Tag: rezim iran

  • Afrika Selatan, Meksiko dan Iran Masa Depan: Mengetes Posisi ‘Lebih Keras’ ke China

    Afrika Selatan, Meksiko dan Iran Masa Depan: Mengetes Posisi ‘Lebih Keras’ ke China

    Seiring meningkatnya persaingan antara dua negara adidaya dunia, AS dan China, di berbagai bidang ekonomi, strategis, dan politik, oportunisme mungkin bukan lagi strategi yang layak. Banyak negara mendapati diri mereka dalam situasi serupa, menghadapi kebutuhan untuk mengambil sikap yang lebih jelas tentang apakah akan berpihak pada Washington atau Beijing. Afrika Selatan, Meksiko, dan calon pemimpin Iran di masa depan sudah menyesuaikan kebijakan mereka terhadap China.

    Afrika Selatan telah menyetujui tarif 75% untuk impor baja struktural China, bahan utama yang digunakan dalam bangunan dan infrastruktur. Keputusan tersebut dibuat pada hari Rabu dan mulai berlaku keesokan harinya. Thailand juga terkena tarif baru, tetapi dengan tarif yang jauh lebih rendah daripada China. Pemerintah menuduh negara-negara Asia, terutama China, melakukan dumping produk murah ke negara tersebut dan merusak industri domestiknya. Perlu dicatat, Afrika Selatan dan China mempertahankan hubungan dekat dengan Afrika Selatan sebagai mitra kunci dalam kelompok BRICS Beijing. Baru bulan lalu, China memberikan Afrika Selatan perlakuan tarif nol. Jadi kenaikan tarif terhadap China merupakan langkah yang mengejutkan. Hal ini terjadi di tengah ketegangan antara Afrika Selatan dan AS. Pada hari Senin, perwakilan perdagangan AS membuka penyelidikan pasal 301 terhadap 60 negara, termasuk Afrika Selatan, atas potensi praktik perdagangan yang tidak adil. Steven Gru, seorang ahli geopolitik di sebuah lembaga think tank Afrika Selatan, memperingatkan bahwa ekspor seperti motor, anggur, dan produk pertanian masih sangat bergantung pada pasar AS.

    Bagi Meksiko, pengenaan tarif terhadap China bukanlah hal baru, dan mereka dapat melakukannya lagi. Menurut laporan media Meksiko, seorang pejabat senior mengatakan negara itu sedang mempertimbangkan untuk meninjau investasi China. Pejabat tersebut menambahkan bahwa langkah ini mengikuti tuduhan AS bahwa Meksiko mentransit barang-barang murah dari China. Namun, AS juga mendukung kenaikan tarif Meksiko baru-baru ini terhadap China. Meksiko memberlakukan tarif hingga 35% pada barang-barang China yang mulai berlaku pada awal tahun. Juru bicara Beijing menanggapi pada hari Jumat, mendesak Meksiko untuk tidak melanjutkan kebijakan tersebut.

    Selanjutnya, mantan Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi, memberi sinyal bahwa ia akan mengurangi hubungan Iran dengan Rusia dan China jika ia menjabat. Pahlavi telah memposisikan dirinya sebagai pemimpin untuk memimpin pemerintahan transisi jika rezim Islam jatuh. Ia menerbitkan rencana pemerintahan tiga bulan yang menyerukan agar Iran beralih dari ketergantungan pada Beijing dan Moskow menuju kemitraan yang lebih seimbang. Ia menambahkan bahwa semua perjanjian dengan kedua negara tersebut harus ditinjau dan investasi China harus dibatasi.

    Kepala stafnya mengatakan pada hari Kamis bahwa Iran yang bebas dan demokratis di masa depan tidak akan mencari konflik dengan China, tetapi akan membangun hubungan dengan semua negara demi kepentingan rakyat Iran. Pernyataan tersebut menunjukkan pergeseran Iran dari Beijing.

