Wisata

Meteora, Bukit Pencerahan

Meteora (Image: Antonio Doumas/Pixabay)

Sejak masa lampau, manusia terus mencari makna dari kehidupan ini dan jati dirinya, meskipun di saat manusia menikmati kelimpahan dan kesenangan duniawi sering melupakan tujuan kedatangannya ke dunia ini, tetapi pada saat derita dan tua renta menjelang, manusia sadar bahwa kesenangan duniawi tidaklah abadi dan kembali mencari jati dirinya, mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta-nya.

Sebagian orang meninggalkan kehidupan berkeluarga dan pergi bertapa ke hutan, sebagian lagi mencari hakikat kehidupan di gua-gua pegunungan yang tinggi. Di masa lampau, banyak biara yang khusus dibangun di lokasi yang tinggi dan sunyi, barangkali para biarawan yang menyepi di sana berharap dapat terbebas dari penderitaan, serta mencapai kedamaian hati dan pencerahan spiritual tanpa banyak diusik urusan duniawi, salah satu tempat demikian adalah di Meteora, Yunani bagian tengah.

Meteora (Image: John Loannidis/Pixabay)

Bukit-bukit bebatuan yang menjulang di wilayah Thessaly ini memang menawarkan pemandangan alam yang khas, dan para pakar geologi juga telah mengetengahkan berbagai teori berbeda tentang pembentukannya. Tetapi yang membuatnya menjadi terkenal adalah keberadaan beberapa biara Gereja Ortodoks yang dibangun di puncak bukit-bukit tersebut, antara lain: Biara Suci Meteoron yang Agung (kompleks biara terbesar di lokasi ini, yang dibangun pada abad ke-14 dan sekarang dijadikan museum), Biara Santo Stefanus, Biara Trinitas Suci (salah satu yang paling sulit dicapai, karena harus melintasi lembah kemudian menapaki bukit terjal), Biara Rousanou dan lainnya.

Patut diingat, di masa lampau perjalanan ke Meteora adalah perjalanan ziarah. Bukan seperti sekarang lebih pada menikmati keindahan alam dengan beberapa biara di puncaknya yang memang juga indah, tetapi dahulu lebih merupakan perjalanan menuju peningkatan spiritual yang direfleksikan dengan bebukitan alami yang menjulang vertikal.

Untuk tiba di Meteora, umumnya para pengunjung harus melalui kota Kalampaka, yang jaraknya sekitar 350 km dari Athena, dapat diakses dengan bus atau kereta. Sebagian besar penginapan juga berada di Kalampaka, mulai dari penginapan sederhana hingga mewah; alternatifnya pengunjung juga dapat tinggal di desa Kastraki. (ntdindonesia.com/karnadi nurtantio)