Tag: empat

  • Empat Peringatan dari Dewa Kematian

    Empat Peringatan dari Dewa Kematian

    Ada seorang pria yang sangat takut akan kematian. Sepanjang waktu, dia selalu berpikir, “Saya bisa mati kapan saja. Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya bisa menghindari itu?”

    Dia terus berpikir dan berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk mengundang Dewa Kematian dan bertanya kepadanya.

    Dia selalu berdoa siang malam untuk mengundang Dewa Kematian.

    Suatu hari, Dewa Kematian pun datang, pria ini lalu bertanya: “Dewa Kematian, Anda adalah dewa yang bertugas mencabut nyawa, mungkinkah jika Anda tidak mengambil nyawa saya?”

    Dewa Kematian menjawab: “Wahai manusia, ketahuilah, semua yang hidup pada akhirnya akan mati, semua yang lahir di dunia ini, pada akhirnya harus menghadapi kematian. Ini adalah hukum alam semesta. Tidak ada jalan keluar dari itu.”

    Pria: “Baiklah, kalau begitu, bisakah saya meminta satu hal?”

    Dewa Kematian: “Apa yang ingin kamu minta?”

    Pria: “Sebelum waktunya saya mati, bisakah saya mendapatkan pengingat, agar saya menjadi sadar bahwa masa hidup saya tidak lama lagi, sehingga bisa segera menghabiskan waktu yang tersisa dalam hidup untuk lebih banyak berbuat kebaikan, serta menyembah Tuhan?”

    Dewa Kematian: “Baiklah, itu mudah saja. Saya akan mengirimkan peringatan padamu, bukan hanya satu, tapi 4 peringatan dan jeda waktu diantara peringatan tersebut juga cukup panjang, jadi kamu akan punya kesempatan untuk memperbaiki diri, dan lebih banyak menggunakan waktumu untuk menyembah Tuhan.”

    Mendengar permintaannya dipenuhi oleh Dewa Kematian, pria ini menjadi sangat senang.

    Kini dia menjadi tidak terlalu takut lagi menghadapi kematian. Dia berpikir bahwa dia akan menjalani hidupnya dengan bahagia, dan akan segera bertobat setelah mendapat peringatan dari Dewa Kematian.

    Singkat cerita, beberapa tahun pun berlalu, sang Dewa Kematian datang kembali menemuinya dan berkata: “Hai manusia, saya datang untuk menjemputmu, sudah waktunya kamu ikut denganku, sekarang juga.”

    Pria: “Hah! Bagaimana bisa? Kenapa Dewa membohongi saya dan tidak menepati janji? Bukankah Dewa mengatakan akan mengirimkan 4 peringatan sebelum waktunya saya mati? Mana peringatan itu?”

    Dewa Kematian: “Saya sudah menepati janji saya, saya sudah mengirimkan peringatan bukan hanya satu, tapi empat peringatan.”

    Pria: “Hah? Peringatan yang mana?”

    Dewa Kematian: “Baiklah, dengarkan baik-baik, saya jelaskan padamu.”

    Peringatan pertama, adalah ketika saya mengubah rambutmu menjadi berwarna putih, itu untuk mengingatkanmu bahwa masa mudamu sudah lewat, dan sudah waktunya kamu perlahan-lahan melepaskan pengejaran di masa mudamu, dan mulai lebih banyak beribadah menyembah Tuhan. Tapi kamu tidak peduli, dan malah mewarnai rambutmu kembali menjadi hitam.

    Peringatan kedua, adalah ketika saya membuat penglihatanmu menjadi kabur, itu untuk mengingatkanmu, bahwa jangan lagi terlalu terikat dengan hal-hal duniawi yang terlihat di depan mata. Sudah waktunya kamu mengalihkan pandangan dari hal-hal duniawi, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbuat kebaikan. Namun kamu tidak peduli, malah menggunakan kacamata tebal dan terus saja mengejar hal-hal duniawi yang menurutmu layak dipandang.

    Peringatan ketiga, adalah ketika saya membuat gigi-gigimu menjadi tanggal. Itu adalah untuk mengingatkanmu bahwa sudah waktunya kamu mengurangi keinginan untuk mengejar kenikmatan duniawi, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah dan menyembah Tuhan, namun kamu tidak peduli, kamu memasang gigi palsu dan terus saja berfokus untuk mengejar kenikmatan duniawi.

