Tag: kacau

  • Merapikan Kesemrawutan

    Merapikan Kesemrawutan

    Lihatlah kamarmu, lihat rumahmu.. Terasa penuh dengan barang dimana-mana? Mungkin Anda adalah seorang penimbun barang. Penimbunan barang merupakan ketidakmampuan untuk berpisah dengan barang apapun, tidak peduli seberapa tidak berharganya benda tersebut. Penimbun tahu bahwa mereka memiliki masalah, serta merasa malu, tapi rasa sayang saat melepaskan benda miliknya terlalu besar.

    Christine Bowman telah menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama para penimbun, baik secara profesional, yakni sebagai penyedia jasa pengaturan yang berbasis di Chicago, maupun saat kecil menyaksikan pertarungan neneknya yang memiliki kebiasaan menimbun barang.

    Dia menggambarkan rumah neneknya sebagai sesuatu yang tidak dapat dipercaya: Jalur lintasan yang sempit dan meliuk- liuk melalui tumpukan perabotan, pakaian, dan barang-barang lainnya, yang memungkinkan ada cukup ruang untuk bergerak dari satu ruangan ke ruangan lainnya.

    “Hanya ada satu mata kompor yang bisa Anda gunakan dan sisanya tertutup barang,” papar Christine. “Anda bisa menggunakan toilet dan wastafel, tapi Anda tidak bisa menggunakan kamar mandi. Benar-benar penuh dengan kotak dan benda.”

    Apalagi dalam kondisi pandemi dimana semua orang kebanyakan di rumah saja, tampaknya kita semua memiliki lebih banyak sampah daripada sebelumnya.

    Kita juga menghadapi tawaran yang sepertinya terlalu bagus untuk dilewatkan, barang elektronik yang wajib dimiliki mungkin lebih baik kita ganti daripada diperbaiki, dan sebuah mantra sakti yang membuat kita memiliki lebih banyak benda akan membuat kita bahagia.

    Kita terus-menerus dirayu iklan untuk membeli, namun jarang mempertimbangkan barang yang benar-benar berarti bagi kita. Christine mengatakan bahwa kesemrawutan sering terjadi ketika orang terlalu sibuk dan kewalahan untuk menghadapinya. “Kita berbelanja dengan cepat sehingga kita tidak sadar akan apa yang benar-benar kita hargai dan yang sebenarnya kita butuhkan.”

    Akar permasalahannya, menurut Don Aslett, penulis Clutter’s Last Stand: It’s Time to De- Junk Your Life (Kesemrawutan Terakhir: Saatnya Membersihkan Hidup Anda), bahwa kita sering dibingungkan kepemilikan dengan persahabatan. Kita begitu terfokus pada kenangan bagaimana kita memperoleh barang itu, nilai nostalgianya atau sayang akan potensinya (“mungkin akan berguna satu hari”) sehingga kita gagal melihat bahwa barang-barang itu telah menambah tempat dalam rumah kita. Karena lebih banyak sampah yang terakumulasi di tempat kita, maka kita menjadi korban Junkicide.

    “Junkicide adalah pencekikan yang lambat dan menyakitkan, serta mematikan indra,” tulis Don Aslett. “Meski otak kita masih utuh, namun kita “tersandera”. Akumulasi timbunan barang-barang kita telah menumpulkan kreativitas dan eksibilitas. Kita telah mengumpulkan banyak barang gratis dan membeli banyak barang untuk disimpan, disimpan, dibersihkan, dipoles, dan dilindungi sehingga kita tidak lagi memiliki kebebasan.“

    Lawan balik: Buatkan sebuah sistem

    Ada dua aturan dasar untuk hidup yang teratur dan bebas dari kesemrawutan: melepaskan benda-benda yang tidak Anda butuhkan, dan pastikan benda yang ingin Anda simpan mudah ditemukan. Konsepnya mungkin terdengar sederhana, namun Christine mengatakan ada beberapa cara orang bisa menggagalkan prosesnya.

    Orang tidak memulainya dengan sistem penyortiran yang baik. Langkah pertama Christine dalam membantu klien mengatasi kesemrawutannya adalah dengan membuat kotak yang diberi label dengan kategori sederhana: daur ulang, donasi, dibuang, atau diperbaiki.

    Penghalang jalan lainnya adalah, alasan ringan yang kita gunakan untuk membujuk diri kita agar tidak menyimpan benda yang tidak terpakai.

    Sortir barang-barang yang tidak pernah dipakai ke kotak donasi (©depositphotos)

    Salah satu penimbun yang menjadi klien Christine, tidak bisa melepaskan apapun karena dia merasa sayang pada semua barang-barangnya yang meskipun tidak pernah ia pakai. Bahkan setelah disortir ia masih berpikir, bagaimana jika barang daur ulangnya dibuang ke tempat pembuangan akhir? Bagaimana jika sumbangan pakaiannya dibuang? Dalam pikirannya, menyingkirkan sesuatu pun terlalu berisiko, jadi dia tidak bisa bergerak maju.

    Kasus kemelekatan posesif yang lebih ekstrem mungkin memerlukan re eksi yang lebih dalam. Menurut Janet Luhrs, penulis buku The Simple Living Guide: A Sourcebook for Less Stressful, More Joyful Living, penimbunan bukanlah tentang kesemrawutan. Ini tentang kondisi emosional penimbun.

