Tag: derajat

  • PODCAST Kisah Nelayan Tua yang Jelek

    PODCAST Kisah Nelayan Tua yang Jelek

    Saya memiliki rumah yang lokasinya tepat di seberang sebuah rumah sakit besar. Saya menjadikan rumah saya sebagai penginapan.

    PODCAST

    Banyak pasien yang datang dari luar kota untuk berobat. Dan keluarga para pasien sering menginap di rumah saya.

    Suatu malam, ada seseorang mengetuk pintu. Ternyata itu adalah seorang pria tua.

    Di bawah cahaya lampu, saya bisa melihat kalau wajahnya agak aneh.

    Dia berkata: “Selamat malam, saya ada jadwal berobat besok pagi, bolehkah saya menginap malam ini di tempat Anda? Saya sudah mendatangi beberapa tempat, namun mereka semua menolak saya, mungkin karena wajah saya. Tidak masalah jika saya tidur di kursi beranda depan.”

    Saya menyanggupi permintaannya. Saya pun memintanya duduk di beranda, dan kami bercakap-cakap sebentar, karena saya ingin mengetahui tentang kisahnya. 

    Ternyata ia adalah seorang nelayan dari pesisir pantai. Ia menderita penyakit kulit hingga wajahnya tampak aneh. Ia menjadi nelayan untuk menghidupi istrinya yang lumpuh, dan ketiga anak mereka.

    Namun si nelayan tidak tampak bersedih. Ia bahkan berkata, bahwa ia bersyukur ia masih bisa bekerja. 

    Keesokan harinya, sebelum berangkat ke rumah sakit, ia hendak membayar biaya penginapan, namun saya menolaknya. Saya berkata bahwa saya hanya menyewakan kamar, dan bukan kursi beranda. Ia pun membungkuk berterima kasih dan bertanya: “Apakah saya boleh menginap disini lain kali?” 

    Saya mengangguk. 

    Minggu depannya, ia datang kembali, kali ini mengetuk pintu rumah saya dengan beberapa ekor ikan segar di tangannya. Ia berkata bahwa ia baru saja menangkap ikan-ikan tersebut, dan hendak memberikannya pada saya sebagai tanda terima kasih. 

    Kejadian itu berulang selama beberapa minggu berikutnya, selama terapi pengobatannya di rumah sakit. Setiap datang, ia selalu membawa buah tangan berupa ikan-ikan segar, dan tanpa terasa, kami telah menjadi sangat akrab.

    Suatu hari, ia pamit untuk pulang dan berkata bahwa terapi pengobatannya telah selesai. Saya melepasnya dengan berat hati, dan merasa kehilangan seorang teman yang berhati emas. 

    Hari demi hari berlalu. Pada suatu hari, saya mengunjungi rumah teman saya yang memiliki kebun bunga yang sangat indah. 

    Di beranda rumahnya, saya melihat bunga yang sangat cantik, di dalam pot besi karatan yang sangat jelek. 

    Saya bertanya padanya:  “Mengapa bungamu yang sangat cantik ini ditanam di pot yang sangat jelek?” 

    Teman saya melihat bunga tersebut, dan tertawa: 

    “Ooo, pot itu? Haaa… memang jelek ya! Kebetulan saya kehabisan pot. Pot itu hanya sementara, saya berencana menanam bunga itu langsung di taman bunga saya. Tenang saja, pot kan cuma kulit luar! Yang penting, kecantikan bunga itu akan bersinar dimanapun ia ditanam! Kamu tahu filosofi itu, kan? 

    Saya tertegun sejenak mendengar kata-kata bijaknya. Setelah berpikir sejenak, saya tersenyum dan berkata:

    “Ya, saya tahu! Bunga cantik itu adalah persis seperti teman saya, si nelayan!” 

    Jiwa yang cantik tidak akan pupus auranya walaupun berada didalam tubuh yang kurang indah. Jiwa yang indah akan bersinar dimana pun ia berada, dan pada waktunya nanti, jiwa tersebut akan dipindahkan dari pot yang jelek ke Taman Tuhan yang indah. 

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • PODCAST Kekuatan Hati Nurani dan Akal Sehat

    PODCAST Kekuatan Hati Nurani dan Akal Sehat

    https://youtu.be/ujY-BzyozJ8

    Ada seorang guru spiritual yang sangat terkenal. Dia memiliki banyak murid dan sangat dihormati banyak orang.

    PODCAST

    Suatu hari, ada seorang muridnya yang penasaran akan karakter asli guru tersebut, dan memanggil seorang pembaca wajah, untuk membaca wajah sang guru. Sang guru pun mengijinkannya.

    Si pembaca wajah berkata: 

    “Bentuk wajah orang ini, menandakan dia serakah. Bentuk kepala orang ini, menandakan dia jahat.”

    Murid-murid sang guru menjadi marah, dan ingin mengusir si pembaca wajah.

    Namun sang guru menahan mereka, dan mempersilahkan sang pembaca wajah untuk meneruskan.

    Si pembaca wajah berkata: “Dilihat dari bentuk hidungnya, orang ini kikir. Dilihat dari bentuk bibirnya, orang ini suka berbohong.”

    Sang guru kemudian berterima kasih, dan pembaca wajah itu pun pergi.

    Murid-muridnya merasa heran, mengapa sang guru tidak marah, dan malah mengucapkan terima kasih.

    Jadi seorang murid bertanya: “Guru, dia mengatakan hal-hal buruk tentang anda, mengapa guru diam saja? Saya sendiri sudah menjadi murid guru bertahun-tahun, dan semua yang dikatakan pembaca wajah itu adalah bohong, saya tidak pernah melihat satu kali pun, guru bersifat atau melakukan seperti yang dia katakan.”

    Sang guru kemudian berkata: “Apa yang dikatakan pembaca wajah itu, semuanya adalah benar, sifat asli saya memang adalah seperti itu. Namun, si pembaca wajah itu tidak bisa membaca satu hal, bahwa selain sifat asli, seorang manusia memiliki hati nurani dan akal sehat. Saya memang aslinya bersifat buruk, namun dengan hati nurani dan akal sehat yang saya miliki, saya bisa mengendalikan semua sifat buruk itu.”

    Tidak ada seorangpun yang sempurna. Semua orang sangat mungkin memiliki sifat yang buruk, namun setiap orang juga memiliki hati nurani dan akal sehat, serta menggunakan keduanya untuk mengekang sifat-sifat buruknya.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.