Dari semua penghalang yang menghalangi kita untuk menjalani hidup bahagia, sifat manusia kita sendiri yang paling membuat terpuruk. Meskipun kita mungkin memiliki kehidupan yang dipenuhi dengan banyak kebahagiaan dan berkah, kita sering cenderung berfokus pada hal negatif daripada positif, menyesali terus apa yang kehilangan, daripada yang sudah diperoleh.
Kecenderungan manusia untuk berfokus pada ketidaksempurnaan kecil ini disebut “Sindrom Ubin yang Hilang”, yang merupakan istilah yang diciptakan oleh Dennis Prager dalam bukunya yang menggugah pikiran: Happiness is a Serious Problem: A Human Nature Repair Manual.
Dalam bukunya, Prager dengan mahir menjelaskan tantangan yang ditimbulkan oleh sifat manusia untuk mengejar kebahagiaan dan membuat analogi untuk menyoroti kecenderungan manusia untuk memperhatikan ubin “hilang” di langit-langit ubin yang indah daripada menghargai keindahan yang lebih besar dari keseluruhan bagian .
Dia berpendapat bahwa untuk berhasil menangani Sindrom Ubin yang Hilang, kita perlu menentukan apakah apa yang hilang adalah pusat kebahagiaan kita atau hanya kesempurnaan yang tak sepenuhnya terpuaskan.
Semua Mata Tertuju Pada Ubin yang Hilang
Bayangkan diri Anda memasuki ruangan yang baru didekorasi. Lantai marmer berkilauan, masing-masing diukir dengan gambarnya sendiri. Perabotannya besar dan mengesankan, menarik mata Anda ke atas. Pandangan Anda kemudian diarahkan ke langit-langit yang luar biasa, sebuah mahakarya mosaik.
Dan kemudian Anda menyadarinya, di sisi kanan langit-langit, ada ubin yang hilang, dan berusaha semaksimal mungkin, Anda tidak bisa tidak mengabaikan ruangan mewah itu sendiri karena mata Anda sangat tertarik pada ubin yang hilang itu. Sebenarnya, yang terjadi adalah Anda memperbesar ketidaksempurnaan dan mengabaikan lusinan ubin lain yang dipasang dengan sangat indah.
Oleh karena itu, Anda telah membiarkan fokus Anda ditarik pada apa yang hilang, dan merampas kesempatan untuk menikmati sesuatu yang indah dan bermakna.
Fokus berlebihan pada apa yang hilang ini tentu akan memicu rasa tidak puas dan rasa sesal, perasaan yang secara rutin mengganggu kesehatan dan kebahagiaan Anda. Padahal Anda masih punya banyak hal yang patut disyukuri.
Bersyukur adalah “Rahasia Kebahagiaan”
Hidup bergerak ke arah yang menjadi fokus pikiran Anda dan tidak akan pernah bisa dibuat sempurna. Mungkin juga Anda tidak akan pernah mencapai titik di mana semua ubin (keinginan) yang hilang telah dilengkapi. Karena kehidupan manusia memang tidak sempurna.
“Semua orang yang bahagia bersyukur, dan orang yang tidak tahu berterima kasih tidak bisa bahagia. Kita cenderung berpikir bahwa ketidakbahagiaanlah yang membuat orang mengeluh, tetapi lebih tepat dikatakan bahwa mengeluhlah yang membuat orang menjadi tidak bahagia, ” ujar Dennis Prager.
Saat selalu memfokuskan energi dan waktu Anda pada pandangan positif dan merasakan rasa syukur atas hal-hal yang sudah Anda miliki, hampir pasti bahwa perasaan negatif dan penyesalan yang berlarut, akan hilang seiring berjalannya waktu.
Untuk menyadari hubungan ini, Anda akan dapat mengubah perspektif Anda tentang dunia dan mendapatkan rasa syukur yang mengangkat, memperkaya, dan memperluas jiwa manusia dan hati manusia. (visiontimes/ch)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
