Wisata

Candi Empat Wajah, Bayon

Candi Bayon (Image: Sharon Ang/Pixabay)

Ingin mengenal kebudayaan dan peradaban masa lalu dari bangsa Khmer, yang sekarang menjadi negara tetangga kita, Kamboja? Maka kunjungan ke Candi Bayon adalah salah satu yang wajib.

Candi agama Buddha yang dibangun oleh Raja Jayavarman VII ini, terletak di jantung dari Angkor Thom, pusat Kerajaan Khmer di abad ke-12/13. Nama aslinya adalah “Jayagiri” (Gunung Kemenangan), saat masa penjajahan Perancis, dinamakan Banyan Temple (Banyan Tree = Pohon Bodhi, pohon di mana Buddha Sakyamuni memperoleh pencerahan sempurna). Oleh orang Kamboja kata “Banyan” sepertinya agak sulit, akhirnya terucap Bayon, begitulah asal mula namanya sekarang.

Relief cantik menghiasi dinding Candi Bayon (Image: Karnadi/NTD Indonesia)

Arsitektur candi ini sudah beberapa kali mengalami perubahan, dari awalnya sebagai candi agama Buddha Mahayana, kemudian menjadi candi agama Hindu (karena Raja Jayavarman VIII, putra dari Jayavarman VII masuk ke agama Hindu), kemudian berubah lagi menjadi candi aliran Theravada. Dari gerbang luar, candi ini tampak biasa-biasa saja, setelah masuk ke dalam dan menyusurinya, melihat detail yang tersisa, baru terlihat keindahannya. Ada sekitar 50 menara dan di bagian atas setiap menara terdapat empat wajah “Bodhisatva Lokesvara” (Sang Sadar yang telah mengultivasikan belas kasih sempurna) menghadap ke empat penjuru. Tentu saja “200 wajah” tersebut sudah banyak yang hilang atau termakan erosi usia, tetapi wajah yang tersisa telah membuat candi ini memiliki karakter yang berbeda dari candi-candi lainnya di kompleks Angkor Wat yang membentang di atas lahan yang amat luas.

Salah satu menara di Candi Bayon, dengan empat wajah di puncak menara (Image: Karnadi/ NTD Indonesia)
Salah satu sudut Candi Bayon (Image: Karnadi/NTD Indonesia)

Saat pemerintahan komunis Khmer Merah di bawah pimpinan Polpot di tahun 70-an, semua agama apakah agama Buddha, Kristen dan Islam dilarang dan mengalami penindasan, sehingga tempat ibadah termasuk candi-candi tidak dapat digunakan untuk kegiatan keagamaan. Seperti kita ketahui dari catatan sejarah, diperkirakan 1,6 hingga 1,9 juta orang (hampir seperempat populasi Kamboja saat itu!), termasuk sekitar 25.000 biksu agama Buddha mati tidak wajar di bawah kekuasaan teror Khmer Merah yang mendapat dukungan finansial dan militer dari Partai Komunis Tiongkok. Itu adalah masa paling kelam bagi sejarah Kamboja dan butuh waktu lama untuk memulihkan luka.

Namun di tengah keangkara-murkaan yang berkecamuk saat itu, dapat dikatakan satu keajaiban yang patut disyukuri bahwa candi ini selamat dari mesin penghancur rejim komunis, sehingga hari ini masih dapat kita nikmati sisa-sisa peninggalannya dan telusuri masa silamnya yang penuh kejayaan. (ntdindonesia.com/karnadi nurtantio)