Suatu malam, Raja
bermimpi bahwa dia telah kehilangan semua gigi kecuali satu gigi serinya. Raja sangat terganggu oleh mimpi aneh itu.
Pagi berikutnya dia memanggil peramal istana dan bertanya tentang arti mimpinya.
Peramal menjawab, “Astaga, mimpi ini
adalah indikasi bahwa semua kerabat
raja akan mati satu per satu sebelum raja.”
Raja
menjadi sangat marah sekaligus
sedih. Dia mengusir peramal itu.
Kemudian dia bertanya kepada beberapa peramal lain tentang arti mimpinya, namun semua memberikan jawaban yang sama.
Raja menjadi sangat sedih dan tertekan oleh penafsiran mimpi itu. Dia mengusir semua peramal yang dia panggil tersebut.
Beberapa hari kemudian, Raja bertemu seorang
penasehatnya yang paling cerdas dan baru saja pulang dari tugas diplomasi ke
kerajaan lain, raja kemudian memberitahunya tentang kekhawatirannya. dia bercerita
tentang mimpinya dan penafsiran
semua peramal.
Penasehat ini mendengarkannya, berpikir sejenak, lalu kemudian berkata:
“Wah, itu
mimpi yang bagus, raja akan panjang umur! Rakyat akan beruntung diperintah oleh
raja bijak seperti Anda dalam waktu yang lama!”
Tiba-tiba muncul
kegembiraan di hati raja, ketika mendengar kata-kata penasehatnya yang satu ini. Raja
kemudian memberinya beberapa hadiah.
Kegalauan hati
sang raja akan mimpinya, sejak hari itu lenyap.
Penasehat ini sebetulnya juga menyampaikan hal yang sama dengan apa yang dikatakan oleh para peramal, namun dia menyampaikannya dengan cara serta sudut pandang yang berbeda.
Ketika kita mengatakan sesuatu, Bagaimana kita mengatakannya dan kata-kata apa yang kita pilih untuk menyampaikan pesan tersebut, bisa membuat perbedaan yang cukup besar.
Jadi, ingatlah untuk selalu memilih kata-kata dengan bijak.
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Di suatu desa, hiduplah seorang pria di sebuah rumah, dengan pekarangannya yang luas.
PODCAST
Dia menanam banyak pohon di pekarangannya, dan terus merawat semua pohon tersebut dengan baik, hingga akhirnya semua pohon yang dia tanam, tumbuh subur dan berbuah.
Pada suatu pagi, dia melihat ada seorang asing, yang memanjat pohonnya, dan memakan buah yang tumbuh di situ.
Pria ini kesal, dia berteriak: “Hei, siapa kamu? jangan mencuri!”
Orang asing itu menjawab: “Saya adalah manusia, makhluk ciptaan Tuhan, pohon ini juga ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan pohon dan buah, untuk menyediakan makanan bagi manusia, jadi saya bebas memakan buah-buah ini. Memangnya siapa kamu? Berani mengganggu karya Tuhan?”
Pria itu berpikir dan menemukan akal. Dia menyuruh putranya untuk mengambil tali, dan dengan segera menggunakan tali tersebut, untuk mengikat orang asing tersebut di atas pohon.
Pria itu kemudian mengambil sebatang kayu, dan memukuli si orang asing.
Orang asing itu berteriak marah- marah: “Hei, stop stop stop,mengapa kamu memukuli saya? Tidakkah kamu takut akan Tuhan? Berani memukuli makhluk ciptaanNya?”
Pria itu kemudian berkata: “Saya juga makhluk ciptaan Tuhan, kayu di tangan saya ini juga ciptaan Tuhan, jadi saya bebas menggunakannya, memangnya siapa kamu? Berani mengganggu karya Tuhan?”
Setelah beberapa waktu, orang asing itu berkata: “Maafkan saya, saya salah, ampuni saya, saya berjanji tidak akan mencuri lagi.”
Melihat orang asing itu sudah memahami kesalahannya, pria itu kemudian melepaskannya.
Tuhan sudah menciptakan kita semua, dan melengkapi kita dengan akal sehat,jadi apapun yang seseorang lakukan, adalah menjadi tanggung jawab orang itu sendiri.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Kaisar Wu dari Dinasti Han memiliki bakat besar dan visi yang berani. Selama masa pemerintahannya, wilayah Dinasti Han berlipat ganda, dan reputasinya yang baik tersebar luas. Secara khusus, Dinasti Han mengadopsi doktrin Konfusianisme sebagai ideologi negara dan kode etiknya, menjadikan Konfusianisme sebagai aliran pemikiran ortodoks dalam sejarah Tiongkok sejak saat itu.
Namun, akibat perang bertahun-tahun dan pekerjaan konstruksi skala besar yang membabi-buta di tahun-tahun terakhirnya, kas negara hampir kosong. Orang-orang membenci pejabat berwenang, dan bandit serta pencuri muncul di banyak tempat. “Bencana sihir” menyebabkan kematian Permaisuri Wei dan Putra Mahkota, dan hal itu juga berdampak terhadap puluhan ribu orang. Jenderal Li Guangli, yang sangat diandalkan oleh kaisar, menyerah pada Xiongnu. Semua ini sangat merugikan kaisar, membuatnya harus menginstropeksi diri.
