Budi Pekerti

Merubah Diri

Saya memiliki kerabat yang terjerat narkoba, bolak-balik masuk panti rehabilitasi dan keluar masuk penjara, namun tidak jera-jera. Kehidupannya yang sebelumnya makmur sekarang tinggal di rumah kontrakan dengan pekerjaan serabutan. Namun anehnya ketika keadaan membaik sedikit, kembali ia menikmati kebiasaan lamanya. Narkoba lagi! Ditangkap lagi!

Saya merenung, kita pun sering mengulang kesalahan yang sama. Seperti kerabat di atas, bahkan penderitaan hebat pun tidak mampu membuat dia jera dan sadar. Bayangkan sudah jatuh miskin, narkoba, dipenjara pula. Bukankah sangat menderita? Bahkan penderitaan sebesar itu pun tidak cukup kuat untuk membuat seseorang bertobat. Berhenti dan mau berubah menjadi manusia baru. Terlintas dalam benak, pasti ada misteri di balik semua ini.

Benda yang kita masukkan dalam pikiran kita hidup

Contoh sederhana yang saya temukan adalah sulitnya mengubah kebiasaan diri. Saya adalah penggemar film, sangat kerajingan nonton. Pernah nonton seharian menghabiskan enam DVD berseri, itu berarti saya habiskan waktu 12 jam. Dan setelahnya, setiap saya melihat TV dan film, daya tarik mereka membuat saya diam melihat. Sepertinya mereka mengajak saya untuk duduk sebentar, melihat sebentar, dan menikmati mereka. Mereka tersebut seperti benda hidup. Mereka menarik tangan saya memegang remote, duduk dan terus diarahkan untuk melihat mereka. Bagaimana dengan anda? Apakah anda juga menyadarinya?

Demikian pula hp yang kita miliki, kita senantiasa diarahkan melihatnya sepanjang waktu. Dompet ketinggalan, saya belum tentu pulang. Tapi jika hp ketinggalan, saya pasti pulang, karena uang pun sudah digital, ada di dalam hp. Malah ada teman yang kalau tidak buka hp dalam satu hari sepertinya ada yang kurang, seperti kebiasaan makan. Kalau tidak makan akan kelaparan, sama jika tidak buka hp rasanya lapar, hidup terasa kurang karena ada yang belum tercukupi.

Jadi semua hal/benda yang kita masukkan ke dalam diri kita (termasuk pikiran dan makanan) sebenarnya mereka itu hidup. Mereka akan menarik kita.

Manusia baik atau buruk ditentukan oleh apa yang masuk dalam pikiran

Sadar atau tidak sebetulnya hampir setiap saat kita memasukkan benda/sesuatu ke dalam diri. Prosesnya adalah dari apa yang kita lihat, dengar dan rasakan semuanya dirangkum oleh otak. Ini adalah proses berpikir. Masalahnya seringkali kita tidak kritis dengan apa yang masuk ke dalam diri kita. Kita cenderung setuju dengan yang sesuai dan menolak yang berbeda. Kita cenderung mencari yang kita sukai dan otomatis membenci yang tidak kita sukai. Hal ini sepertinya otomatis tapi sebetulnya itu adalah proses perlahan tapi pasti akan membentuk diri kita. Dan kita menjadi seperti yang kita masukkan.

Misalnya sebentar lagi kita akan menghadapi pemilu, setiap orang akan membentuk dan terbentuk dengan pilihannya masing-masing. Namun bentukan itu adalah sebuah proses, kita akan mudah setuju dengan calon kita dan sebaliknya mengkritisi yang bukan calon kita. Semakin banyak hal positif yang kita dengar tentang pilihan kita semakin kita akan percaya dan akan bela mati-matian, sebaliknya jika hal buruk yang kita dengar tentang pihak lawan akan semakin memperkuat kebencian dan penolakan.