    Peringatan keempat, adalah ketika saya mulai memunculkan penyakit di tubuhmu, yang memang adalah akibat dari perbuatanmu sendiri di masa lalu. Untuk mengingatkanmu, bahwa jangan lagi berfokus mengejar hal-hal duniawi, dan lebih banyaklah menggunakan tenaga untuk beribadah dan menyembah Tuhan. Namun kamu tidak peduli, dan terus saja menggunakan tenagamu untuk mengejar hal-hal duniawi, tanpa ingat untuk menyembah Tuhan.”

    Pria itu mulai menangis setelah mendengar peringatan-peringatan yang telah dikirimkan dalam hidupnya. Tapi dia tidak menyerah, lalu  mencoba membujuk Dewa Kematian, dia berkata: “Dewa Kematian, seumur hidup saya menghabiskan waktu untuk mengumpulkan harta kekayaan duniawi, dan kini harta saya sangat banyak. Silahkan ambil harta saya dan kembalilah beberapa tahun lagi.”

    Dewa Kematian: “Hahaha, wahai manusia, ketahuilah, hanya mereka yang masih terikat dengan duniawi, yang bisa disuap dengan materi dan harta kekayaan. Jika kamu ingin membuat saya mengubah pikiran, seharusnya kamu lebih banyak mengumpulkan amal kebaikan.”

    Sudah, sekarang waktunya kamu pergi dan ikut bersama saya. Semua harta, uang dan kekayaanmu, tidak satupun yang bisa kamu bawa. Tinggalkan semuanya di sini!”

    Ada kebenaran yang tidak berubah, bahwa semua yang hidup, pada akhirnya akan mati. 

    Harta dan kekayaan, benda materi apapun yang kita kejar dan peroleh di dunia ini, pada akhirnya juga harus kita tinggalkan. 

    Hanya amal dan kebaikan yang akan terus bersama kita, bahkan setelah kita mati. 

    Ingatlah untuk selalu berbuat baik, dan menghindari perbuatan jahat, karena ajal, bisa datang kapan saja, bahkan sebelum kita sempat bertobat. 

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    VIDEO REKOMENDASI

  • Mitos Sejarah: Kaisar Kuning Berwajah Empat

    Mitos Sejarah: Kaisar Kuning Berwajah Empat

    Dikisahkan bahwa semua orang di Tiongkok mempunyai leluhur yang sama: Xuanyuan Huangdi, atau sang “Kaisar Kuning.” Penguasa pertama dari negeri yang kemudian menjadi negeri Tiongkok, masa kekuasaannya dimulai pada tahun 2697 Sebelum Masehi. ketika dia menyatukan suku-suku di wilayah dataran Sungai Kuning di bawah satu pemerintahan.

    Kaisar baru ini mempunyai empat wajah dan bisa memandang negerinya dalam empat arah yang berbeda, dan setiap kali bepergian selalu ditemani oleh iringan hewan-hewan. Dia adalah seorang kultivator Tao, setelah bertahun-tahun, dia turun tahta, meninggalkan urusan kekaisaran kepada menteri-menterinya, dan pergi memenuhi hasratnya untuk mengejar kesempurnaan spiritual. Dia berhasil mendapatkannya, dia naik ke langit dengan menunggangi seekor naga di siang hari bolong, dengan dilihat oleh rakyatnya.

    Campuran kisah fantasi dan kisah sejarah ini menyelubungi ingatan kita akan Huangdi. Dia adalah seorang kaisar, penemu, pendiri kekaisaran, dan juga seorang dewa. Sementara beberapa sarjana masa kini beragumen bahwa dia adalah sebuah legenda yang dicatat dalam sejarah seakan-akan ia manusia yang benar-benar nyata, para sarjana Tiongkok kuno mencatatnya sebagai seorang figur sejarah yang benar-benar ada yang kemudian menjadi legenda.