Pada
bulan Maret tahun keempat Periode Zhenghe (89 SM), Kaisar Wu pergi untuk
melakukan upacara Feng Shan di Gunung Tai. Dia berkata kepada para pejabat
pengadilan, “Sejak saya dinobatkan, saya telah bertindak ceroboh dan membuat
hidup orang-orang menjadi sengsara. Saya merasa sangat menyesal atas apa yang
telah saya lakukan. Mulai sekarang, apa pun yang membahayakan orang dan
menyia-nyiakan sumber daya negara harus dihentikan.”
Pada
bulan Juni di tahun yang sama, Kaisar Wu yang saat itu berusia 68 tahun menolak
proposal dari Menteri Sun Hongyang dan pejabat lainnya untuk mengirim tentara
ke Luntai (kini Provinsi Xinjiang di Tiongkok barat) untuk pertahanan militer
dan perluasan lahan pertanian. Dia juga mengeluarkan dekrit untuk merefleksikan
kesalahan kebijakan masa lalunya, yang secara luas dikenal sebagai “Maklumat
Penyesalan Luntai.”
Di Maklumat itu tertulis, “Sebelumnya, saya menerima proposal, menyarankan agar setiap orang membayar pajak tambahan 30 koin untuk mendukung pertahanan perbatasan. Ini akan menambah beban rakyat, terutama orang tua, kaum lemah, atau mereka yang terlunta-lunta.
“……
kemudian Jenderal Li Guangli kalah, dan tentaranya tewas, ditangkap, atau
melarikan diri. Hati saya sedih setiap kali saya memikirkan mereka. Sekarang,
beberapa pejabat telah mengusulkan untuk memperluas pangkalan militer di
Luntai. Hal ini akan lebih membebani rakyat dan bukannya menjaga mereka. Saya
tidak tahan mendengar hal-hal seperti itu.
“……
Tugas paling penting saat ini adalah melarang keras para pejabat di semua
tingkatan untuk memeras rakyat dan kejam terhadap rakyat, dan melarang mereka
untuk menaikkan pajak semena-mena. Sebaliknya, kami akan membuat cara untuk meningkatkan
produksi pertanian.”
Pada saat bersamaan, Kaisar Wu mempromosikan Menteri Tian Qianqiu menjadi menteri kesejahteraan rakyat. Dia juga menunjuk Zhao Guo, yang mengerti pertanian, untuk memajukan produksi pertanian dengan mengadopsi sistem tukar ladang. Semua ini meletakkan dasar yang baik untuk kebangkitan Zhao-Xuan berikutnya, fase stabilitas dan pertumbuhan restoratif.
Sangat
luar biasa bagi seorang kaisar mau merenungkan kesalahan kebijakannya di era ketika
kaisar memiliki kekuasaan absolut. Dibutuhkan keberanian yang luar biasa dari
Kaisar Wu untuk mengeluarkan “Maklumat Penyesalan Luntai.” Terbukti dalam
reformasi kebijakannya kemudian bahwa maklumat itu dikeluarkan dengan ketulusan
hati, bukan sebagai pencitraan.
Dalam
sejarah, Kaisar Wu dari Han sering disebut bersamaan dengan Qin Shi Huang
(Kaisar Pertama Dinasti Qin) atas pencapaian besar mereka. Memang, ada banyak
kesamaan dalam pemerintahan mereka. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa Kaisar Wu
dari Han menyelesaikan kerangka politik yang dirancang oleh Qin Shi Huang, yang
memutuskan arah umum dinasti masa depan dalam sejarah.
Di sisi lain, sementara Kaisar Wu dari Han membuat kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Qin Shi Huang, dia menghindari bencana yang menyebabkan kehancuran Qin. Ini karena, tidak seperti Qin Shi Huang, Kaisar Wu dari Han merefleksikan kebijakannya dan membuat perbaikan-perbaikan sebelum semuanya terlambat.
“Maklumat Penyesalan Luntai” terpelihara dengan baik dalam sejarah Tiongkok, menjadi contoh kearifan pemimpin bagi generasi selanjutnya.
Beberapa kaisar di generasi selanjutnya mengeluarkan maklumat penyesalan yang serupa. Mereka termasuk Kaisar Ming Han, Kaisar Taizong Tang, Kaisar Lizong Song, Kaisar Xizong Ming, dan Kaisar Yongzheng dari Dinasti Qing.
Ketika seorang kaisar melakukan kesalahan besar yang membawa bencana bagi negara dan rakyatnya, ia sering mengeluarkan “Maklumat Penyesalan” untuk merefleksikan kesalahannya secara terbuka kepada rakyat. Sebaliknya di masa sekarang, Partai Komunis Tiongkok telah menyebabkan kematian 80 juta rakyat Tiongkok yang tidak bersalah dan tragedi yang tak terhitung jumlahnya, tetapi tidak pernah mengakui kesalahan apa pun. Yang terjadi, bencana dan wabah silih berganti terjadi di Tiongkok, sangat memprihatinkan! (Gongsun Rushui/minghui/eva)
Lebih banyak artikel Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.