    “Sampai penimbun dapat melihat ke dalam dirinya untuk mencari apa yang menyebabkan kebiasaan menimbun, maka tidak ada yang akan berubah,” jelas Janet dalam sebuah email.

    Trauma kemiskinan adalah tema umum yang diketahui Christine pada semua penimbun yang telah dikenalnya. Seperti neneknya yang pernah hidup susah di masa kecil, keluarganya selalu menyimpan barang apapun yang pernah yang mereka miliki karena mereka tidak tahu apakah mereka akan mampu membeli barang-barang lainnya ke depannya nanti.

    Gangguan obsesif-kompulsif, kecemasan, kecanduan, dan kesedihan yang belum teratasi, semuanya terkait dengan penimbunan. Apapun cerita masa lalu, penimbunan sering berfungsi sebagai mekanisme penanggulangan – menciptakan kepompong untuk menenangkan jiwa yang terluka.

    Inilah sebabnya mengapa Christine percaya bahwa orang- orang dengan masalah penimbunan kronis sering kali membutuhkan bantuan untuk mengatasi trauma yang mendasarinya terlebih dahulu, sebelum menangani barang mereka. Jika tidak, kekacauan pasti akan kembali.

    “Benda-benda ini mewakili keamanan,” jelas Christine. “Jika Anda mengosongkannya, mereka akan mengisinya kembali dengan barang-barang lain dengan cukup cepat.”

    Membersihkan pikiran

    Bayangkan bagaimana hidup Anda akan berubah jika harta benda Anda dikurangi menjadi hal yang hakiki – hanya hal yang benar- benar Anda inginkan dan butuhkan. Konsultan jasa pengaturan Jepang ternama, Marie Kondo, telah menulis sebuah buku laris internasional yang dikhususkan untuk gagasan ini, The Life Changing Magic of Tidying Up.

    Marie Kondo memiliki pandangan tentang harta benda yang mungkin aneh bagi pikiran Barat pada awalnya: Dia meminta orang untuk menganggap benda mereka bukan benda belaka, tapi sebagai makhluk hidup yang patut dihormati. Objek yang ingin digunakan. Pakaian ingin dipakai. Itulah alasan mereka diciptakan: untuk digunakan manusia. Jika Anda tidak pernah menggunakan mereka, paling baik melepaskannya, agar dapat bermanfaat bagi orang lain.

    Marie menyarankan untuk memilah kategori (pakaian, mainan, buku) dan pertimbangkan apakah setiap item dalam kategori itu membawa Anda kegembiraan. Jika barang tersebut tidak “sparks joy”, lepaskan saja. Mulailah merapikan, dan Anda akan tiba-tiba melihat buku yang tidak pernah Anda baca, topi yang tidak pernah Anda pakai, atau peralatan dapur yang seharusnya tidak Anda beli. Jika Anda masih tidak tahu kapan bisa menggunakan barang itu, berikan kepada orang lain.

    Proyek ini memerlukan beberapa saat untuk menyelesaikannya, namun menghemat banyak masalah dalam jangka panjang. Setelah Anda menyusup ke hal yang hakiki, Anda tidak akan membuang banyak waktu dan energi untuk mencari barang yang tidak lagi Anda gunakan, dan lebih mudah menemukan barang yang Anda inginkan. Anda juga akan memberi kesempatan pada benda yang tak terpakai untuk memiliki manfaat yang lebih di tempat lain, bagi keluarga-keluarga yang lebih membutuhkan. Begitu Anda memiliki perasaan yang lebih baik untuk apa yang benar-benar Anda hargai, maka akan menjadi lebih mudah untuk menemukan barang yang tidak Anda inginkan.

    Miliki tempat untuk menaruh benda yang sudah tidak terpakai, pastikan mereka berhasil keluar rumah tepat pada waktunya. Christine merekomendasikan untuk menyimpan kotak sumbangan permanen untuk meletakkan sementara benda-benda yang tidak terpakai sampai Anda punya waktu untuk membawanya ke rumah berikutnya.

    Menemukan keseimbangan

    Sebagai tanggapan atas kelebihan materi dari budaya konsumerisme kita, semakin banyak orang yang beralih ke gaya hidup minimalis: rumah yang lebih kecil, lebih sedikit barang, dan lebih banyak kebebasan. Film dokumenter “Minimalisme”, menyoroti fenomena ini, yang menampilkan satu orang yang berhasil mengurangi harta bendanya menjadi hanya 51 objek.

    Christine adalah pendukung besar untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih minimalis, tapi dia tahu dari pengalaman pribadi bahwa juga jangan jadi terlalu ekstrim. Sebagai reaksi terhadap nenek dan ayahnya (yang menjalankan tradisi penimbunan keluarga), Christine melangkah ke arah lain. Untuk sesaat, dia mencoba hidup seminimalis mungkin. Dia memperingatkan bahwa ini juga bisa menjadi tidak sehat, jadi hidup sewajarnya saja.

    “Kami tidak ingin berlebihan, tapi kami tidak ingin berada dalam keadaan kekurangan. Ada jalan tengah. Ini tentang memiliki hal- hal yang Anda memang Anda butuhkan untuk kehidupan,” paparnya. (epochtimes/nit)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

    https://youtu.be/w0Deuc6icJ0