Wisata

Kenangan Perjalanan ke Kenya

Kenya (Foto: Nahashon Diaz/Pixabay)

Kisah berikut bukan mengenai objek wisata, tetapi lebih pada orang-orang yang dijumpai dalam perjalanan ini, pertemuan yang meninggalkan kesan bahkan setelah sekian tahun…

Akhir tahun 1992, bersama teman karib asal Jerman, Henning, kami putuskan travel bersama ke Kenya. Karena terbang dari Berlin dengan Balkan Bulgarian Airlines, kami harus singgah beberapa jam di Sofia, ibukota Bulgaria. Baru pada malamnya kami lanjut terbang ke Nairobi, ibukota Kenya.

Tiba di bandara Nairobi, ransel kami ternyata ‘tertinggal’ di Sofia. Dalam kondisi lelah, pikiran pertama adalah mencari penginapan (saat itu booking online belumlah umum), kemudian bergegas ke kantor cabang Airlines, dikatakan ransel kami akan tiba besok. Hari pertama terpaksa kami lewatkan membeli beberapa kebutuhan mendesak, seperti sikat gigi dan celana dalam. Beruntung Henning bukanlah tipe orang yang suka menggerutu, sehingga meskipun perjalanan berawal demikian, hari-hari pertama di negara Afrika Timur itu kami tetap bisa nikmati dan tertawa dalam ironi.

Ke Kenya tentu salah satu atraksi utama adalah bersafari. Saat bersafari, kami bertemu Margaret, perempuan asal New York, sangat ramah, dan bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sebuah sekolah yang dibiayai oleh gereja, di desa kecil bernama Timau. Saat itu kami juga kesulitan menemukannya di peta traveller’s handbook kami, tapi katanya sekitar 22 km dari Kota Nanyuki, terletak di kaki Gunung Kenya, gunung tertinggi kedua di Afrika setelah Kilimanjaro.

Beberapa hari setelah safari usai, kami yang travel selama beberapa minggu di Kenya, memutuskan untuk mengunjunginya. Nanyuki sendiri tidaklah menarik, tapi kami harus bermalam di sana, jadi tugas pertama adalah mencari losmen.

Pegawai losmen masih remaja, tidak jelas apakah anggota keluarga pemilik atau pekerja anak adalah lazim. Ia sangatlah polos, meskipun kadang membuat saya agak geregetan. Salah komunikasi juga kerap terjadi, tetapi sekali lagi, saya ingatkan diri agar lebih bersabar. Sudah terjadi saat check in, kami katakan perlu satu kamar. Kami diminta menunggu karena kamar akan dirapikan, setelah selesai ternyata hanya satu tempat tidur yang diberikan sprei. Saya bertanya geregetan, “Ranjang saya bagaimana?” “Oh, katanya satu?” Jawabnya ringan.

Anak itu selain polos, juga penuh rasa ingin tahu, ia bertanya: Apakah kami bersaudara? Henning yang 100 persen bule, tersenyum simpul menatap saya yang berwajah 100 persen Asia. Sore itu kami belanja ke toko terdekat, beli satu sisir pisang, hotel boy ini melihat pisang, langsung memetik satu. Kami terkesima, kalau di Asia mencomot tanpa permisi termasuk kurang ajar, tapi akhirnya kami juga hanya bisa tertawa. Ia barangkali tidak bermaksud kurang ajar, tetapi begitulah dia. Polos habis.

Malam hari, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Ternyata dia lagi, si hotel boy. Dia berkata, “You give me hundred, I give you hundred.” Saya mulai jengkel, mau apa lagi anak ini. Oh ternyata setelah didengarkan maksudnya adalah tukar uang kecil, karena ada tamu lain butuh kembalian. Demikian pertemuan kami dengan si polos. Beberapa tahun kemudian, jika teringat si hotel boy ini, saya kadangkala tersenyum, berpikir betapa indahnya jika pikiran manusia lebih polos dan sederhana sedikit.

***

Esok harinya, kami cari transportasi umum ke desa Timau, ada angkutan jenis pick-up berpenutup terpal. Tempat duduk menurut kami sudah sangat penuh, tapi penumpang masih terus dinaikkan, rasanya kami seperti ikan sarden dijejalkan ke kaleng. Saya teringat naik bus kelas tiga di India juga tidak sesesak ini.

Akhirnya tibalah kami di Timau, tidak sulit mencari sekolah tempat Margaret mengajar dan tinggal. Kami bertanya apakah tidak bosan tinggal di desa sekecil itu, bahkan bioskop atau kedai minum pun tak terlihat. Margaret menjawab, “Di sini sangat menyenangkan.” Dia bercerita sebelumnya kerja sebagai pekerja sosial di New York, mengurus para pecandu narkoba. Lama-kelamaan dia sendiri merasa depresi dan frustrasi melihat orang-orang yang ia tangani. Sementara bekerja dengan anak-anak kecil yang masih polos di desa, justru memberikan kebahagiaan dan kedamaian baginya.

Untuk saya pribadi, pertemuan ini mengesankan. Margaret menyiapkan makan siang sederhana untuk kami. Dalam perjalanan kembali ke Nanyuki, tentu sulit merenung di angkot ‘ikan sarden’ yang penuh sesak, tetapi setelah itu saya kadangkala merenungkan betapa indahnya jika manusia punya rasa kemanusiaan dan kepedulian bagi sesama.

Anak Afrika (Foto: Charles Nambasi/Pixabay)

Yang ketiga, kebahagiaan akan hal-hal kecil. Itu kami alami saat naik kereta dari Nairobi menuju kota pelabuhan, Mombasa. Saat kereta sore perlahan-lahan meninggalkan pinggiran kota Nairobi, dari balik semak-semak atau rumah gubuk mereka, terlihat anak-anak kulit hitam dengan sorak-sorai berlari mengejar kereta. Itu adalah pemandangan yang menyentuh. Kami berdua terus melambai-lambaikan tangan sampai anak-anak ini hilang di kejauhan… Saya terpikir saat itu dan hingga banyak tahun kemudian, betapa indahnya jika manusia bisa bergembira akan hal-hal yang kecil.

Roda terus berputar, tanpa terasa 27 tahun telah berlalu. Tetapi beberapa perjumpaan di atas tanpa terasa juga telah membuka hati dan wawasan saya. (ntdindonesia/karnadi nurtantio)