Dalam hal ini penulis hanya ingin menyampaikan, Jika yang kita miliki adalah banyak benda buruk, maka diri kita akan ditarik menjadi buruk atau sebaliknya kita memiliki kebiasaan atau benda-benda baik kita akan diarahkan untuk jadi orang yang lebih baik.

Pertanyaannya adalah apakah kita memasukkan hal-hal baik dalam kehidupan kita? Apa yang selayaknya masuk ke dalam pikiran kita?

Contoh sederhana, jika kita terbiasa menonton blue film, pikiran kita yang dirusaknya. Setiap kita melihat perempuan/pria ideal, membuat pikiran dan hati kita jadi tidak seimbang. Pikiran dipenuhi dengan nafsu dan perasaan pun bergejolak ingin segera dipenuhi keinginannya. Apa yang masuk dalam pikiran kita, itulah yang memengaruhi tindakan kita. Bukankah kita jadi manusia cabul? Jika setiap hari yang kita masukkan dalam pikiran adalah hal-hal demikian.

Lingkungan sekitar berpengaruh terhadap pikiran

Selama ini saya menganggap diri sendiri yang tidak bisa menjaga dan mengendalikan, tapi dengan kesadaran ini, saya melihat benda/barang/jasa tertentu yang biasa kita gunakan berperan secara aktif menarik kita kepada kebiasaan tersebut.

Kita akan semakin sulit mengubah diri apabila jika benda/jasa itu semakin banyak ditawarkan di depan mata. Maka kenapa seseorang mudah jatuh dalam godaan. Ini adalah sebabnya, bukan hanya karena dirinya sendiri, yang memang suka berpikir buruk, tapi lingkungannya pun berperan aktif, membuatnya semakin terikat dan dikendalikan. Termasuk kekuasaan, pangkat, jabatan dan hal dunia lainnya. Oleh karena itu salah satu bentuk terapi yang dapat menyembuhkan adalah menarik ke luar seseorang dari lingkungannya.

Seorang pecandu narkoba sangat sulit sembuh jika dia tidak ditarik dari lingkungannya, mengapa? Karena lingkungannya telah membentuk medan magnet buruk yang tidak kelihatan. Cap atau label terhadapnya, ketidakpercayaan orang terhadapnya, dan teman-teman yang setia untuk menjadi teman senarkoba yang saling memberi untuk tetap konsumsi narkoba.

Bagaimanakah kondisi pikiran kita saat ini?

Kalau kita menilai kondisi pikiran kita dengan angka 1 sampai 10, satu itu buruk sekali dan 10 itu baik sekali, ada di manakah posisi kita? Misalnya kita menyimpulkan pikiran kita adalah 5, berarti yang masuk ke dalam pikiran kita setengah positif dan setengah negatif, tidak konsisten. Biasanya kondisi ini terlihat dari kecenderungan hidup yang peragu, pesimis dan berpraduga buruk. Tapi kalau kita menilai 8, kemungkinan kita adalah orang positif, kritis, berenergi dan siap hadapi tantangan kehidupan. Jadi baik atau buruknya seseorang, tergantung dari tingkat/kondisi pikirannya. Pikiran yang cenderung lega dan sederhana mencerminkan diri kita yang lebih terbuka daripada pikiran yang rumit dan banyak berpikir.

Merubah diri

Jika kita sudah menyadari kondisi pikiran kita, pertanyaannya kemudian, hal-hal apa yang sebaiknya dilakukan untuk memperbaiki atau mengubah diri? Menjadi pribadi yang lebih baik dan berubah lebih berdaya tahan. Merubah diri hanya bisa ditempuh seseorang untuk masuk ke dalam dirinya sendiri.

  1. Masuk ke dalam diri: Menemukan kebaikan dalam diri.

Menemukan kebaikan dalam diri berarti menyadari hal-hal yang positif yang dimiliki diri. Kebaikan, prestasi, kebiasaan baik dan pengalaman-pengalaman yang bernilai. Sadarilah hal-hal tersebut dengan baik. Hal itu akan mendorong kita melihat betapa kita berharga bagi kehidupan. Seseorang yang hidupnya cenderung positif, bermakna dan memiliki vitalitas tinggi serta dibutuhkan oleh kehidupan.

