Wisata

Perang Dagang Berdampak pada Kunjungan Turis Tiongkok ke Angkor Wat

Wisatawan berkunjung ke Angkor Wat (Image: Karnadi/NTD Indonesia)
Wisatawan berkunjung ke Angkor Wat (Image: Karnadi/NTD Indonesia)

Angkor Enterprise, pengelola kompleks candi Angkor Wat yang terkenal di dunia, belum lama ini merilis bahwa jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke situs sejarah tersebut dari Januari hingga September tahun ini hanya sekitar 1,6 juta pengunjung, turun 12 persen dibandingkan kurun waktu yang sama pada tahun sebelumnya.

Chuk Chumnor, jurubicara Kementerian Pariwisata Kamboja menyatakan pada Khmer Times bahwa turunnya jumlah turis ke Angkor Wat (yang umumnya datang melalui kota Siem Reap) ternyata diakibatkan penurunan signifikan jumlah wisatawan asal Tiongkok, yang diperkirakan sebagai akibat langsung dari perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Chuk Chumnor seperti dikutip Khmer Times berkata, “Dibicarakan secara umum, turis Tiongkok yang berkunjung ke Siem Reap berasal dari kelas menengah, maka jumlah uang yang mereka dapat belanjakan untuk wisata telah terpengaruh oleh perang dagang antara AS-Tiongkok.”

Ia menambahkan, sebaliknya jumlah pengunjung asal Tiongkok yang datang ke ibukota Phnom Penh mengalami peningkatan, karena kebanyakan dari kalangan pengusaha dan para investor. Selama beberapa tahun terakhir ini, warga Tiongkok memang merupakan kontingen terbesar orang asing yang berkunjung ke Kamboja, baik untuk tujuan wisata maupun kepentingan bisnis.

Angkor Wat menjadi sumber pemasukan utama bagi industri pariwisata Kamboja. Tiket untuk satu hari kunjungan ke kompleks tersebut saat ini dijual seharga $37 (dolar AS); tiket untuk tiga hari seharga $62, sementara tiket untuk kunjungan selama seminggu dijual pada harga $72. Sementara warga Kamboja sendiri tidak perlu membayar tiket masuk untuk berkunjung ke situs peninggalan nenek moyang mereka. (ntdindonesia.com/kar)