    Lalu kemudian, apakah dia, nenek moyang semua orang Tiongkok yang berasal dari langit, yang telah bertarung dengan Dewa Angin dan Dewa Hujan dengan bantuan putrinya sendiri, Sang Dewi Kemarau? Atau dia seorang penguasa kuno yang membangun jalan-jalan diantara kerajaan-kerajaan, dan sekarang terkubur di provinsi Shaanxi? Atau dia benar-benar adalah salah satu kultivator Tao yang paling awal tercatat?

    Mungkin dia ada berperan dalam segala hal. Menurut salah satu legenda, dia memerintahkan menterinya Lishou, untuk menciptakan matematika, dan Cangjie untuk mengembangkan sistem karakter tulisan tertua Tiongkok. Istri pertamanya Leizu menemukan sutra dan pengolahan benang sutera. Istri keempatnya Momu membantu menciptakan cermin.

    Dia sendiri memiliki jasa dalam menciptakan berbagai barang berguna seperti kalender dan kompas. Tarian Shen Yun 2006 berjudul Genderang yang Gemilang mengenang kembali legenda tentang bagaimana Kaisar Kuning menciptakan menciptakan genderang-tidak hanya sebagai instrumen artistik tapi juga sebagai instrumen perang. Suara gemuruh genderang perang meningkatkan semangat juang pasukannya dan membuat pasukan musuh berhamburan. Seperti yang dikisahkan dalam legenda, pasukannya sendiri juga terguncang akibat suara gemuruh genderang, maka ia lalu menciptakan guqin dengan senar yang dipetik untuk menenangkan jiwa mereka.

    Mengapa musik dan obat-obatan sangat berkaitan satu sama lain dalam pemikiran orang Tiongkok kuno, mungkin tidak mengejutkan bahwa ternyata dia juga berperan dalam menciptakan karya-karya lain, salah satunya Huangdi Neijing, yang dianggap sebagai risalah medis tertua di Dunia.

    Akhirnya, ada juga hal yang menyatakan bahwa bisa jadi Huangdi adalah nenek moyang banyak orang Tiongkok. Sejarawan Besar, Sima Qian, mencatat bahwa Huangdi memiliki 25 putra, 14 di antaranya mempunyai marga mereka sendiri, memulai banyak klan yang akan mengisi dataran di sekitar Sungai Kuning ribuan tahun kemudian, dan membentuk garis keturunan dari apa yang nantinya akan menjadi Kerajaan Tengah. (shenyun)

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    Lebih banyak informasi tentang Shen Yun silahkan kunjungi: shenyun.com

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Kebijaksanaan Kuno: ‘Wanita Jelek’

    Kebijaksanaan Kuno: ‘Wanita Jelek’

    Di dunia kecantikan instan masa kini, posting Instagram, dan influencer media sosial, adalah mudah untuk melupakan bahwa kecantikan bukan hanya sekedar yang terlihat secara fisik.

    Sementara beberapa orang berpikir bahwa penampilan fisik dan busana membuat seorang wanita menjadi cantik menurut standar saat ini, orang-orang Tiongkok kuno memiliki ide lain, dan “wanita jelek” tidak dijauhi.

    Menurut pepatah bijak tradisional: “Apa yang diinginkan seseorang dari istri bukanlah penampilan tetapi kebajikan. Apa yang diinginkan seseorang dari suami bukanlah kekayaan, tetapi karakter moral.

    Apa yang diinginkan seseorang dari seorang teman bukanlah menjadi kaya, tetapi memiliki hati.” Orang zaman dulu lebih menghargai kebajikan daripada penampilan.

    Pada artikel ini, kita diperkenalkan dengan empat “wanita jelek” terkenal yang kebajikannya berarti mereka dipilih karena kemampuan mereka.

    Penampilan luar mereka tidak membuat mereka tidak menikah dan kesepian seumur hidup. Sebaliknya, kehidupan keluarga mereka bahagia karena kemampuan, kebaikan, kebijaksanaan, dan kecerdasan mereka.

    1. Mo Mu

    Kaisar Kuning memilih istrinya dengan tidak menilai penampilannya. Dia berkata: “Mereka yang mengejar kecantikan daripada karakter tidak benar-benar cantik, sebaliknya mereka yang mengejar kebajikan, tetapi bukan penampilan, adalah berbudi luhur.”

