Tag: diktator

  • Ahli: PKC Tidak Akan Bantu Iran, Sekutu Terbesarnya di Timur Tengah

    Ahli: PKC Tidak Akan Bantu Iran, Sekutu Terbesarnya di Timur Tengah

    Serangan AS-Israel ke Iran telah melenyapkan hampir semua pemimpin senior di rezim tersebut. Namun sekutu terdekat Iran, China dan Rusia, belum menawarkan dukungan apapun selain gestur diplomatik. Analis urusan China Tang Jingyuan memberikan ulasannya tentang langkah Beijing selanjutnya serta apa arti serangan tersebut pada agenda Partai Komunis China.

    China, Iran, Rusia dan Korea Utara secara luas dipandang di Barat sebagai poros kejahatan baru. Aliansi ini telah lama berupaya menggulingkan tatanan dunia yang dipimpin AS. Pemimpin rezim China Xi Jinping berulang kali menekankan agenda globalnya sejak 2021, menyatakan timur sedang bangkit dan barat sedang melemah, dan bahwa Iran adalah sekutu terbesar China di Timur Tengah.

    Analis urusan China Tang Jingyuan berkata serangan ke Iran bisa menghancurkan rencana Beijing mencapai dominasi global.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “Iran adalah pijakan utama Beijing di Timur Tengah dan pengaruh utamanya pada AS. Perubahan rezim di Iran, terutama ke pemerintahan pro-AS, adalah pukulan besar bagi PKC, membatalkan investasi regional bertahun-tahun. Serangan AS dan Israel yang mengancam rezim Iran dapat menandai awal fragmentasi poros ini.”

    Beralih ke energi, China sangat bergantung pada impor minyak. China adalah pembeli minyak terbesar dari Venezuela, Rusia, dan Iran, yang semuanya menghadapi sanksi Barat yang serius. Data resmi menunjukkan 80% ekspor minyak Iran menuju China. Serangan pada Iran telah mempertaruhkan keamanan energi China, setelah pengambil-alihan minyak Venezuela oleh AS. Tang berkata pengetatan kontrol atas pasokan energi China dapat mengurangi kemampuan Beijing memperluas agresi globalnya.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “PKC tidak swasembada energi dan telah lama mengejar strategi diversifikasi demi menghindari ketergantungan pada satu pemasok tunggal. Pendekatan pemerintahan Trump bertujuan secara sistematis membatasi saluran impor energi China. Jika jalur dipersempit ke satu atau dua sumber, keamanan pasokan Beijing akan sangat melemah. Tanpa akses energi yang stabil, kapasitas PKC untuk ekspansi eksternal akan sangat dibatasi.”

    Tetapi akankah Beijing memberikan dukungan militer ke Iran? Tang berkata dia percaya peluangnya sangat kecil, karena China tidak ingin meningkatkan ketegangan dengan AS menjelang kunjungan Presiden Trump ke China bulan depan. Ditambah lagi sekarang sedang terjadi pembersihan militer skala besar dan terjadinya peningkatan pertikaian politik internal PKC.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “Xi Jinping menghadapi tekanan domestik dan internasional yang telah melemahkan posisinya. Undangannya ke Trump untuk mengunjungi China menunjukkan ia berharap menggunakan kunjungan itu demi memperkuat kedudukannya. Jika ia membantu Iran, ini berisiko menyebabkan keretakan langsung dengan Trump, bahkan berpotensi Trump membatalkan perjalanan tersebut. Di saat yang sama, PKC paham bahwa serangan terbaru AS-Israel ke Iran mencerminkan tekad yang kuat. Jika Trump bertindak, kemungkinan besar ia bertekad mengamankan hasil yang menentukan. Dukungan militer China yang terbatas ke Iran sepertinya tidak akan mengubah situasi, bahkan menjadi bumerang bagi Beijing.”

    Tang berkata PKC pasti akan memprioritaskan kelangsungan hidupnya sendiri daripada sekutunya di saat-saat kritis. Hanya beberapa minggu yang lalu, Beijing juga menahan dukungan bagi teman dekatnya diktator Venezuela Nicolas Maduro saat ia ditangkap oleh pasukan AS.

    Flora Hua, NTD News.

  • Pemimpin Iran Berencana Kabur Ke Moskow Jika Protes Meningkat

    Pemimpin Iran Berencana Kabur Ke Moskow Jika Protes Meningkat

    Pemimpin tertinggi Iran mungkin merencanakan pelarian atas kerusuhan yang menyebar di seluruh negeri. Sebuah laporan dari Times pada hari Minggu berkata Ayatollah Ali Khamenei bermaksud melarikan diri ke Rusia jika pasukan Iran tak dapat lagi menahan protes.

    Protes anti-rezim kini memasuki minggu kedua di seluruh Iran dengan para demonstran menyerukan diakhirinya rezim. Sebuah kelompok HAM di Iran mencatat jumlah korban tewas mencapai 25 orang, sementara lebih dari 1,000 orang telah ditangkap.

    Protes telah meletus di lebih dari separuh provinsi Iran, menghadirkan tantangan terbesar bagi rezim sejak 2022. Sementara itu, Iran menghadapi tekanan yang meningkat di berbagai bidang seperti krisis ekonomi hingga sanksi AS pada ekspor minyak negara itu.

    Iran terikat erat dengan China, mitra dagang terbesarnya, tetapi para analis berkata hubungan itu rapuh. Perwakilan AS Brian Mast berkomentar hubungan China-Venezuela sangat relevan dengan hubungan China-Iran.

    [Brian Mast, Perwakilan AS]:

    “Pesan yang dikirim kepada para diktator di seluruh dunia dan para teroris di seluruh dunia adalah bahwa China bukanlah perlindungan Anda. Anda tidak mendapatkan perlindungan dari mereka; mereka mungkin menjual barang murah, tetapi mereka juga menjual persahabatan yang murahan.”

    Presiden Trump memperingatkan Iran bahwa setiap serangan pada para demonstran dapat mengakibatkan respons keras dari AS. Beberapa tokoh oposisi di Iran menambahkan bahwa warga Iran secara terbuka menyerukan AS dan Israel untuk membantu melawan penindasan rezim.

    Stiker di mobil, bus, dan tempat umum bertuliskan “Trump! Iran sedang menunggu Anda.” Para pejabat Iran memberitahu Reuters bahwa rezim kehabisan ruang untuk bermanuver. Sebuah sumber intelijen mengatakan pada Times bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dapat melarikan diri bersama ajudan dan keluarganya jika pasukan keamanan membelot. Ia dilaporkan akan menuju Moskow mengikuti jejak sekutunya, mantan pemimpin Suriah Bashar al-Assad, yang melarikan diri dari Damaskus sebelum pasukan oposisi merebut kota itu pada Desember 2024.