  • Masuk ke dalam diri: berdamai, menerima dan memaafkan.

Sebaliknya, kita pun perlu bertanya kepada diri sendiri tindakan atau perilaku buruk apa yang pernah terjadi dan dilakukan di dalam hidup. Jika kita menemukannya maka perlu kita berdamai, memaafkannya, membuangnya dan bertobat untuk menjadi pribadi yang lebih baik kemudian. Seseorang yang hidupnya cenderung buruk, hidupnya tidak berenergi, malas dan seringkali menjadi parasit bagi sekitarnya.

Untuk dapat menemukan kebaikan dan keburukan diri maka seseorang harus masuk ke dalam hatinya dan perlahan-lahan mengubah dari dalam. Mengubah hati. Hati yang keras menjadi lembut, hati yang malas menjadi rajin.

Misalnya: salah satu keburukan yang saya temukan adalah kesombongan (rasa bangga diri), dan ketika saya masuk ke dalam diri, saya bisa melihat betapa banyak peristiwa kesombongan tersebut. Dan jujur di balik kesombongan ada kebohongan.

  • Masuk ke dalam diri: selaraskan diri dengan karakter alam semesta.

Saya sangat setuju dengan prinsip manusia baik yang ditulis oleh Mr. Li Hongzhi dalam bukunya, Zhuan Falun. Beliau mengemukakan orang baik itu selaras dengan karakter alam semesta. Sebaliknya semakin jauh dari karakter alam semesta, semakin jauh orang tersebut dari baik. Kriteria itu adalah Sejati, Baik dan Sabar. Ciri dari orang yang semakin selaras akan terlihat dari perilakunya yang bermoral artinya, mampu membedakan benar dan salah dan melakukan yang benar.

Sebuah tantangan, mampukah kita dengan konsisten bertanya kepada diri sendiri sudahkah selaras dengan karakter alam semesta, Sejati, Baik dan Sabar? Semakin kita berani bertemu dengan diri maka kita akan diarahkan untuk menjadi manusia baik. Bertanyalah setiap hari kepada diri sendiri.

Sejati antara lain berarti jujur, apa yang dikatakan itulah yang diperbuat, tidak berpura-pura, apa adanya. Apakah hari ini saya sudah bertindak dan bersikap sejati?

Apa itu Baik? Baik antara lain memikirkan orang lain dari pada kepentingannya sendiri. Memikirkan kepentingan yang lebih besar dari kepentingan dirinya. Berbelas kasih, ramah dan mau menolong. Apa kebaikan saya hari ini?

Apa itu Sabar? Sabar antara lain berarti mampu menanggung penderitaan, mampu bertoleransi. Tidak membalas ketika mendapat pukulan dan cacian, atau dirugikan orang. Apakah saya telah bersabar hari ini?

Kesimpulan

Seseorang tidak akan mampu mengubah dirinya, kalau benda-benda di dalam dirinya yang buruk tidak dibuang. Hal buruk terjadi disebabkan pertama-tama dari pikirannya sendiri dan didukung oleh lingkungannya. Seseorang akan mampu merubah dirinya jika mampu merubah tingkatan berpikirnya. Selama tidak ada perubahan pola pikir, maka ia tidak akan berubah dan lingkungannya bahkan akan mengikatnya untuk tidak berubah. Perubahan yang sesungguhnya dan mendasar dimulai dengan perubahan hati, menjadi hati yang baik. Memiliki hati yang baik berarti terus mengupayakan agar selaras dengan karakter alam semesta, Sejati, Baik dan Sabar. Semoga anda dan saya senantiasa diperbaharui menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat. (ntdindonesia.com/candratua)