Budaya

Bodhisattva Avalokitesvara | Legenda Kwan Im (6)

Bodhisattva Avalokitesvara

Berikut adalah cerita legenda putri dari Raja Miao Zhuang, yaitu putri Miao Shan, yang berhasil kultivasi menjadi Bodhisattva Avalokitesvara (Guan Yin / Kwan Im), dikutip dari catatan literatur Dinasti Qing. Dengan sakral dijadikan sebagai referensi.

(Baca Bagian 1 disini)

Bab 6. Mendapat perintah Raja Miao Zhuang saat memberi selamat, mendapat tambahan Kerja Keras di dapur

Konon saat Putri Miao Shan sedang merapikan taman, saat itu tengah hari, terdengar suara musik yang panjang dan lembut di samping telinganya, yang terbawa oleh angin. Lalu terdengar lagi suara tawa yang selaras, setelah mengetahui bahwa mereka akan datang, awalnya memang ingin segera menghadap dan menyambut Raja. Namun kemudian ada sesuatu yang terlintas dalam hati, dan teringat apa yang baru saja dikatakan Raja Miao Zhuang, bahwa ada dua menantu Raja sedang datang berkunjung. Pria dan wanita ada perbedaan, jadi rasanya tidak pantas untuk keluar menemui mereka begitu saja. Biar dilihat dulu apakah kedua menantu Raja itu datang bersama Raja atau tidak, entar baru dipikirkan rencananya. Akhirnya dia berdiri di tempat terpencil, dan mengamati secara diam-diam.

Hanya terlihat sekelompok pelayan istana memainkan musik indah sebagai pengiring, Raja Miao Zhuang di tengah, putri tertua Miao Yin, putri kedua Miao Yuan, masing-masing memegang tangan menantu Raja (suami) mereka, secara bergantian di belakang, diikuti oleh sekelompok pelayan, terlihat mereka satu per satu dipenuhi oleh aura kebahagiaan, penuh suka cita. Putri Miao Shan tanpa sadar menghela napas dan berpikir sendiri, umur manusia tidak lebih hanya seratus tahun, kemuliaan dan kegembiraan seperti ini, bisa dinikmati berapa lama? Pada akhirnya ini semua hanyalah mimpi kosong belaka, jadi buat apa repot-repot? Ketika dia melihat kedua menantu Raja benar-benar datang bersama Raja, segera berbalik badan dan kembali ke aula Buddha, tidak pernah keluar untuk bertemu lagi.

Selain itu Raja Miao Zhuang juga memimpin sekelompok orang, sampai ke Paviliun Xiaoyao, tetapi tidak melihat tanda keberadaan Miao Shan. Awalnya dikira dia selalu ada di paviliun, tak disangka sesampainya di paviliun, tetap saja tidak terlihat, dan hanya pengasuh seorang di sana untuk menyambut Raja. Raja Miao Zhuang duduk di paviliun, dan kedua putri serta menantu Raja juga ikut duduk, barulah kemudian bertanya kepada pengasuhnya, “Ke mana perginya Miao Shan, mengapa tidak datang menemuiku?”

Pengasuh itu sudah lama bersama Putri Miao Shan, kenal baik dengan perangainya, jadinya menyesali: “Sang putri sedari awal menunggu di gerbang taman menyambut, tetapi kemudian dia melihat dua menantu Raja datang bersama Raja, dan untuk menghindari kecurigaan antara pria dan wanita, dia pun pergi bersembunyi.”

Raja Miao Zhuang berkata: “Omong kosong! Ini jelas karena dia tidak menghormati yang lebih tua, dan sengaja menghindar. Kedua menantu Raja adalah saudara iparnya sendiri, saling bertemu adalah hal wajar. Apakah lantas bisa menghindar bertemu selamanya? Cepat wakilkan aku untuk memanggilnya ke sini, jika masih terus seperti ini sikapnya, aku akan suruh orang untuk menangkapnya.”

Setelah mendengar ini, pengasuhnya mana berani mengatakan “tidak”, menyetujuinya berulang kali, dan berlarian menyusuri Paviliun Xiaoyao menuju aula Buddha, menjelaskan kata-kata tadi kepada Putri Miao Shan. Awalnya Miao Shan masih bersikeras dan menolak untuk pergi, setelah dibujuk tiga kali oleh pengasuhnya, setelah sadar tidak dapat melarikan diri, dengan berat hati akhirnya pergi bersamanya.

Ketika tiba di Paviliun Xiaoyao, bertemulah dengan baginda Raja dan dua kakak perempuannya. Raja Miao Zhuang memintanya untuk pergi dan menyapa kedua kakak iparnya, hal ini membuat Putri Miao Shan sangat malu sampai ingin bersembunyi, dia dengan enggan membungkuk kepada mereka masing-masing, dan kemudian mundur berdiri di samping. Dia melihat sekeliling paviliun dan hanya melihat ada empat meja: yang di tengah tentu saja adalah Raja Miao Zhuang; meja pertama di bawahnya adalah tempat menantu Raja tertua dan putri tertua duduk berdampingan; meja di bawahnya lagi adalah tempat menantu Raja kedua dan sang putri kedua duduk bersebelahan, meja paling bawah, malah terdapat dua kursi kosong dan tidak terisi. Dia menahan segala macam keraguan di dalam hatinya, dan menerka-nerka sendiri.

Tiba-tiba terlihat Putri Miao Yin menarik Putri Miao Yuan, dan mereka menghampirinya dan berkata: “Adik yang baik, sejak kita berpisah, kami selalu memikirkanmu. Juga mendengar bahwa kamu karena tidak menaati perintah ayahanda, dihukum menderita di taman ini, hari ini bisa saling ketemu, kamu memang terlihat sangat kurus. Meskipun ini adalah kesalahan ayahanda, namun pada akhirnya ini adalah kesalahanmu sendiri! Coba kamu pikirkan, hidup manusia di dunia, itu semua demi apa? Harta dan kehormatan, orang lain memohonnya pun tidak bisa memperolehnya; kamu memilikinya, malah tidak mau menikmati, bukankah ini bodoh sekali? Lagi pula laki-laki menikahi perempuan, itu sudah menjadi hal yang sewajarnya, bagaimana bisa menentangnya? Coba kamu lihat aku dan kakak keduamu, bukankah sekarang menikmati kemakmuran seorang istri? Belum lagi yang lainnya, hanya datang dan pergi bersama, menikmati napas dan jalan-jalan bersama, sudah cukup membuat orang iri! Ini bukan hanya hal yang patut dilakukan seorang manusia, tidakkah kamu lihat burung layang-layang di atap sana, bukankah mereka juga terbang bersama berteduh bersama?”

Pada titik ini, Putri Miao Yuan juga berkata: “Benar! Apa yang dikatakan kakak tertua itu sedikit pun tidak salah. Bukan saja kebahagiaan yang ada di depan mata kita, meneruskan garis keluarga juga sangat penting. Jika semua wanita di dunia pikirannya seperti adik ketiga, bukankah umat manusia akan punah karena hal ini, kala itu akan jadi apa dunia ini? Harapan ayahanda juga terletak pada hal ini. Oleh karena itu hari ini juga dipersiapkan meja dengan dua tempat duduk untuk adik ketiga. Kamu pergi dan duduklah di sana, tempat kosong akan diisi oleh tamu terhormat! Adikku yang baik, kamu pandanglah muka kami berdua kakakmu, jangan lagi keras kepala!”

Setelah mengatakan itu, Miao Yin dan Miao Yuan masing-masing memegang salah satu lengannya, dan ingin mengantarnya ke tempat duduk. Tak diduga, ketika Miao Shan mendengar apa yang dikatakan kedua kakak perempuannya, tanpa sadar jantungnya mulai berdebar kencang, wajahnya memerah, dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Sekarang melihat mereka menarik tangannya, dengan cepat dia melepaskan sepasang tangannya, dan berkata dengan terengah-engah: “Kakak berdua tolong jangan lakukan apa-apa, dengarkan adikmu. Perkataan kakak berdua memang tidak salah, tapi itu hal yang diperuntukkan bagi orang awam, juga berarti itu adalah pandangan duniawi, tapi yang pasti bukanlah hal yang diperuntukkan untuk orang yang berkultivasi Sejati dan belajar Dao [Jalan]. Manusia di dunia, tidak bisa melihat apa di balik kemuliaan dan kekayaan itu. Karena tidak bisa melihatnya, maka semua orang ingin menikmati kemuliaan dan kekayaan ini, sehingga terjadilah konflik dan pertarungan, bahkan dengan rencana licik dan jahat, tanpa ragu memperjuangkannya bahkan sampai mati. Yang memenangkannya juga tidak lebih 1-2 di antara seratus, kalaupun berhasil dimenangkan, juga berapa lama bisa dinikmati? Hal memalukan, segala tindak kejahatan, segala hal kekerasan dan pembunuhan, semuanya terlahir dari sini, sehingga menciptakan dosa yang memenuhi langit. Dapat dilihat bahwa kemuliaan dan kekayaan ini sebenarnya adalah kabut racun yang menyesatkan jiwa manusia, iblis Mara yang menutupi kecerdasan manusia, juga berarti ini adalah lautan kesengsaraan yang menenggelamkan manusia, begitu terjatuh ke dalamnya, selamanya tidak akan pernah bisa melepaskan diri.”

“Hanya aliran Buddha yang maha luas, dan Fa Buddha yang bersih murni, yang dapat menghancurkan semua iblis Mara, menjernihkan hati dan menyingkirkan kecemasan manusia. Sekali pikiran kembali ke Sejati, dapat berkultivasi mencapai kesadaran Lurus [Sambodhi], Enam Indra [mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, jiwa] bersih murni, tanpa ego, Nihil Kosong, selamanya bebas. Kemudian buatlah sumpah welas asih, untuk membabarkan Fa bagi semua makhluk hidup, untuk menyelamatkan semua penderitaan di dunia, dan membawa mereka ke Sukhavatti. Hanya Sang Buddha, yang dapat hidup selama Langit dan Bumi, inilah buah kebajikan dari tidak mengejar kemuliaan dan kekayaan.”

“Karena adinda telah mengetahui dengan jelas semua ujian ini, makanya bertekad untuk berlindung pada Sang Buddha, dan tidak pernah mau terjatuh ke dalam jebakan karma duniawi iblis Mara, namun juga tidak berani dengan sengaja melawan perintah ayahanda Raja. Kakak berdua berhati tulus dan berniat baik, adinda hanya bisa memahatnya dalam hati, banyak-banyak mendoakan kakak berdua. Sedangkan untuk meja itu, saya benar-benar tidak berani duduk, pertama: itu hal tidak pantas, kedua: adinda sejak lahir sudah vegetarian, dan belum pernah melanggar pantangan. Di atas meja penuh dengan daging, ikan, dan makanan berminyak, benar-benar tidak berani memakannya. Silakan kakak berdua duduk dan minum, biarkan saya melayani ayahanda saja.”

Miao Yin dan Miao Yuan, setelah mendengarkan penjelasannya yang misterius, tampak sinis dan sedikit tidak senang di hati mereka, meskipun akhirnya mereka kembali ke tempat duduk mereka. Raja Miao Zhuang asalnya memang sudah sedikit marah, hanya saja belum meluap, sekarang setelah mendengar kata-kata seperti ini, tak tertahankan lagi langsung terucap makian: “Dasar kamu makhluk tidak tahu diuntung! Kamu bersedia menjadi orang rendahan, boleh-boleh saja, tapi kamu juga tidak pantas mengeluarkan kata-kata ngelantur ini untuk menipu orang lain, masih berani mengatai dengan sinis orang tua dan kedua kakak kandung di hadapanmu. Sungguh seorang putri yang berkultivasi Sejati dan mendalami ajaran Buddha, memangnya kamu pernah melihat orang yang tanpa ayah tanpa suami dapat pergi ke Sukhavatti dan menjadi Buddha Hidup?”

Putri Miao Shan berkata: “Ayahanda Raja mohon tenang, ananda tidak berani menyinggung baginda. Apa yang dikatakan tadi sebenarnya timbul dari ketulusan yang paling dalam, tanpa diduga telah menyinggung ayahanda Raja, saya pantas mati, untuk menebus dosa ini. Biarlah saya menuangkan arak untuk ayahanda Raja, sebagai pengganti panjang umur ayahanda Raja.”

Raja Miao Zhuang memelototinya dengan marah dan berkata: “Siapa yang menginginkan perhatian palsu kamu wahai makhluk rendahan yang tidak tahu diuntung, tidak bikin aku mati kesal sudah untung, masih bicara soal panjang umur?” Segera Raja memerintah pengawal di samping untuk mencarikan pakaian, dipilihlah pakaian rakyat jelata, disuruhlah dia untuk memakainya, bahkan dia tidak diperbolehkan memakai sepatu atau kaus kaki, mulai hari ini, dia dikirim ke dapur untuk bekerja sebagai pelayan. Setiap hari harus mengisi air bersih ke tempayan sebanyak 1200 liter, dua panggul penuh muatan kayu bakar, semua kerjaan mencuci beras dan menyalakan api harus dilakukan sendiri, dan tidak boleh ada orang lain yang membantu. Pembantu istana lainnya ditugaskan untuk mengawasi setiap saat, jika ada kesalahan atau kemalasan akan dipukuli. Jika ada waktu senggang di sela-selanya, masih harus menenun sandal jerami, tak boleh ada waktu senggang sedikit pun.

Bagaimanapun, Raja Miao Zhuang dan Putri Miao Shan adalah satu keluarga, ini sebabnya tega mengirimnya menderita di dapur, berharap dia menanggung derita fisik dan mental, dan akhirnya berubah pikiran, sesuai keinginannya sendiri. Tanpa diduga, sang putri satu ini, memiliki tekad teguh, rela menderita sakit fisik, namun tidak pernah goyah keyakinannya dalam berkultivasi Dao [Jalan]. Setelah dia disuruh ke dapur, pagi-pagi setelah bangun tidur, segera pergi menimba air di sumur, meskipun tenaga tidak kuat, namun tetap bisa berhasil melakukannya, hingga tempayan 1200 liter itu terisi penuh, pada siang hari, dia pergi mencuci beras dan menyalakan api. Setelah makan siang, mengambil golok untuk memotong kayu bakar, ketika kayu bakar pilihan selesai dipotong, hari sudah menjadi senja, sudah harus mencuci beras memasak makan malam, dalam satu hari, sama sekali tidak punya waktu luang. Dengan beban kerja yang begitu berat, bahkan seorang pria muda dan kuat pun pasti merasakan sakit, apalagi dia adalah seorang putri yang lembut? Tak perlu dikatakan lagi, terasa pinggang lumpuh dan punggung patah, tenaga dan otot terkuras habis. Dengan berjalan seperti ini, dia memang tidak bisa menyelesaikan tugasnya tepat waktu seperti yang dia lakukan di taman, tapi keyakinannya yang teguh, bagaimana mungkin bisa terhapus oleh hal ini? Jadi dia pun menahan rasa sakit fisik, dan setelah makan malam, dia menyalakan sebatang dupa, mengambil jerami untuk menganyam sepatu, sembari melantunkan nama Buddha dengan tulus sampai larut malam, lalu tertidur di sofa jerami.

Di hari pertama seperti ini, para pelayan yang bekerja di dapur mengira dia hanya berusaha menahannya, dan tidak terkejut olehnya. Belakangan, ketika mereka melihat dia seperti ini setiap hari, tidak malas-malasan, semua orang tanpa sadar mulai mengaguminya dan merasa kasihan dengan situasinya. Bahkan Yong Lian, pelayan istana yang diutus Raja Miao Zhuang untuk mengawasinya, mengungkapkan simpati penuh kepadanya. Karena semua orang bersimpati padanya, mereka tidak lagi memandangnya dengan dingin, ada yang pergi membantunya mengambil air, ada yang memotong kayu bakar untuknya, semua berlomba membantunya melakukan sesuatu.

Ketika dia punya waktu luang, Miao Shan akan menenun sepatu jerami dan terus bekerja keras.

Perkataan ini sungguh benar: Tekad teguh bagaikan batu emas, ataukah lebih mending mengalami kemunduran?

(Bersambung)