Tag: office boy

  • PODCAST Menghargai Orang Lain

    PODCAST Menghargai Orang Lain

    Seorang direktur di perusahaan besar memutuskan untuk pensiun. Di hari terakhirnya bekerja, seluruh karyawannya mengadakan pesta perpisahan untuknya, dan di akhir acara, dibacakan pesan-kesan dari para karyawan terhadap direktur mereka yang baik hati tersebut.

    PODCAST

    Salah seorang office boy maju ke podium dengan malu-malu. Dengan tangan gemetar, ia membacakan pesan-kesannya terhadap Pak Direktur yang telah ditulisnya di secarik kertas.

    “Yang terhormat Bapak Direktur….
    Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata ‘tolong’, setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya.

    Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan ‘maaf’, saat Bapak menegur, saat saya tidak melakukan tanggung jawab saya dengan benar.

    Terima kasih karena Bapak selalu mengucapkan ‘terima kasih’, kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak.

    Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai kapan pun Bapak adalah Pak Direktur terbaik buat saya.”

    Setelah pesan-kesan office boy itu dibacakan, seluruh ruangan dipenuhi oleh riuhnya tepuk tangan. Pak Direktur diam-diam mengejapkan matanya yang berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa sikapnya yang biasa-biasa saja, ternyata memberikan kesan mendalam bagi orang kecil seperti si office boy tersebut.

    Tulisan dari office boy itu pun terpilih untuk diabadikan, karena seisi kantor sepakat bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur perlu untuk diteruskan sebagai budaya di perusahaan tersebut.

    Tiga kata, ‘terima kasih’, ‘maaf’ dan ‘tolong’ adalah kata-kata yang pendek dan sederhana, tetapi seringkali lupa atau sulit untuk kita ucapkan. Dengan membiasakan diri mengucapkan tiga kata pendek tersebut, berarti kita telah menghargai orang lain, dan juga berarti bahwa kita telah menghargai diri sendiri.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Keburukan Bisa Menular

    PODCAST Keburukan Bisa Menular

    Ada seorang pengusaha sukses yang sedang bersiap untuk berangkat ke kantornya. Saat membuka pintu mobilnya, ada seekor anjing liar datang dan menggigit kakinya.

    PODCAST

    Pengusaha ini kesakitan dan menjadi sangat marah, dia mengambil batu dan melemparkannya ke arah anjing liar tersebut. Namun anjing itu sudah berlari sangat jauh, dan batu yang dilemparkan si pengusaha, luput dari sasaran.

    Sepanjang perjalanan ke kantor, pengusaha ini masih terus menyimpan kemarahannya. Saat tiba di kantor, dia melihat seorang manajer yang bajunya kurang rapi, jadi dia menegurnya, dan karena di dalam hatinya masih ada kemarahan, dia kemudian melampiaskan kemarahannya kepada si manajer.

    “Anda ini seorang manajer, bagaimana bisa Anda memakai pakaian yang tidak rapi seperti ini? Apa jadinya jika ada tamu perusahaan yang datang, melihat manajer di sini, bahkan memakai baju yang rapi saja tidak bisa. Terlebih lagi, bagaimana jika hal itu ditiru oleh semua bawahan Anda? Anda bisa menjadi penyebab kehancuran perusahaan ini!”

    Si manajer yang dimarahi itu, merasa kesal dan marah, lalu kemudian dia juga memarahi supervisor yang ada di sana dan berkata:

    “Hei Supervisor, tahukah kamu bahwa menjadi manajer itu sangat berat? Kamu yang berbuat salah, kamu yang tidak becus kerja, namun malah saya yang harus bertanggung jawab kepada atasan. Kalau sampai nanti saya menemukan kamu berbuat salah lagi, saya akan memecatmu!”

    Supervisor yang ikut terkena dampak kemarahan, merasa bingung dan merasa tidak bersalah, sehingga dia juga ikut menjadi marah dan memarahi stafnya.

    Demikianlah kemarahan itu terus saja menyebar dan akhirnya sampailah pada si pesuruh kantor.

    Karena sudah tidak ada karyawan lain yang bisa dimarahi oleh si pesuruh kantor, dia lalu memendam kemarahan itu di hatinya.

    Malam harinya ketika pulang ke rumah, istrinya agak terlambat menyiapkan makan malam, jadi saat itu dia menjadi kesal, lalu melampiaskan kemarahannya kepada istrinya dan berkata:

    “Tahukah kamu! Seharian saya keluar, bukan untuk bersenang-senang, saya bekerja keras sampai lelah, untuk mencari nafkah, agar kita bisa makan!

    Istrinya yang mendengar hal ini menjadi tersinggung, namun tidak berani membalas suaminya yang terlihat sangat marah. Akhirnya ia melampiaskannya pada anaknya yang sedang duduk menonton televisi.

    “Haduh nak! Setiap hari kerjanya hanya menonton TV dan bukannya rajin belajar, mau jadi apa kamu kalau sudah besar nanti?”

    Si anak kesal, kemudian pergi keluar rumah, di luar dia berjalan sambil memendam kemarahannya, dia melihat ada seekor anjing liar yang sedang berjalan.

    Anak ini lalu mengambil sebuah batu, dan melemparkannya ke anjing tersebut dengan penuh kemarahan.

    Ternyata anjing liar itu adalah anjing liar yang sama, yang menggigit kaki si kepala perusahaan di pagi hari.

    Sama seperti segalanya di dunia ini, keburukan juga bisa menular, oleh karena itulah, dunia ini sangat memerlukan apa yang disebut kesabaran dan ketabahan. Hanya dengan menjadi sabar dan tabah, barulah kita bisa membantu memutus rantai keburukan, dan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik lagi.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu