Wisata

9 Tips untuk (Calon) Backpacker

Backpacking (Image : Brevitē/Unsplash)

Saat masih muda, masih single, mengapa tidak mencoba untuk backpacking? Banyak yang memiliki rintangan psikologis untuk backpacking, merasa kuatir ini dan itu, meskipun hati sebenarnya sangat ingin. Bagaimana tidak? “Bertualang yang sehat” adalah bagian dari masa muda kita, kemudian berkunjung ke negara dan budaya lain, pasti akan membuka wawasan kita. Di saat tua, kita bisa cerita ke anak cucu, “Dulu, saat opa muda, opa pernah backpacking ke …” Sang cucu pun bergumam, “Wah, seru banget yah opa, terus opa, terus gimana…” Bahkan di saat tua, kita pun masih bisa backpacking. Saat di negeri Kiwi, penulis pernah bertemu pasangan suami istri usia sudah pertengahan 60-an, dengan ransel di punggung sambil bergandengan tangan – keluar dari youth hostel menuju destinasi berikut. Betapa asyiknya!

Sebenarnya jadi backpacker tidaklah sulit, apalagi di era sekarang, di mana infrastruktur, moda angkutan semakin baik dan beragam, dan kunci utamanya, yaitu: info, sudah semakin mudah dan murah diakses melalui internet, tanpa perlu membeli literatur yang mahal.

Sembilan tips dasar:

– Yang pertama tentu saja, mau bicara traveling – tentu bicara tiga hal ini: Budget, Waktu dan Kondisi Kesehatan.

Alias kita perlu evaluasi, berapa budget yang tersedia, kondisi fisik kita seberapa fit-kah dan berapa lama waktu libur/cuti yang tersedia. Tiga hal ini sesungguhnya akan menentukan ke mana kita melangkah. Bukanlah sekadar angan-angan: ‘Aku kepingin banget loh ke Roma, kan kata pepatah ada banyak jalan menuju Roma.’ Benar, itu kata pepatah, di sini kita tidak berangan-angan, tapi kita lakukan saja.

– Nah, yang kedua masuklah kita ke bagian perencanaan, membuat rute perjalanan, karena pada prinsipnya backpacker akan travel sendiri, tidak ikut program agen wisata perjalanan. Membuat rute perjalanan sesungguhnya adalah bagian yang paling seru, antara imajinasi dan kenyataan, tetapi juga paling menyita waktu. Imajinasi karena kita belum pernah ke negara itu, namun dari berbagai sumber info, seperti Traveler Handbook, info di internet, info dari teman dan lainnya, kita mencoba merangkai, mendapat gambaran akan negeri yang hendak kita kunjungi. Kenyataan, karena sambil mengecek info harga penginapan, biaya naik kereta dan lainnya; info medan perjalanan, kita segera akan dihadapkan pada kenyataan: trip ini realistis atau tidak dengan kondisi budget, fisik dan waktu kita.

(Image : Fancycrave/ Unsplash)

– Yang ketiga adalah: backpacking sendiri atau bersama teman. Setiap orang memiliki kesukaan dan gagasan. Positifnya backpacking sendirian adalah kebebasan menentukan program sendiri, tanpa perlu dikompromikan. Kerugiannya, penulis pernah semingguan di perjalanan, dan tidak berbicara dengan seorang pun, emang enak? Tapi sesungguhnya jangan khawatir, kalau kita bersikap open-minded, ramah dan toleran dengan orang/budaya lain, di perjalanan, backpacker umumnya akan bertemu teman perjalanan, di kota ini ketemu teman perjalanan dari Jepang, di kota berikut ketemu backpacker Italia dan seterusnya. Sedangkan mereka yang backpacking dalam grup kecil, umumnya tidak akan mengalami hal ini, karena kebutuhan sosialisasinya sudah terpenuhi di grup kecil itu, sehingga cenderung tidak perlu lagi berbagi dengan backpacker lain.

– Yang keempat, jangan lupa luangkan waktu baca lebih banyak tentang sejarah, budaya dari negara maupun obyek wisata yang akan kita kunjungi. Pengetahuan dasar ini akan membuat mata kita melihat apa yang tidak terlihat seandainya kita tidak membaca kebudayaannya terlebih dahulu. Dan jangan enggan, belajarlah beberapa kata sapaan dasar yang penting dalam kehidupan sehari-hari, seperti: ‘terima kasih’, ‘selamat pagi/siang’, ‘sampai jumpa’, ‘apa kabar’ dan lainnya. Bahasa lokal adalah jembatan, sentuhan menuju keakraban. Tentu saja, dengan bahasa Inggris umumnya orang sudah dapat melanglang buana ke banyak negara, tetapi beberapa kata dalam bahasa setempat, selalu meninggalkan kesan simpatis dan juga indikasi upaya kita sebagai tamu untuk menghormati tuan rumah.

– Yang kelima, evaluasi cuaca, rute perjalanan – sekarang prediksi cuaca mudah diakses di internet, misalnya: temperatur di Rajasthan, India bulan Februari mendatang. Kemudian persiapkan pakaian yang cocok untuk cuaca dan budayanya, bila ke negara yang cenderung masih tradisional, rok mini atau jeans koyak-koyak janganlah di-pack ke ransel, berpakaianlah yang sopan. Backpacker bukan berarti berpakaian asal-asalan, bukan pula identik dengan hippies. Peralatan lain, sepatu dan sandal yang enak dipakai jalan (jangan pernah pakai sepatu yang kita baru beli), ukuran ransel yang cocok dengan durasi perjalanan dan lain-lain.

– Yang keenam, mulailah dengan tujuan yang agak mudah dan budayanya masih agak mirip, misal di dalam negeri atau negara di Asia Tenggara/Asia; kemudian sejalan dengan keberadaan budget dan bertambahnya pengalaman, kembangkanlah sayap kita.

– Yang ketujuh, jangan terlalu banyak pikir. Benar tips ini terdengar sederhana, tetapi backpacking apalagi sendirian, sesungguhnya adalah suatu proses mengatasi kekuatiran dalam diri. Kalau terlalu banyak pertimbangan, ujung-ujungnya batal deh. Tapi kalau tanpa pertimbangan, itu namanya nekat.

@Unsplash

– Tips kedelapan: PeDe. Jika tiba di kota asing, pertama-tama coba tetap tampil tenang dan pede. Kalau hati sudah ragu, di wajahpun segera terbaca. Baru turun di stasiun atau terminal saja, kita sudah dikerubungi para calo yang hendak menawarkan jasa ini itu: “Hotel mister, taxi my friend.” Jadi jagalah penampilan agar tetap tenang, meski hati dag-dig-dug. Setelah lirikan sekilas alias pelajari situasi lapangan, baru mulai aksi, misal: mulai baca peta atau cari transportasi menuju hotel tujuan dan lainnya.

– Yang kesembilan dan sekaligus menutup artikel ini: Nikmatilah diri sendiri, setiap momen dan lingkungan sekitar. Benar, sesungguhnya momen-momen paling berkesan saat travel, seringkali adalah refleksi kondisi hati kita saat itu.

Penulis pernah terdampar di sebuah kota kecil di Meksiko, jalanan yang berpola silang horisontal dan vertikal juga hanya demikian, penampakan kota ini terlihat sungguh membosankan, tapi penulis masih sering mengenang momen indah di kota tersebut.

Atau sekadar bersama penumpang lain, ikut mendorong bus mogok di Kenya. Dikenang kembali, wajah masih bisa tersenyum simpul sendiri.

Naik bus kelas tiga di India utara, sandaran kepala hanyalah pipa besi. Keranjang berisi ayam hidup dan ‘koper’ dari buntalan kain memenuhi lorong bus yang sesak, duduk di sebelah nenek tua. Penulis lihat ia kelelahan, menawarkan pangkuan dengan bahasa tangan, nenek itu tanpa ragu segera tertidur di pangkuan penulis, tiba-tiba teringat ibu di rumah.

Di gurun Atacama di utara Cili, jam 4 pagi memandang langit penuh bintang hijau gemerlapan, dengan mata telanjang kita dapat mengamati galaksi bimasakti ini, saat itu penulis merasa hidup ini sesungguhnya sangat bahagia, jika kita tidak terlalu banyak keinginan, bintang-bintang di langit saja sudah demikian indah, mau kejar apalagi? Maka nikmatilah diri sendiri, setiap momen dan tentunya, syukuri karunia Sang Pencipta.

Akhir kata, bagi yang (calon) hobby jalan, Goethe pernah berkata, “Di arus yang sama, anda tidak akan berenang dua kali.” Benar tuh, setiap perjalanan adalah unik!

Selamat mencoba, ambil langkah pertama dan enjoy! (ntdindonesia.com/karnadi nurtantio)