Tag: PM Jepang

  • PM Jepang Takaichi Tingkatkan Pertahanan, Fokus Lawan Dominasi China

    PM Jepang Takaichi Tingkatkan Pertahanan, Fokus Lawan Dominasi China

    Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi berjanji pada hari Jumat untuk mempercepat target belanja pertahanan negara tersebut selama dua tahun. Ia menargetkan 2% dari PDB pada tahun fiskal berjalan, melampaui target awal tahun 2017.

    [Sanae Takaichi, PM Jepang]:

    “China adalah negara tetangga penting Jepang dan kita harus membangun hubungan yang konstruktif dan stabil. Pada saat yang sama, adalah fakta bahwa ada kekhawatiran keamanan dan ekonomi antara Jepang dan China. Kita akan memajukan hubungan strategis dan saling menguntungkan melalui dialog yang jujur ​​dan berulang antara para pemimpin kita.”

    Dalam pidato kebijakan pertamanya di parlemen, Takaichi berkata Jepang harus mengambil inisiatif guna memperkuat pertahanannya secara radikal. Ia menekankan ekonomi yang kuat adalah penting bagi kebijakan fiskal yang sehat; dan menjanjikan belanja proaktif untuk mendukung prioritas strategis.

    Ia juga berjanji untuk mempertahankan kepercayaan pasar dan menuju ke keuangan publik yang berkelanjutan, dengan cara mengurangi utang pemerintah relatif terhadap PDB.

    AS dan Jepang akan menandatangani kesepakatan untuk meningkatkan kerja sama di bidang kecerdasan buatan dan teknologi nirkabel generasi mendatang. Hal ini muncul dari kekhawatiran mereka atas kebangkitan AI di China.

    AS dan Jepang khawatir negara-negara berkembang akan bergantung pada teknologi AI China. Mereka berupaya mempromosikan sistem AI yang lebih aman dan mengungguli China dalam menetapkan standar internasional.

    Perdana menteri baru Jepang akan bertemu dengan Presiden Trump pada hari Selasa. Pejabat tinggi kedua belah pihak diharapkan akan menandatangani kesepakatan mencakup teknologi AI, nirkabel 6G, rantai pasokan medis dan bioteknologi, teknologi kuantum hingga fusi nuklir.

    Kedua negara juga akan bekerja sama dalam mengembangkan teknologi nirkabel generasi mendatang dan menetapkan standarnya.

  • Sanae Takaichi Terpilih Jadi PM Jepang Perempuan Pertama

    Sanae Takaichi Terpilih Jadi PM Jepang Perempuan Pertama

    Di Jepang, momen bersejarah terjadi pada hari Selasa ketika Sanae Takaichi, pemimpin Partai Demokrat Liberal yang berkuasa, secara resmi dikonfirmasi sebagai perdana menteri berikutnya. Setelah konfirmasi, Takaichi bertemu dengan Kaisar Naruhito, yang menyerahkan surat pengangkatan resmi, menandainya sebagai perdana menteri ke-104 Jepang. Pengangkatan ini juga menandai peluncuran pemerintahan koalisi baru antara LDP dan Partai Nippon Ishin.

    Perdana menteri baru Jepang, Sanae Takaichi, maju dengan kabinet yang seluruhnya terdiri dari anggota Partai Demokrat Liberal yang berkuasa. Meskipun Partai Nippon Ishin mendukung pemerintahannya, mereka melakukannya dari luar kabinet dalam peran kolaboratif.

    Dari para pejabat LDP yang ditunjuk, saingan terakhir Takaichi dalam perebutan kepemimpinan partai, Shinjiro Koizumi yang berusia 44 tahun, akan mengambil jabatan menteri pertahanan. Kandidat lainnya, Yoshimasa Hayashi dan Toshimitsu Motegi, telah ditunjuk sebagai menteri dalam negeri dan menteri luar negeri. Minoru Kihara akan menjabat sebagai sekretaris kabinet utama. Kabinet baru ini secara luas dipandang sebagai kabinet yang konservatif.

    Namun, tantangan masih ada. LDP saat ini kekurangan mayoritas di kedua majelis parlemen, menjadikannya pemerintahan minoritas.

    [Akio Yaita, Mantan Kepala Sankei Shinbun Cabang Taipei]:

    “Satu-satunya jalan keluar dari kebuntuan politik adalah pemilihan umum dini. Sanae Takaichi populer di kalangan publik, sehingga ia dapat mengamankan stabilitas jangka panjang jika membubarkan parlemen pada akhir tahun ini atau awal tahun depan, dan memimpin LDP memenangkan mayoritas.”

    Awal tahun ini, Takaichi mengunjungi Taiwan, bertemu dengan Presiden Lai Ching-te. Dalam pidatonya selama kunjungan, ia menyerukan Jepang, Taiwan, dan mitra demokrasi lainnya untuk membentuk aliansi keamanan guna memperkuat pertahanan, keamanan ekonomi, dan ketahanan rantai pasokan.

    [Akio Yaita, Mantan Kepala Sankei Shinbun Cabang Taipei]:

    “Saya melihatnya sebagai pemimpin yang pro-AS, anti-China, dan bersahabat dengan Taiwan. Kabinetnya seluruhnya terdiri dari pejabat dengan pandangan anti-China yang kuat, yang kemungkinan besar akan membuat Beijing khawatir.”

    Akio Yaita adalah sesama alumni Institut Pemerintahan dan Manajemen Matsushita Jepang. Ia mengenang bahwa Takaichi adalah sosok yang terkenal selama masa sekolahnya.

    “Saat mendaftar ke sekolah ini, ia mengendarai sepeda motor besar dari Kobe ke Tokyo. Selama masa sekolahnya, ia bermain heavy metal dan drum, namun tetap menjadi siswa yang sangat rajin.”

    Sebagai anak didik mendiang Shinzo Abe, Takaichi telah lama mengagumi Ironlady Inggris, Margaret Thatcher. Kini, semua mata tertuju padanya. Perdana Menteri Takaichi diperkirakan akan menghadiri KTT ASEAN mendatang di Malaysia dan konferensi APEC di Korea Selatan. Ia juga akan menjamu Presiden AS Donald Trump di Tokyo minggu depan.

  • Sanae Takaichi: Kritikus Keras Tiongkok Berpotensi Jadi PM Jepang Wanita Pertama

    Sanae Takaichi: Kritikus Keras Tiongkok Berpotensi Jadi PM Jepang Wanita Pertama

    Seorang tokoh garis keras Tiongkok berpotensi menjadi perdana menteri Jepang berikutnya. Partai berkuasa di Jepang telah memilih seorang kritikus Tiongkok yang sangat konservatif dan blak-blakan sebagai pemimpin baru. Berikut selengkapnya.

    Mantan Menteri Keamanan Ekonomi Sanae Takaichi mengalahkan saingan moderatnya dengan 185 suara berbanding 156. Kemenangan ini menjadikannya sebagai presiden partai perempuan pertama di Jepang, dan berpotensi tinggi menjadi perdana menteri perempuan pertama. Takaichi adalah pengagum mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, dan adalah anak didik mendiang Shinzo Abe, yang dibunuh pada 2022.

    Kemenangannya diharapkan dapat memperkuat basis nasionalis partainya, tetapi mungkin akan mempersulit diplomasi dengan Tiongkok dan Korea Selatan. Kemenlu Tiongkok bereaksi dengan hati-hati, menyebut hasil tersebut adalah “urusan internal Jepang”.

    Setelah kemenangannya, Takaichi menyerukan persatuan dan pembaruan di dalam partainya, yang sempat diguncang skandal dan kemunduran elektoral.