Dataran Tinggi Tibet amatlah menawan, bukan saja dari pemandangan alam pegunungan saljunya yang indah sehingga mendapat gelar Negeri Salju, tetapi juga karena sejarah, keragaman manusia dan budayanya. Selain orang-orang Tibet sendiri, banyak pula suku etnis berbeda yang menetap di dataran tinggi tersebut. Yang umumnya kita kenal adalah etnis Sherpa, menjadi terkenal karena banyak yang menjadi pemandu ekspedisi ke puncak-puncak Himalaya; namun ada banyak etnis lainnya seperti Tamang, Monpa, Hui dan sejak dikuasai oleh komunis Tiongkok pada 1951, tentunya ada banyak warga Han.
Dengan ketinggian rata-rata 4900 meter, tentu flora dan fauna yang dapat bertahan hidup di ketinggian ekstrem tersebut sangatlah berbeda. Para pendaki gunung tentu sudah mengenal fenomena ‘altitude mountain sickness’ yang terjadi karena rendahnya kadar oksigen di ketinggian – dengan gejala seperti pusing, muntah, terus-menerus tidur, atau sebaliknya lelah tapi sulit tidur, hal yang dapat terjadi pada siapa pun di ketinggian lebih dari 3000 meter. Meskipun ada obat-obatan untuk mengurangi gejala, tetapi sesungguhnya turun ke dataran yang lebih rendah, adalah obat penawar yang tak dapat ditawar. Dan bagi para wisatawan, apalagi yang bukan terbiasa hidup di gunung, ada baiknya melakukan aklimatisasi, yaitu naik ke daerah yang lebih tinggi secara bertahap. Karenanya travel ke dataran tinggi di atas 3000 meter, selain melengkapi diri dengan pakaian, sepatu, penutup kepala yang sesuai – kita sebaiknya budget waktu perjalanan yang lebih lama, tidak dilakukan tergesa-gesa agar tubuh kita juga dapat menyesuaikan diri dengan ketinggian dan tipisnya oksigen.
Berbeda dengan tujuan wisata lainnya, travel ke Tibet tidaklah bebas, hal ini barangkali dapat dimengerti karena saat ini Tibet di bawah pemerintahan komunis Tiongkok. Menurut peraturan dari Tibet Tourism Bureau, kita tidak diperkenankan untuk berwisata secara independen ke Tibet sehingga wajib menggunakan jasa agen perjalanan setempat yang berlisensi, setiap kunjungan ke biara, obyek-obyek wisata lainnya wajib didampingi pemandu wisata resmi. Wisatawan asing selain wajib memiliki visa Tiongkok juga wajib memiliki ‘Tibet Entry Permit’ yang hanya berlaku untuk Lhasa dan sekitarnya, jika ingin ke daerah lain, harus meminta ijin lainnya, yang disebut ‘Alien Travel Permits’.
Kemudian jika pengunjung asing adalah seorang diplomat, jurnalis atau staf media, maka diperlukan ijin khusus. Dan patut dicatat, setiap akhir Februari hingga akhir Maret, Tibet umumnya tertutup bagi kunjungan wisatawan asing. Itu adalah hari-hari yang dianggap pemerintah komunis Tiongkok sebagai “hari sensitif” karena menjelang perayaan Tahun Baru Tibet.
Selain itu, beberapa tempat wisata sakral bagi umat Buddha seperti Lhamo La-tso, juga tidak dapat diakses oleh wisatawan asing.
Wah demikian sulit yah? Bagaimana dengan Mount Everest, setidaknya ingin ke Mount Everest Base Camp di ketinggian sekitar 5000-an meter? Tidak kecuali, ini memerlukan ‘Tibet Entry Permit’, ‘Border Pass’ dan ‘Alien Entry Permit’.
Bagi yang punya mimpi atau keinginan – setidaknya sekali dalam seumur hidup melihat Mount Everest, puncak tertinggi di dunia – alternatif yang lebih mudah bagi warga Indonesia sesungguhnya adalah Nepal. Pemegang paspor Indonesia akan mendapatkan ‘Visa on Arrival’ saat tiba di Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu. Tapi barangkali itu info perjalanan lain, Namaste. (ntdindo.com/karnadi nurtantio)

