi serta indah, tetap merupakan kota wisata top dunia. Bila ada kesempatan, anda bergegaslah dan pasti tidak akan menyesal menjejakkan kaki di sana, setidaknya sekali seumur hidup.
Meraviglia Venezia! (ntdindonesia.com/karnadi nurtantio)

