Budi Pekerti

Kisah Manusia berdialog dengan Tuhan

©freepik

Entah tahun dan bulan berapa, di atas tanah daratan yang luas lahirlah sesosok jiwa, namanya “manusia”. Ketika manusia baru tiba di bumi tanpa sehelai benang pun, apa juga tidak ada. Angin semilir berhembus, manusia merasa kedinginan, lalu dari atas cakrawala jatuh sepotong pakaian dan dikenakan pada tubuh manusia.

Dengan sangat berterima kasih manusia itu berkata, “Ini siapa ya? Terima Kasih!” Saat itu, ada sebuah suara menjawab dari atas langit : “Saya adalah Tuhan, sekarang saya anugerahkan pakaian untukmu, dan saya masih ingin menganugerahkan sekantong bibit untukmu dan sebuah bajak, kamu harus pergi membantu sekelompok manusia yang berada di tempat jauh yang sama denganmu, membantu mereka menanam bibit, membantu mereka menggarap, dan setelah tiba musim gugur nikmati bersama buah yang dihasilkan dengan mereka, kamu harus ingat, semua ini adalah pemberian saya untukmu, kamu harus sama sepertiku, menggunakan segalanya ini dan berikan pada orang lain, sudah ingatkah?”

Dengan sangat berterima kasih, manusia berkata, “Sudah ingat!” Lalu dengan menuruti kata-kata Tuhan ia menemukan sekelompok manusia lain, membantu mereka menggarap, dan membantu mereka menanam bibit. Tuhan merasa sangat gembira melihat manusia menuruti kata-katanya membantu orang lain, ketika melihat manusia bercucuran keringat menggarap tanah, timbul belas kasih Tuhan dalam hati, lalu menganugerahkan lagi seekor kuda pada manusia. Dengan menggunakan kuda menggarap tanah manusia dapat menghemat tenaga. Manusia sangat berterima kasih kepada Tuhan, tidak berani bersikap dingin sedikitpun, berusaha semaksimal mungkin membantu orang lain.

Setelah tiba musim gugur, manusia menikmati bersama buah yang dihasilkan dengan orang-orang, orang-orang sangat berterima kasih, dengan serentak semua orang mengatakan bahwa itu merupakan pemberian dari orang yang mulia, dengan merasa malu manusia berkata :” Jangan berkata begitu, ini semua adalah anugerah Tuhan! Saya semula tidak ada apa-apa, apa yang dapat saya lakukan?” Sebuah musim gugur tiba kembali, buah yang dihasilkan tidak mampu dibawanya karena terlampau banyak.

Lalu Tuhan menganugerahkan lagi seperangkat kereta kuda, dengan begitu akan lebih cepat memindahkan barang, semua orang serentak mengatakan lagi bahwa itu merupakan pemberian dari orang mulia. Dengan rendah hati lagi manusia berkata, “Semua ini adalah anugerah Tuhan! Tuhan menganugerahkan pada saya semua ini adalah agar supaya saya bisa lebih baik lagi membantu kalian, saya hanya meneruskan anugerah dari Tuhan untuk kalian, apalah yang saya miliki?”

Tidak tahu sudah berapa tahun berlalu, secara berangsur-angsur manusia mulai merasa puas di tengah-tengah kesuksesan dan pujian orang lain, dan juga merasa diri sendiri telah mempersembahkan jasa yang luar biasa, telah begitu banyak bekerja untuk orang lain, semua ini bukankah atas jerih payah sendiri? Manusia juga telah bosan berjalan, lantas merombak kereta yang ditarik kuda menjadi kereta duduk untuk diri sendiri, membantu orang lain dengan memandang manfaat baginya terlebih dahulu, apabila tidak ada manfaatnya untuk diri sendiri, secara tegas ia tidak memperdulikannya, meskipun orang lain memohon dengan iba.

