Suatu ketika, ada seorang motivator bernama Jaka, melewati sebuah desa tempat teman masa kecilnya dulu tinggal. Dia memutuskan untuk mengunjungi rumah temannya itu yang bernama Doni.
PODCAST
Ketika sampai di rumah temannya, Jaka melihat temannya itu hidup dalam kemiskinan, bersama dengan saudara laki-lakinya, di dalam sebuah gubuk yang reyot.
Setelah bertemu, mereka mengobrol beberapa waktu.
Saat senja tiba, Jaka ingin pamit pergi, namun Doni menahannya, memintanya untuk menginap saja karena sebentar lagi hari sudah malam. Kemudian Jaka melihat saudara laki-laki Doni, memetik beberapa buah cabai dari pohon cabai yang tumbuh di belakang rumah mereka, lalu membawanya pergi.
Beberapa waktu kemudian, saudara laki-laki itu kembali, dan membawa dua buah potong roti kecil.
Ternyata itu adalah makan malam mereka.
Saudara laki-lakinya itu berkata bahwa dia tidak lapar, jadi akhirnya, hanya Doni dan Jaka yang memakan roti tersebut.
“Silahkan makan roti ini kawan, ini yang kami lakukan selama bertahun-tahun saat kami memerlukan makanan. Beruntung sekali, ada pohon di belakang rumah yang selalu menjadi sumber makanan bagi kami.”
Jaka merasa tidak tega melihat temannya itu hidup dalam kemiskinan, kemudian dia menemukan sebuah akal.
Malam harinya, saat semua orang sudah tidur, Jaka pergi ke halaman belakang dan menghancurkan pohon cabai yang ada di sana. Kemudian, dia melarikan diri.
Pagi harinya, dua bersaudara itu menemukan, pohon cabai yang selama ini menjadi sumber penghasilan mereka telah rusak, dan mereka juga tidak bisa menemukan Jaka dimanapun.
Saat mengetahui bahwa itu adalah perbuatan Jaka, mereka sangat marah sekaligus sedih.
Beberapa tahun berlalu, Jaka si motivator kembali melewati desa tempat teman lamanya itu. Dengan harap-harap cemas, ia mampir untuk menengok rumah gubuk temannya itu. Namun ia cukup kaget, saat melihat bahwa rumah gubuk yang reyot itu kini telah berubah menjadi rumah yang kondisinya cukup baik.
Dengan agak ragu, ia mengebel rumah Doni temannya itu. Ia tidak yakin apakah Doni akan marah atau tidak padanya.
Namun, saat Doni keluar dan melihat muka Jaka, ia justru tersenyum lebar dan memeluk teman lamanya itu sambil menepuk punggungnya. Doni segera mengundang Jaka masuk ke dalam rumah, lalu menyuguhkan kue-kue yang enak dan teh yang hangat untuknya. Doni berkata:
“Temanku, sudah lama aku menunggu kedatanganmu! Aku tidak sabar ingin berterima kasih padamu secara langsung atas perbuatanmu yang nekat itu, menghancurkan pohon cabai kami yang satu-satunya!”
Perlahan-lahan senyum mulai mengembang di wajah Jaka. Sambil menyeruput teh nya, ia berkata:
“Ceritakan padaku, apa yang terjadi setelahnya, kawan.”
“Ya, awalnya aku dan saudaraku memang sangat marah. Tapi setelah pohon itu hancur, mau tidak mau kami harus pergi keluar rumah untuk mencari pekerjaan. Ternyata tidak terlalu sulit mencari pekerjaan, mungkin karena kami masih muda.
Aku mendapat pekerjaan di pasar, dan saudaraku mendapatkan pekerjaan di toko roti. Penghasilan kami ternyata cukup banyak, pelan-pelan kami menabung dan berhasil merenovasi rumah ini menjadi lebih bagus! Kami bahkan tidak kekurangan makanan lagi. Jika saja waktu itu kamu tidak merusak pohon cabai kami, mungkin sampai detik ini, kami masih sangat miskin!”
Saat berada dalam zona nyaman dan terus saja diberi sokongan, kita cenderung akan menjadi tergantung dan semakin malas.
Perkembangan dan kemajuan, hanya bisa terjadi jika kita berani untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Saksikan video kami:
Youtube ☛ https://www.youtube.com/ntdkehidupan
Dailymotion ☛ https://www.dailymotion.com/ntdkehidupan
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu
VIDEO REKOMENDASI
