Budi Pekerti

Rendah Hati adalah Cara Terbaik Berperilaku

©unsplash

Zhang Weiyan, seorang pria dari wilayah Jiangyin semasa Dinasti Ming (1368 – 1644 M). Ia sangat terpelajar dan berbakat dalam menulis puisi dan prosa. Kenyataannya ia memiliki reputasi sangat bagus diantara kalangan sastra dan terpelajar pada masanya.

Tetapi ia tidak lulus dalam menempuh ujian pertamanya untuk menjadi pegawai negeri Propinsi Nanjing. Ketika ia gagal menemukan namanya pada daftar orang yang lulus ujian, ia melampiaskan kemarahannya dengan hebat dan berteriak bahwa, “Pengujinya tentulah buta!”

Seorang Guru Tao berdiri di dekatnya dengan sebuah senyuman memperhatikan perilaku Zhang Weiyan. Zhang kemudian mengalihkan kemarahannya kepada Guru Tao tersebut.

“Tuulisan yang Anda buat dalam ujian itu pasti jelek sekali,” kata Guru itu. Zhang semakin marah. Ia memaki Guru Tao tersebut. “Membaca tulisan saya pun belum, bagaimana mungkin Anda tahu kalau jelek?”

Guru Tao itu menjawab, “Saya dengar bahwa seseorang haruslah punya pikiran yang damai untuk dapat menulis sebuah tulisan yang benar-benar hebat. Kini, karena  saya melihat Anda mengumpat penguji dan membuat banyak protes, ini jelas bahwa hati Anda dipenuhi dengan kegusaran dan keluhan. Bagaimana mungkin Anda telah menulis sebuah artikel yang hebat?”

Zhang Weiyan menyadari bahwa apa yang dikatakan Guru Tao itu benar sekali, maka ia meminta saran pada Guru Tao itu bagaimana agar ia lulus ujian.

Kata Guru Tao itu, “Anda lulus ujian atau tidak ini ditentukan oleh takdir Anda. Jika Anda ditakdirkan tidak lulus dalam ujian, tidak akan ada gunanya walaupun Anda cakap menulis yang hebat sekalipun. Anda harus merubah diri Anda sendiri.”

Zhang bertanya, “Karena ini ditentukan oleh takdir saya, bagaimana mungkin saya dapat  mengubah takdir saya?” Guru Tao itu menjawab, “Surga menciptakan kehidupan Anda, tetapi Anda akan mencipta takdir Anda dengan perbuatan-perbuatan Anda. Selama Anda berusaha melakukan hal-hal yang baik dan mengumpulkan berkah, keberuntungan apa yang tidak akan Anda peroleh?” 

Zhang Weiyan bertanya, “Saya ini bukan apa-apa kecuali seorang siswa yang melarat. Saya tidak mempunyai kekuatan finansial untuk berderma.”

Kata Guru Tao, “Melakukan perbuatan yang baik dan mengumpulkan berkah keduanya datang dari lubuk hatimu. Selama Anda terus menerus menambatkan kebijakan dalam hati Anda guna melakukan kebaikan, Anda sedang mengumpulkan berkah yang sangat besar. Mengapa Anda tidak menguji Anda sendiri untuk melihat apakah Anda telah cukup belajar? Mengapa Anda tidak mengambil pelajaran dari gagalnya ujian ini dan mengakui kekurangan? Mengapa Anda malah menyalahkan penguji itu?”

Setelah pembicaraan dengan Guru Tao itu, Zhang Weiyan mulai menekan kesombongannya dan lebih sering berbuat baik, rendah hati dan rajin belajar. Tiga tahun kemudian, ia dinyatakan lulus ujian. (minghui/ch)