Fokus

China: Taktik Penutup-nutupan ala Covid19 Digunakan Lagi di Flu Burung?

Apakah China sedang menyusun penutup-nutupan skala besar pada penyebaran virus yang mematikan dan siap menyalahkannya negara lain?

Jumat lalu, badan kesehatan top China mengumumkan penularan flu burung ke manusia terjadi di dalam negeri secara tidak merata dan masih rendah. Apakah Beijing meremehkan risiko penularan virus itu pada manusia? Beberapa bukti mengatakan ya.

Berbulan-bulan, berbagai tingkat CDC China telah mengimplementasikan langkah melawan flu burung, seperti memonitor kasus flu burung di warga China, menyetok produk pencegahan, dan melatih staf medis untuk menangani wabah. Tapi disinilah uniknya. Laporan mengenai flu burung yang berasal dari peternakan unggas hanya muncul di media sosial. Mereka sama sekali tidak muncul di laporan surat kabar maupun berita televisi negara China. Beberapa peternak unggas China memposting tentang ayam mereka yang sakit di media sosial. Awal bulan ini seorang peternak berkata 900 angsa di peternakannya mati karena flu burung. Sebuah perusahaan biotech di provinsi Shandong China menekankan flu burung tahun ini jauh lebih serius bagi unggas, dan menyerukan warga agar menghindari tempat dimana unggas berkumpul, untuk menghindari infeksi. Secara kontras, kami tidak dapat menemukan laporan terkini media China pada situasi ini. Surat kabar terbesar China, People’s Daily, juga corong mulut Beijing Xinhua News Agency, hanya melaporkan kasus flu burung di AS, Jepang, dan negara-negara lain.

Melihat betapa seriusnya situasi di dalam China, berita buruk tentang China selalu mendapatkan sensor dari rezim China, seperti yang telah diketahui dunia selama pandemi Covid-19. Tetapi tindakan-tindakan dari otoritas China sebenarnya telah memberi petunjuk. Kota berpenduduk terpadat China, Shanghai, baru-baru ini melarang perdagangan unggas hidup selama tiga tahun, mulai awal tahun ini. New York City melakukan hal yang sama, namun dalam jangka yang jauh lebih singkat, dua bulan kemudian, setelah otoritas menemukan tujuh ternak yang terinfeksi flu burung di pasar kota.

Pada 7 Februari, negara bagian New York mengumumkan mereka akan menutup pasar unggas hidup selama seminggu. Walau Shanghai menutup perdagangan jauh lebih lama, kota itu tetap tutup mulut tentang detailnya, menolak untuk memberitahu dimana, kapan, dan berapa banyak unggas yang terinfeksi di kota itu, jika ada.

Namun menolak memberitahu masyarakat tentang detailnya dapat membawa konsekuensi serius. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, flu burung, memiliki 54 persen risiko kematian di manusia. Dua bulan kemudian, di Shanghai, sebuah rumah sakit mulai menanyakan informasi dari pasien tentang kontak mereka dengan unggas hidup, tanpa memberitahu mereka alasannya; dan tanpa memberitahu informasi kasus infeksi manusia. Sumber internal dan laporan warga memberitahu bahwa virus flu burung sedang menyebar dengan luas di kota mereka. Dua minggu lalu, sebuah provinsi di timur China mengadakan pelatihan medis darurat sebagai respon pada penyakit infeksi tak bernama. Militer dan ahli pejabat tingkat lain di China juga berpartisipasi.

Dan di utara China, satu kota mempublikasikan blueprint dari rumah sakit sementara raksasa. Fasilitas seperti ini dirancang untuk mengisolasi pasien yang terinfeksi penyakit menular. Selain itu, satu provinsi di barat daya China sedang akan memproduksi alat pengetes flu burung di manusia. Kami akan terus memperbarui informasi tentang situasi virus di China. Anda bisa melihat laporan yang berkaitan di bagian China News di NTD.

slot gacor