Budi Pekerti

Teringat Kehidupan Lalu

Biksu
Biksu. @Pixabay

Dahulu ada seorang sastrawan bernama Wang Xiaoyuan yang menceritakan sebuah kisah nyata. Dikisahkan ada seorang biksu melewati sebuah rumah jagal, tiba-tiba dia menangis, perasaannya sangat sedih. Orang sekitar yang melihatnya merasa heran, lalu menanyakan kenapa dirinya begitu sedih?

Biksu tua ini berkata, “Cerita ini sangat panjang, saya bisa mengingat 2 kali kehidupan masa lalu saya. Yang pertama, ketika itu saya dilahirkan menjadi seorang kriminal yang selalu merugikan orang lain dan juga suka membunuh binatang, saat berusia 30 tahun, saya meninggal karena sakit. Ketika meninggal, arwah saya ditangkap oleh penjaga neraka dan dibawa bertemu dengan raja neraka. Raja neraka memutuskan, karma saya terlalu banyak, lalu saya dihukum dengan karma besar”.

“Pada saat itu saya hanya merasa terombang-ambing, seperti mabuk, kepala saya sangat sakit dan panas, tiba-tiba terasa ada angin sejuk, rupanya saya telah dilahirkan kembali di sebuah kandang babi menjadi babi,” kata biksu itu.

Sembari mengingat masa lalu biksu itu berujar: “Saat saya sudah  tidak menyusu lagi, saya menyadari makanan babi itu sangat kotor, tetapi karena saya sangat lapar, terpaksa memakannya. Lama kelamaan, saya mengerti bahasa babi, selalu mengobrol dengan babi lainnya. Diantara mereka yang masih bisa mengingat masa lalunya juga sangat banyak, hanya mereka tidak bisa mengatakannya kepada manusia, kami tahu pada suatu hari pasti akan dijagal, oleh sebab itu kami selalu mengeluarkan suara erangan karena memikirkan masa depan yang menyedihkan.”

Biksu itu melanjutkan berkata, “Di pelupuk mata dan bulu mata kami selalu tergantung air mata, karena kami tahu hidup kami sangat menyedihkan. Kami terlihat bodoh dan lamban, kulit kami tipis, ketika musim panas, seluruh badan rasanya seperti terbakar, oleh sebab itu kami hanya dapat memerendamkan tubuh di dalam lumpur, sehingga terasa agak nyaman, bulu kami sangat jarang dan tipis, ketika musim dingin kami sangat kedinginan, ketika sudah dewasa, merasa nestapa karena hanya menunggu waktu dijagal.”

Tidak hanya itu, dia menceritakan tentang penderitaan yang dialaminya: “Ketika ditangkap orang, di dalam hati sudah tahu pasti sudah akan mati, tetapi masih berusaha lari menghindar, nadi berdenyut dengan kencang, perut kram. Terkadang keempat kaki kami diikat di bambu tubuh diangkut terbalik pergi, rasanya lebih sakit daripada hukuman cambuk, setelah tiba di rumah jagal, penjagal meletakkan kami di lantai, hati sangat takut, ada yang langsung dijagal, dan ada yang menunggu beberapa hari. Penderitaan ini bahkan lebih tak tertahan lagi.”

Biksu itu juga menceritakan saat-saat dirinya dijagal: “Penjagal dengan pisaunya menusuk ke jantung saya, sakitnya tidak terhingga, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.”

Menjelang kematiannya saat reinkarnasi menjadi babi ia berujar, “Pada saat itu arwah saya meninggalkan tubuh babi, ketika saya siuman, saya telah reinkarnasi menjadi manusia. Karena raja neraka mengetahui saya melakukan beberapa kebaikan, saya diberi kesempatan menjadi manusia lagi, ini adalah kehidupan sekarang.”

Biksu itupun berkata, “Tadi ketika saya melewati rumah jagal tersebut, melihat babi tersebut dijagal, saya teringat pada penderitaan saya yang dahulu, oleh sebab itu saya menangis dan merasa sangat sedih.”

Mendengar kisah dari biksu itu, orang-orang disekitarnya bertekad didalam hati untuk tidak lagi melakukan hal-hal yang buruk, bahkan penjagal di rumah jagal tersebut juga berhenti dari pekerjaannya, beralih profesi menjadi penjual sayur.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor