Cao Cao, dari Dinasti Han Timur, memiliki dua putra terkemuka dari sekian banyak anaknya; Cao Pi dan Cao Zhi. Sebagai seorang remaja, Cao Zhi menunjukkan bakat sastra yang hebat dan disukai oleh ayahnya.
Ketika kakak laki-laki Cao Pi menjadi kaisar, dia menganggap adiknya Cao Zhi sebagai ancaman bagi tahtanya.
Suatu hari Cao Pi berkata pada Cao Zhi bahwa dia harus membuat puisi dalam tujuh langkah atau dia akan menghadapi eksekusi. Cao Zhi menjawab tantangan tersebut dan menciptakan puisi berikut:
Syair Tujuh Langkah
Tangkai pohon kacang dibakar untuk menyalakan api merebus kacang,
Di dalam periuk, kacang menangis
Wahai batang, kamu tahu akar kita sama,
Jadi mengapa kamu mau menyiksa saya?
Cao Zhi mengibaratkan dirinya sebagai kacang dalam pot, dan Cao Pi sebagai batang kacang yang membara di bawah periuk. Kacang dan batang telah tumbuh dari akar yang sama, tetapi sekarang batang menggunakan energinya untuk merebus kacang yang tak berdaya dan yang lemah di dalam periuk.
Cao Zhi menggunakan metafora ini untuk menyinggung fakta bahwa Cao Pi dan dia adalah saudara kandung yang dibesarkan oleh ayah dan ibu yang sama, namun sekarang kakak laki-laki tertua itu berusaha membunuh adiknya yang lebih muda. Kesedihan dan kepahitannya terlihat jelas.
Metafora yang tepat, diutarakan dengan cerdik, mudah dipahami dan sangat bermakna, dikatakan telah menggerakkan saudaranya Cao Pi untuk merasa malu dan menyesal, sehingga tidak jadi mengeksekusi Cao Zhi (visiontimes)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
