Wisata

Malaka, Oh… Malaka

Red Square, Malaka (Image: Karnadi/NTD Indonesia)

Saat sekolah kita telah banyak mendengar Malaka, nama kota bersejarah yang sangat majemuk masa lalunya, benar-benar kota yang multikultural. Bangsa Portugis melihat lokasinya yang strategis, mulai membangun banteng di awal abad ke-16, Benteng A Famosa, kini menjadi salah satu bangunan bergaya arsitektur Eropa tertua di Asia Tenggara.

Namun pengaruh budaya asing tidak berhenti di sana, setelah Portugis datanglah bangsa Belanda. Balai Kota atau Stadthuys di Alun-Alun Merah, merupakan bangunan peninggalan Belanda tertua di Asia Tenggara, letaknya persis bersebelahan dengan Christ Church, gereja Protestan tertua di Malaysia. Sekali lihat sulit dilupakan, dengan warna merah batanya yang khas.

Kemudian giliran para pendatang Tionghoa yang membaur melalui perkawinan dengan warga setempat, maka terbentuklah budaya campuran antara Tionghoa dan Melayu. Bagi pengunjung yang tertarik dengan budaya “peranakan” tersebut dapat mengunjungi “Baba and Nyonya Heritage Museum” (dulunya rumah tinggal keluarga Tionghoa peranakan yang berasal dari tahun 1861), baik mebel dari masa itu, demikian pula desain interior rumah akan sangat menarik untuk diamati dan barangkali mengingatkan kita akan mebel atau rumah tua dari generasi eyang atau opa kita.

Pemukiman di sepanjang sungai, Malaka (Image: Sharon Ang/Pixabay)

Masih ada Jonker Street, yang saat ini banyak dipenuhi toko suvenir, toko kerajinan/barang antik, café dan restoran, tentu saja tempat sosialita tersebut senantiasa ramai dengan turis, baik siang ataupun malam – tempat untuk saling melihat dan dilihat.

Akses mudah dengan bus

Bila anda datang dari Kuala Lumpur, banyak operator bus ke Malaka beroperasi dari “Terminal Bersepadu Selatan” (TBS), terminal bus yang sangat efisien dan modern. Harga tiket ke terminal “Melaka Sentral” hanya berkisar 10-13 Ringgit dan perjalanan jika lalu lintas lancar, akan ditempuh dalam dua jam. Beberapa operator bus ke Malaka juga berangkat langsung dari bandara KLIA/KLIA 2, bila anda tidak rencana masuk ke kota Kuala Lumpur. (ntdindonesia.com/karnadi)