Ada sebuah perusahaan yang sangat sukses, hanya dalam beberapa tahun saja, produk barunya sudah ternama di pelosok negeri. Direktur perusahaan ini, seorang perempuan paruh baya yang berpenampilan sederhana.
Suatu ketika seorang wartawan melontarkan sebuah pertanyaan kepadanya, “Apa rahasia keberhasilan perusahaan Anda?” Setelah berpikir sejenak, direktur lalu menceritakan pengalamannya mengenai sebuah perusahaan pesaingnya.
“Suatu ketika pelanggan saya memberitahukan isi sebuah chat dari perusahaan pesaing saya ketika dia menanyakan perbandingan produk antara perusahaan dia dan saya. Isi chatnya menjelek-jelekkan produk saya. Tetapi karena si pelanggan lebih menyukai produk kami, maka si pelanggan memberitahukan perihal isi chat itu. Saat itu saya tidak merasa emosi ataupun marah, namun juga tidak ingin saya biarkan begitu saja. Saya pikir, karena konflik perselisihan sudah terjadi, maka seharusnya saya menangani persaingan ini dengan baik. Tetapi bagaimana menyelesaikannya? Pada saat itu saya sendiri juga tidak berdaya.”
“Suatu hari saya sedang berada di luar rumah dan melihat ada segerombolan angsa liar yang terbang melintasi cakrawala. Melihat angsa-angsa liar itu, mendadak saya menyadari bagaimana saya harus bertindak. Saya menggambar sebuah lukisan angsa liar terbang di langit dan membentuk sebuah aksara Tionghoa, Ren (人), yang bermakna manusia. Kemudian lukisan itu saya kirim kepada perusahaan pesaing tersebut dengan sebuah surat pengantar di dalamnya.”
Isinya memberitahukan bahwa, ketika gerombolan angsa terbang, beban yang paling berat dipikul angsa yang berada di posisi terdepan, karena dia harus berupaya keras menerobos arus udara. Sedangkan angsa-angsa yang ada di belakangnya baru bisa terbang santai mengandalkan arus udara yang sudah terbelah. Jika Anda yang berada di belakang memukul jatuh angsa pemimpin terdepan, atau bahkan memukul jatuh semua angsa di depan yang membukakan jalan terbang Anda, bagaimanakah Anda akan bertahan hidup? Bukankah semakin besar barisan angsa, semakin besar pula kemungkinan bertahan hidup? Sama halnya dengan manusia, hanya dengan saling menopang dan membantu baru bisa hidup dengan leluasa.”
“Setelah itu apa yang terjadi?” tanya wartawan itu.
“Dengan perasaan malu pemilik perusahaan pesaing mengatakan kepada pelanggan saya, bahwa dia tidak menyangka saya bisa menunjukkan sikap yang demikian lapang dada, sebaliknya dia malah merasa dirinya sangat picik!” kata sang direktur.
“Lantas bagaimana selanjutnya?” tanya wartawan itu dengan rasa penasaran.
Sambil tertawa direktur itu berkata, “Akhirnya kami malah menjadi rekan usaha, bergabung untuk mengembangkan produk-produk baru. Dewasa ini produk tersebut sudah diekspor ke banyak negara.” (epochtimes)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