    Jadi dia secara khusus memilih Mo Mu sebagai istrinya, yang berwatak mulia dan berwatak lembut, meskipun wajahnya tidak menarik. Kaisar Kuning adalah nenek moyang pertama dari orang-orang Tionghoa. Legenda mengatakan bahwa Kaisar Kuning yang mengalahkan Yandi karena bantuan dan kebijaksanaan Mo Mu dibalik layar.

    2. Wuyan

    Orang sering menggunakan kata “tampak seperti Wuyan” untuk menggambarkan wanita buruk. “Wuyan” mengacu pada Zhong Lichun, seorang gadis yang tampak tidak menarik di Kabupaten Wuyan, Negara Bagian Qi, selama Periode Negara-Negara Berperang. Namun, wanita ini berbakat, memiliki kebijaksanaan besar, dan peduli dengan urusan negara.

    Zhong Lichun (Wuyan) dipanggil oleh Raja Xuan dari Qi dan menganjurkan raja untuk: “Hancurkan amfiteater, bubarkan penghibur wanita, tolak sanjungan, sampaikan pidato terus terang, perkuat tentara dan kas negara.” Raja Xuan sangat mengaguminya dan menobatkannya sebagai Ratu. Sejak saat itu, keadaan Qi menjadi stabil.

    3. Meng Guang

    Ungkapan “suami dan istri memperlakukan satu sama lain dengan sopan” adalah menceritakan kisah Meng Guang, istri Liang Hong, seorang bijak dari Dinasti Han Timur. Dia mengangkat nampan setinggi alisnya setiap saat menyajikan makanan untuk menunjukkan rasa hormat yang besar kepada suaminya.

    Meng berbudi luhur, tetapi tampak tidak menarik, digambarkan sebagai “gemuk, jelek, dan hitam,” dan mampu “mengangkat lesung batu.”

    Namun, cendikiwan Liang Hong yang terkenal, berbudaya, berbakat, dan tampan justru menyukai karakter Meng dan dengan tegas menikahinya, meskipun banyak pejabat dan keluarga terkenal ingin mengambilnya sebagai menantu lelaki mereka.

    Sehari setelah pernikahan, Meng menanggalkan gaun pengantinnya yang indah, mengenakan pakaian biasa dan mengurus pekerjaan rumah dengan baik. Setelah itu, dia mengikuti Liang untuk hidup menyendiri di Gunung Baling, dimana mereka menjalani kehidupan yang sangat sederhana namun harmonis, dengan pria membajak dan wanita menenun, membaca puisi, dan memainkan alat musik.

    4. Putri keluarga Ruan

    Xu Yun dari Jin Timur dijodohkan dan menikah dengan putri Ruan Dewei, yang memiliki kebijaksanaan besar. Setelah melihat wajah buruk pengantin wanita di malam pernikahan, Xu langsung berlari keluar dari kamar pengantin dan menolak masuk lagi.

    Kemudian, teman Xu, Huan Fan, mengunjunginya dan mengatakan kepadanya: “Pasti ada alasan mengapa keluarga besarmu menikahkanmu bersama dengan seorang putri yang terlihat buruk. Jadi, coba cari tahu tentang istrimu.” Mendengarkan kata-kata Huan, Xu melangkah kembali ke kamar pengantin. Namun, begitu dia melihat wajah istrinya lagi, dia hampir akan menyelinap pergi, tetapi istrinya memegang tangannya.

    Saat berusaha lepas, Xu bertanya kepada istrinya: “Dalam empat kebajikan feminin: kesucian, kesopanan, penampilan, keterampilan menjahit dan memasak yang baik, berapa banyak yang anda mampu?” Tak disangka, istrinya langsung menjawab: “Yang kurang dariku hanyalah kecantikan.

    Tetapi dalam seratus perilaku saleh seorang cendikiawan, berapa banyak yang anda miliki?” Xu menjawab: “Saya memiliki semuanya.” Istrinya berkata lagi: “Yang paling penting diantara perilaku itu adalah kebajikan. Tapi anda lebih memilih penampilan wanita daripada kebajikan. Bagaimana anda bisa mengatakan anda memiliki semuanya?”

    Kebijaksanaan istrinya membuat Xu terdiam. Sejak saat itu, pasangan itu saling menghormati dan mencintai, dan hubungan mereka harmonis. (nspirement)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI