Budi Pekerti

Chiang Kai-Shek: Pemimpin Dengan Hati

Chiang Kai-shek
Chiang Kai-shek. (Canva Pro)

Chiang Kai-shek, seorang pemimpin terkenal di zaman modern, sering dianggap sebagai orang yang dingin dan berkuasa secara militer. Namun, jika melihat lebih dekat buku hariannya dan kenangan pengawal masa lalunya, terungkap banyak kisah mengharukan yang menunjukkan interaksinya yang penuh kasih sayang dengan orang-orang dan pertimbangannya yang bijaksana. Kisah-kisah ini paling jelas terlihat selama aktivitas rekreasi favoritnya, “berkeliling dengan mobil”.

Insiden Anjing-Ayam

Salah satu kejadian tersebut terjadi saat berkeliling dengan mobil bersama keponakannya Song Boxiong dan Song Zhonghu. Anak-anak tersebut, yang tinggal dan besar di California, mengunjungi Taiwan untuk liburan musim panas mereka. Saat berjalan-jalan di pedesaan, anjing gembala Jerman mereka tiba-tiba menyerang dan membunuh seekor ayam milik seorang petani setempat. Anak-anak tersebut segera meminta maaf kepada petani tersebut dan menawarkan uang dolar sebagai kompensasi.

Saat mengetahui kejadian tersebut, Chiang Kai-shek meminta maaf kepada petani tersebut dan berkata kepada keponakannya: “Sayalah yang seharusnya memberikan kompensasi. Lagi pula, satu dolar tidak bisa membeli seekor ayam. Tahukah kalian berapa harga ayam per ponnya?” Dia kemudian memerintahkan pengawalnya untuk memberi kompensasi kepada petani dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar.

Berdoa meminta hujan

Selama berkeliling dengan mobil lainnya ke Danau Sun Moon, Chiang Kai-shek menyadari kondisi kekeringan parah yang mempengaruhi para petani setempat. Ia menyatakan keprihatinan mendalam dan menginstruksikan stafnya untuk memantau kondisi tanah setiap hari. Dia juga terus bertanya tentang ramalan cuaca. Ketika dia mengetahui bahwa kekeringan tidak akan segera berakhir, dia berdoa setiap hari agar turun hujan. Setelah sekitar 10 hari, Taiwan akhirnya menerima curah hujan, yang untuk sementara waktu menghilangkan stres para petani.

Melestarikan alam dan meningkatkan infrastruktur publik

Chiang Kai-shek juga dikenal karena kecintaannya terhadap alam. Dia sering merasa kesal jika melihat penggundulan hutan atau penanaman berlebihan. Ia selalu berupaya menjaga keindahan alami hutan bahkan rela memindahkan bangunan beberapa meter jauhnya demi melindungi satu pohon.

Selama berkeliling dengan mobilnya, dia akan menginstruksikan sekretarisnya untuk memberi tahu departemen terkait untuk melakukan perbaikan jika dia melihat kawasan kota yang kotor atau bangunan umum yang rusak. Ia kerap keluar dari mobilnya untuk berinteraksi dengan warga dan memahami kondisi kehidupan mereka.

Membantu nelayan

Pada suatu kesempatan, Chiang Kai-shek dan istrinya mengagumi matahari terbenam di dekat Danshui. Mereka bertemu dengan beberapa nelayan yang sedang memperbaiki jaringnya. Dia mendekati mereka, terlibat dalam percakapan santai, dan bertanya tentang pendapatan bulanan mereka, berapa hari mereka melaut, dan kesulitan yang mereka alami.

Dia mengapresiasi kerja keras mereka setelah mendengar tentang pendapatan mereka yang tidak stabil dan kondisi kerja yang keras. Beberapa hari kemudian, para nelayan menerima jaring baru yang disiapkan dan dihadiahkan oleh Chiang Kai-shek.

Seorang pria yang sederhana

Setelah Perang Dunia II, General Motors membuat empat mobil limusin Cadillac mewah untuk para pemimpin empat negara sekutu utama, salah satunya diberikan kepada Chiang Kai-shek. Meskipun ada saran untuk mengganti mobil lamanya dengan yang baru, dia awalnya menolak karena sifatnya yang berhemat dan sentimental. Namun, mobil tuanya kesulitan mendaki bukit terjal di dekat kediamannya, sehingga ia berpikir untuk menggantinya dengan mobil Amerika yang lebih bertenaga.

Ketika komunitas Tionghoa di pemerintahan Filipina mendengar hal ini, mereka mengumpulkan dana untuk memberinya sebuah Cadillac 1955 yang dirancang khusus dengan jendela cermin dan fitur antipeluru. Namun, setelah menggunakannya sekali, Chiang Kai-shek mengungkapkan ketidaksenangannya dengan menyatakan: “Mengapa saya membutuhkan mobil seperti ini? Saya tidak memerlukan perlindungan antipeluru atau jendela cermin. Taiwan adalah tanah air saya.” Dia tidak pernah menggunakan mobil itu lagi, dan mobil itu menjadi barang museum.

Penutup

Chiang Kai-shek, dengan kekuasaan dan posisinya, dapat dengan mudah mengatur sejumlah besar polisi militer untuk membuka jalan baginya. Namun, ia kerap meminta para pengikutnya untuk tidak membatasi orang untuk mendekatinya dan tidak mengganggu kehidupan orang lain. Kesederhanaan dan kemudahannya untuk didekati patut dipuji, memperlihatkan sisi dirinya yang bukan sekadar orang kuat di bidang militer, namun juga seorang pemimpin yang memiliki hati. (nspirement)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor