Wisata

Filosofi Klasik Menjadi Inspirasi Taman-taman Tiongkok

Filosofi Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme memiliki pengaruh yang besar terhadap cara orang Tionghoa menata dan mendekorasi taman mereka. (Image: Russ Allison Loar/ wikimedia CC BY-SA 4.0)

Filosofi Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme di Tiongkok telah mendominasi kehidupan kekaisaran dan masyarakat selama ribuan tahun. Berfokus pada kesederhanaan dan kehidupan moral membuat konsep-konsep ini memiliki pengaruh besar pada cara orang Tionghoa menata dan mendekorasi taman mereka.

Taman klasik Tiongkok

Taoisme yang diajarkan oleh filsuf bijak Tiongkok, Laozi, menempatkan alam sebagai sumber dari segala kehidupan. Laozi berpendapat bahwa “pergerakan bumi selaras dengan alam, perbuatan orang suci selaras dengan alam dan alam adalah Tao”, maka alam semesta adalah indah karena ia tanpa niat. Tao melakukan segalanya dengan “tidak berbuat”. Sebaliknya membiarkan segala sesuatu terjadi sesuai dengan jalannya sendiri sehingga menciptakan keindahan dalam prosesnya.

Batu merupakan komponen penting dari taman yang terinspirasi oleh Taoisme. Menurut ajaran Taoisme, batu dan air dianggap saling bertolak belakang dimana batu bersifat “yang” dan air bersifat “yin”. Batu meskipun keras akan terkikis oleh air seiring waktu. Sebagian besar taman-taman klasik di Tiongkok mengutamakan penggunaan batu-batu kapur dari Danau Tai, salah satu danau air tawar terbesar di Tiongkok.

Menurut ajaran Taoisme, batu dan air dianggap saling bertolak belakang dimana batu adalah “yang” dan air bersifat “yin”. (Image: Faisal Akram/ Flickr CC BY-SA 2.0)

Filosofi Konfusianisme lebih menitikberatkan pada manusia dimana manusia dianggap terhubung dengan alam. Dengan demikian, filosofi ini menekankan pada keharmonisan hubungan antara manusia dan lingkungannya. “Taoisme menempatkan manusia diantara alam sementara Konfusianisme berbicara tentang keberadaan manusia di dalam alam,” kata June Li, seorang kurator taman kepada Los Angeles Times.

Konsep mengenai terhubung dengan alam semesta ini hampir merupakan fitur utama dari semua taman-taman klasik Tiongkok. Filosofi Konfusianisme berpendapat bahwa sebuah masyarakat yang teratur akan tercipta berlandaskan kesetiaan dan bakti. Fokus pada penciptaan keteraturan ini juga sangat mempengaruhi taman-taman di Tiongkok seperti terlihat dari rumitnya cara mereka merangkai berbagai elemen.

Salah satu aliran agama Buddha terbesar di Tiongkok adalah Buddhisme Chan. Ajaran tersebut berkembang pada abad ke 6 M dan pengaruhnya meluas hingga ke Korea dan Jepang. Meskipun konsep Buddhisme mempunyai pengaruh terhadap taman klasik Tiongkok, namun pengaruhnya juga sangat besar di Jepang dimana terdapat banyak taman-taman Zen yang terkenal.

Taman Zen di Jepang

Seorang biksu Jepang bernama Eisai yang hidup antara 1141 dan 1215 membawa masuk Buddhisme Chan ke Jepang, yang kemudian dikenal sebagai Buddhisme Zen. Ketika kuil-kuil Buddha dibangun di seluruh negeri, taman-taman kecil juga dibangun guna menyediakan tempat bagi para biksu dimana mereka bisa berjalan tanpa gangguan dan merenungkan ajaran Buddha.

Taman-taman kecil dibangun untuk memberikan kepada para biksu tempat dimana mereka bisa berjalan tanpa gangguan dan merenungkan ajaran Buddha. (Image: Screenshot / YouTube)

“Dalam tradisi Zen, tujuan didirikannya taman lebih ke arah keduniawian yaitu untuk mengingatkan para praktisi bahwa kehidupan adalah mendasar dan sederhana. Beberapa taman Zen pertama dijuluki ‘zazen-seki’ atau ‘batu meditasi’ karena kesederhanaannya serta tujuan dari keberadaannya adalah untuk memancarkan kesunyian, ketenangan dan keheningan kepada siapa pun yang merenungkannya,” menurut Faena.

Sekelompok biksu Buddha diyakini telah melakukan perjalanan ke seluruh Jepang untuk mendirikan taman Zen tersebut. Pada abad ke-15 beberapa taman Zen mulai mencerminkan proses pemikiran yang lebih abstrak. Penghijauan dan air tidak ditemukan dalam taman dan lebih berfokus pada pengelompokan batu. Saat ini taman Zen menjadi populer di seluruh dunia karena orang-orang merasakan bahwa tempat-tempat itu memberikan keheningan dan ketenangan dari hingar-bingar dan hiruk-pikuk kehidupan metropolitan. (visiontimes/sia/may)