Nasib dibawa secara lahiriah. Keberuntungan didapat setelah lahir. Tidak peduli apakah manusia percaya atau tidak dengan nasib, di dalam dunia fana ini tetap saja ada sebagian orang mengalami kesuksesan, usahanya berjaya, berbadan sehat, terhindar dari segala kesulitan, tidak ada sakit maupun kesedihan, suami-isteri hidup rukun, keluarga makmur.
Ada sebagian orang yang menghasilkan banyak uang tetapi uang tersebut tidak bisa dia simpan, suami-isteri selalu bertengkar, tubuh terlilit oleh penyakit, dipersulit oleh orang-orang licik, hambatan berlapis-lapis, mara bahaya selalu mengintai di empat penjuru, sulit sekali melangkah.
Dibalik fenomena ini semua, sebenarnya disebabkan pengaruh jodoh dan moralitas pada manusia. Keberuntungan, kegembiraan dan kesuksesan dalam dunia ini semua datang dari mengikat jodoh kebaikan.
Malapetaka, kesengsaraan dan kegagalan adalah balasan karma yang terjadi setelah manusia berbuat kejahatan. Manusia yang senantiasa mengikat jodoh kebaikan dengan sendirinya dia akan mengumpulkan De dari banyak orang.
Sedang manusia yang melakukan penipuan dan kejahatan walaupun bisa mendapatkan kejayaan dan kebahagiaan sesaat, namun akhirnya dia tidak akan lolos dari hukuman timbal balik karma (dosa). Ia pasti akan menelan dan merasakan buah kejahatan yang telah dia tanamkan.
Era 1960-an di AS, ada seorang Ibu kulit hitam di pinggir jalan tol sedang menahan terpaan hujan yang sangat lebat, karena mobil yang dia kendarai mogok di tengah perjalanan. Dia sangat membutuhkan bantuan, maka ia mencoba mengetuk pintu sebuah rumah di pinggir jalan.
Zaman itu sedang terjadi konflik dan diskriminasi. Yang membuka pintu ternyata seorang Ibu kulit putih. Setelah menanyakan dengan jelas duduk persoalannya, dia mempersilakan tamunya masuk ke rumah dan membantu mengeringkan pakaian serta menyiapkan sebuah kamar untuk menginap semalam.
Keesokan harinya, tuan rumah memanggil montir untuk memperbaiki mobil. Setelah mobil selesai direparasi, dia baru melepas pergi tamunya tersebut. Tindakannya ini membuat Ibu berkulit hitam tersebut terharu hingga berlinangan air mata.
Beberapa tahun telah berlalu, Ibu kulit putih tersebut seolah sudah melupakan peristiwa itu, tetapi ketika keluarganya mengalami krisis ekonomi serius yang belum pernah dialami sebelumnya, bahkan sudah sampai ke taraf hampir tidak bisa membeli beras, di luar dugaan dia menerima wesel kiriman uang dalam jumlah besar.
Di atas kertas kiriman itu tertulis kata-kata, “Mrs. Rose, saya sangat berterima kasih dengan uluran tangan Anda ketika malam itu, budi baik Anda akan saya ingat selamanya. Orang yang baik hati pasti akan mendapatkan balasan kebaikan, Tuhan memberkati Anda!”
Asalkan dalam hati selalu ada pikiran baik, pasti memiliki banyak kesempatan untuk mengikat jodoh kebaikan secara luas. Apabila segala perilakunya selalu demi kebaikan orang lain, biasanya dalam masyarakat Tiongkok akan menyebut orang tersebut sebagai Bodhisatva hidup, maha belas kasih menolong manusia dalam kesulitan dan kesengsaraan seperti seorang Bodhisatva.
Sebenarnya orang tersebut sedang melakukan hal yang sangat bermakna sekali bagi jiwanya sendiri. Jika jodoh kebaikan selalu eksis maka sebab akibat akan selalu eksis pula.
Orang tersebut tidak hanya menanamkan benih yang menghindarkan diri sendiri dari kesulitan dan kesengsaraan, juga telah menanamkan dasar yang sangat baik bagi kehidupannya di masa mendatang.
Sesungguhnya keberuntungan dalam dunia fana ini datang dari ikatan jodoh kebajikan yang kita rangkai sendiri. (epochtimes/lin)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