Manusia mulai memperlihatkan dengan bangga kemampuan diri sendiri dihadapan orang-orang, agar orang memuji dan menyanjung-nyanjung dirinya, agar supaya orang-orang berterima kasih atas segala yang telah diberikan pada khalayak ramai, memberinya suatu kedudukan di tengah masyarakat, dan sekaligus mulai tawar-menawar dengan orang-orang, agar orang membangun sebuah hunian yang indah untuk diri pribadi. Melihat ada yang lebih berharta dan lebih tinggi kedudukannya darinya, manusia merasa iri dan menggunakan cara-cara tidak lurus untuk lebih hebat daripada orang lain.

Oleh karena keegoisan manusia, kuda itu mulai tidak sudi melayaninya, kerjanya semakin lamban. Bajak pun mulai berkarat. Begitu melihat kuda tidak mau lagi bekerja, lalu manusia mulai sewenang-wenang membuat sebuah cambuk, dan dengan kejam mencambuki kuda. Tak lama kemudian, akhirnya kuda mati disiksa. Bajak juga telah patah terantuk batu didalam tanah. Manusia mulai menyalahkan Tuhan, mengapa memberikan seekor kuda yang tidak penurut dan sebidang garapan yang tidak subur. Tuhan merasa begitu sayang dan sedih mendengar keluhan manusia. Lalu, disuatu malam yang dihujani badai angin, sebuah halilintar menyambar taman megah manusia hingga terbakar, manusia menyelamatkan jiwanya berlari menerobos keluar taman tanpa memperdulikan apapun, dan menyaksikan taman dan hunian megahnya telah hangus dalam bara api besar itu.

Dengan telanjang manusia berdiri di padang yang luas, kedinginan di tengah angin malam, di saat demikian, ia baru merasakan bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa lagi, ia merasa sangat sedih dan putus asa, menyalahkan kenapa Tuhan begitu tidak adil terhadap dirinya.

Semilir angin sejuk menyadarkan ingatannya yang ditutupi debu, ia mulai terbayang suasana ketika ia baru datang ke dunia, terbayang pesan Tuhan dan barang-barang yang dianugerahkan dewa kepadanya dahulu. Ia akhirnya sadar, merasa sangat malu, dan merasa sangat menyesal, menangis terisak-isak dan berkata pada langit luas di kegelapan malam : “O, Tuhan! Saya benar-benar malu memohon maaf dari-Mu, saya lupa, segala yang saya miliki adalah anugerah dari-Mu, tujuannya adalah supaya saya seperti-Mu bekerja untuk kepentingan semua orang, barang-barang tak terhitung banyaknya yang Anda anugerahkan untuk saya maksudnya adalah agar supaya saya bisa lebih banyak menolong dan bermanfaat untuk orang lain, namun saya malah melanggar perintah Anda, saya menjadikan kemampuan yang dianugerahkan kepada saya sebagai modal untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, dan menjadikannya sebagai alat untuk kepentingan pribadi.

Tetapi, sekarang saya telah mengkhianati ajaran Anda, mengkhianati hakikat yang bermanfaat untuk orang banyak, kini saya benar-benar tidak punya apa-apa lagi. Saya benar-benar merasa sangat menyesal, mohon Tuhan memberikan belas kasih, sekali lagi berikanlah kesempatan untuk saya, mewujudkan maksud dan perintah Anda.” Setelah berkata bersujud tidak bangkit lagi.

Namun, Tuhan tidak menampakkan diri, yang ada hanya semilir angin dingin, manusia merasa sedih dan kecewa, sangat menyesali kesalahan diri sendiri yang sulit untuk dimaafkan, lalu jatuh pingsan.

Tidak tahu sudah berapa lama berlalu, manusia itu tersadar, dan begitu bangun melihat kilau sinar matahari yang terang, tampak adalah sekelompok sapi dan domba gunung, sekelompok kuda yang bagus, banyak bunga segar, kicauan burung, awan yang berarak di langit, banyak mahluk hidup bernyanyi ceria, memuji dan menyanjung kebesaran dan welas asih Tuhan, manusia mendapati bahwa diri pribadi memiliki segala yang semakin baik dengan segala mahluk, dan tidak kuasa menahan rasa syukur dan kegembiraan, air mata mengalir membasahi seluruh wajah. (NTDindonesia/chr)