  • Ahli: PKC Tidak Akan Bantu Iran, Sekutu Terbesarnya di Timur Tengah

    Ahli: PKC Tidak Akan Bantu Iran, Sekutu Terbesarnya di Timur Tengah

    Serangan AS-Israel ke Iran telah melenyapkan hampir semua pemimpin senior di rezim tersebut. Namun sekutu terdekat Iran, China dan Rusia, belum menawarkan dukungan apapun selain gestur diplomatik. Analis urusan China Tang Jingyuan memberikan ulasannya tentang langkah Beijing selanjutnya serta apa arti serangan tersebut pada agenda Partai Komunis China.

    China, Iran, Rusia dan Korea Utara secara luas dipandang di Barat sebagai poros kejahatan baru. Aliansi ini telah lama berupaya menggulingkan tatanan dunia yang dipimpin AS. Pemimpin rezim China Xi Jinping berulang kali menekankan agenda globalnya sejak 2021, menyatakan timur sedang bangkit dan barat sedang melemah, dan bahwa Iran adalah sekutu terbesar China di Timur Tengah.

    Analis urusan China Tang Jingyuan berkata serangan ke Iran bisa menghancurkan rencana Beijing mencapai dominasi global.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “Iran adalah pijakan utama Beijing di Timur Tengah dan pengaruh utamanya pada AS. Perubahan rezim di Iran, terutama ke pemerintahan pro-AS, adalah pukulan besar bagi PKC, membatalkan investasi regional bertahun-tahun. Serangan AS dan Israel yang mengancam rezim Iran dapat menandai awal fragmentasi poros ini.”

    Beralih ke energi, China sangat bergantung pada impor minyak. China adalah pembeli minyak terbesar dari Venezuela, Rusia, dan Iran, yang semuanya menghadapi sanksi Barat yang serius. Data resmi menunjukkan 80% ekspor minyak Iran menuju China. Serangan pada Iran telah mempertaruhkan keamanan energi China, setelah pengambil-alihan minyak Venezuela oleh AS. Tang berkata pengetatan kontrol atas pasokan energi China dapat mengurangi kemampuan Beijing memperluas agresi globalnya.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “PKC tidak swasembada energi dan telah lama mengejar strategi diversifikasi demi menghindari ketergantungan pada satu pemasok tunggal. Pendekatan pemerintahan Trump bertujuan secara sistematis membatasi saluran impor energi China. Jika jalur dipersempit ke satu atau dua sumber, keamanan pasokan Beijing akan sangat melemah. Tanpa akses energi yang stabil, kapasitas PKC untuk ekspansi eksternal akan sangat dibatasi.”

    Tetapi akankah Beijing memberikan dukungan militer ke Iran? Tang berkata dia percaya peluangnya sangat kecil, karena China tidak ingin meningkatkan ketegangan dengan AS menjelang kunjungan Presiden Trump ke China bulan depan. Ditambah lagi sekarang sedang terjadi pembersihan militer skala besar dan terjadinya peningkatan pertikaian politik internal PKC.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “Xi Jinping menghadapi tekanan domestik dan internasional yang telah melemahkan posisinya. Undangannya ke Trump untuk mengunjungi China menunjukkan ia berharap menggunakan kunjungan itu demi memperkuat kedudukannya. Jika ia membantu Iran, ini berisiko menyebabkan keretakan langsung dengan Trump, bahkan berpotensi Trump membatalkan perjalanan tersebut. Di saat yang sama, PKC paham bahwa serangan terbaru AS-Israel ke Iran mencerminkan tekad yang kuat. Jika Trump bertindak, kemungkinan besar ia bertekad mengamankan hasil yang menentukan. Dukungan militer China yang terbatas ke Iran sepertinya tidak akan mengubah situasi, bahkan menjadi bumerang bagi Beijing.”

    Tang berkata PKC pasti akan memprioritaskan kelangsungan hidupnya sendiri daripada sekutunya di saat-saat kritis. Hanya beberapa minggu yang lalu, Beijing juga menahan dukungan bagi teman dekatnya diktator Venezuela Nicolas Maduro saat ia ditangkap oleh pasukan AS.

    Flora Hua, NTD News.