Keluarga

Dari Homeschooling Menuju Perguruan Tinggi

Homeschooling
Homeschooling. @Pexels

Para orangtua homeschooling cenderung lebih merasa percaya diri saat membimbing anak-anak pada pendidikan sekolah dasar dan bahkan sampai tingkat sekolah menengah pertama.

Tetapi ketika sampai pada sekolah menengah atas, tanggung jawab untuk memberikan pendidikan sebagai persiapan masuk perguruan tinggi dan memaksimalkan peluang mereka, memberikan tekanan tambahan bagi seorang pendidik homeschooling.

Ada banyak hal yang perlu diketahui tentang apa yang dicari perguruan tinggi dari siswa homeschooling dan bagaimana menggambarkan pengalaman dan prestasi mereka sebagai siswa homeschooling. Saya melakukan wawancara pada Daniel E. Santos, CEO Prepory, sebuah program konseling perguruan tinggi daring, tentang saran yang ditujukan pada para siswa homeschooling sekolah menengah atas dan keluarga mereka. Berikut yang dia sampaikan.

The Epoch Times: Bagaimana panitia penerimaan mahasiswa baru umumnya memandang pendaftar dengan latar belakang homeschooling?

Daniel E. Santos: Umumnya, panitia penerimaan mahasiswa baru memandang pendaftar dengan latar belakang homeschooling sama seperti terhadap pendaftar lainnya ? secara holistik. Sebagian besar perguruan tinggi dan institut menggunakan proses peninjauan holistik untuk memahami kandidat sebagai individu daripada suatu “kumpulan angka-angka”. Panitia melihat esai, kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti, surat rekomendasi, faktor sosial ekonomi, dan informasi lainnya untuk membuat keputusan holistik pada berkas pendaftaran masing-masing pendaftar.

Tantangan dalam meninjau berkas pelamar homeschooling yakni bagaimana membandingkan siswa ini dengan siswa yang lain. Karena siswa homeschooling seringkali tidak memiliki kurikuler yang sama dengan siswa tradisional, akan sulit untuk memahami bagaimana seorang siswa homeschooling memberi tantangan pada diri mereka secara akademis.

The Epoch Times: Apakah keuntungan yang dimiliki para siswa homeschooling dalam proses penyaringan di perguruan tinggi?

Mr. Santos: Seperti kebanyakan perguruan tinggi dan institut yang diiklankan, para siswa dievaluasi dalam konteks lingkungan sekolah, sebagai akibatnya, siswa homeschooling dievaluasi dalam lingkungan dimana seorang siswa tidak memiliki jumlah mata pelajaran yang tidak terbatas untuk dipilih ataupun sejumlah besar sumber daya yang didanai negara untuk mendukung mereka melewati pendidikan mereka. Ini berarti siswa homeschooling tidak diharapkan untuk mengambil sebanyak atau mengambil mata pelajaran yang “sulit” atau “lanjutan” (seperti, AP, IB, gelar kehormatan, AICE, dan/atau dual enrollment: program yang memungkinkan siswa SMA mengambil diploma secara bersamaan) untuk menunjukkan bahwa mereka menantang diri mereka sendiri.

Selain itu, siswa homeschooling yang memilih mengambil mata pelajaran jenis ini secara daring atau menunjukkan nilai akademis yang mengesankan meskipun kurang akses ke ruang pembelajaran tradisional dipandang lebih baik oleh panitia.

The Epoch Times: Apa kelemahan yang dimiliki oleh para siswa homeschooling untuk masuk ke perguruan tinggi?

Mr. Santos: Kelemahan utama yang dimiliki oleh para siswa homeschooling untuk masuk ke perguruan tinggi adalah kurangnya penawaran kurikuler dan sumber daya untuk bimbingan kuliah. Karena penawaran kurikuler yang terbatas dan kurangnya standarisasi kurikulum homeschooling, seringkali komite admisi sulit membandingkan siswa homeschooling dengan siswa tradisional. Akibatnya, komite admisi bergantung kepada nilai tes standar untuk lebih memahami kemampuan akademik pelamar dari homeschooling.

Selain itu, proses pendaftaran ke perguruan tinggi sangat kompleks dan dimulai di kelas sembilan. Seringkali siswa homeschooling tidak memulai perencanaan ke perguruan tinggi lebih awal dan tidak memiliki akses ke konselor sekolah untuk membantu mereka memilih mata pelajaran atau membuat keputusan tentang proses pendaftaran ke perguruan tinggi.

The Epoch Times: Apa yang Anda rekomendasikan pada para orang tua siswa baru homeschooling di tingkat sekolah menengah atas untuk mempersiapkan diri agar bisa berhasil diterima di perguruan tinggi?

Mr. Santos: Orang tua siswa baru sekolah menengah atas harus mulai mendiskusikan tentang perguruan tinggi sejak dini. Mereka harus mendorong siswa untuk mengeksplorasi perguruan tinggi dan membuat mereka bersemangat untuk memasuki perguruan tinggi.

Orang tua juga harus mengeksplorasi beberapa kurikuler tambahan termasuk kursus AP online dan dual-enrollment (pendaftaran ganda, jika memungkinkan) di perguruan tinggi setempat. Ini akan membantu siswa menguji diri sendiri meski peluang kurikuler terbatas.

Terakhir, orang tua harus mempertimbangkan untuk berbicara dengan konsultan penerimaan mahasiswa baru untuk membahas tujuan akademik dan kampus yang dituju anak mereka. Konsultan admisi dapat membantu siswa memilih mata pelajaran, ikut dalam kesempatan pembelajaran lanjutan, mengembangkan rencana ekstrakurikuler, dan mulai mengembangkan profil siswa untuk masuk ke perguruan tinggi.

The Epoch Times: Bagaimana proses pendaftaran perguruan tinggi berbeda dengan siswa homeschooling, jika kondisi itu memang ada?

Mr. Santos: Perbedaan utama yang mungkin dialami oleh para siswa homeschooling dalam proses penyaringan masuk perguruan tinggi adalah bagian administratif dari proses tersebut. Meskipun bervariasi dari siswa homeschooling yang satu dengan yang lain, transkrip nilai siswa homeschooling cenderung terlihat berbeda diabanding siswa tradisional. Siswa homeschooling mungkin juga kesulitan untuk mendapatkan surat rekomendasi dari guru yang tidak mempunyai hubungan secara objektif. Akhirnya, beberapa perguruan tinggi dan institut mungkin akan mengharuskan siswa homeschooling untuk mengikuti tes standar tambahan (tes bidang studi SAT) untuk lebih memahami kemampuan akademik siswa.

The Epoch Times: Apakah saran terbaik anda untuk para siswa homeschooling yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi?

Mr. Santos: Mulailah merencanakan pendidikan ke perguruan tinggi lebih awal. Tantang diri Anda secara akademis dan temukan cara untuk terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler di sepanjang empat tahun sekolah menengah atas. Pertimbangkan menyewa konselor pribadi untuk memandu Anda melalui proses pendaftaran masuk ke perguruan tinggi. (theepochtimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor

situs slot gacor