Ketika membaca tentang sejarah Tiongkok, kita dapat menyadari bahwa semua kaisar yang baik memiliki kesamaan: Mereka menyayangi rakyat seperti mereka menyayangi anak-anak mereka. Jika bencana alam terjadi, kaisar akan introspeksi apakah mereka telah melakukan suatu kesalahan besar. Mereka percaya bahwa ketika mereka bersalah, mereka dapat meminta Tuhan untuk menyelamatkan rakyat mereka dan minta dihukum secara pribadi.
Kisah-kisah berikut menunjukkan dua contoh seperti itu:
Pengorbanan Shang Tang
Segera setelah awal pemerintahan Shang Tang, terjadi kekeringan yang parah. Setelah berlangsung selama beberapa tahun, airnya habis, tanaman mati, dan tidak ada tanaman yang bisa dipanen. Untuk meredakan kekeringan, Shang Tang mendirikan altar di pinggiran kota, mengadakan upacara harian untuk meminta hujan kepada Tuhan.
Ia terus meminta arahan Tuhan: “Apakah semua ini karena saya pernah mengeluarkan keputusan yang tidak pantas? Apakah saya menyebabkan orang menderita? Apakah suap marak di negara ini? Apakah pernah ada salah hukum, atau sebaliknya apakah ada penjahat dan koruptor mendapatkan hak istimewa? Apakah istana terlalu mewah? Mengapa kekeringan begitu buruk? Saya bersedia melakukan apa pun untuk menghentikan kekeringan.
Tujuh tahun berlalu dan masih belum ada hujan. Rakyatnya menderita. Shang Tang memutuskan untuk memilih Sanglin, gunung di luar kota, sebagai tempat ibadah. Dia memimpin para menteri untuk mengadakan upacara berdoa untuk hujan. Namun, masih belum ada hujan. Kemudian dia terpikir apakah perlu melakukan kurban.
Melalui ramalan, Shang Tang diberitahu bahwa Dewa tidak ingin kurban hewan, melainkan manusia.

Shang Tang memutuskan bahwa ia bertanggung jawab untuk rakyatnya. Dia tidak rela menggunakan salah satu dari rakyatnya sebagai pengorbanan, jadi dia memutuskan untuk mengorbankan dirinya sendiri.
Shang Tang memangkas rambut dan kukunya dan setelah mandi, dia memerintahkan pembuatan kayu bakar untuk pengorbanan dan berdoa kepada Surga dengan mengumumkan bahwa dia sendiri yang bersalah dan rakyatnya tidak boleh dihukum karena dosa-dosanya. Dia berharap bahwa para dewa di Surga tidak akan melukai rakyatnya. Setelah dia selesai berdoa, api akan segera dinyalakan. Tapi tiba-tiba, angin yang tak terduga datang, langit berubah mendung, dan kemudian hujan turun. Bumi benar-benar basah dan kekeringan berakhir.
Tang Taizong Menelan Belalang
Pada tahun kedua Zhenguan, terjadi wabah belalang di sekitar Chang’an. Dimanapun belalang muncul, tanaman di kebun dan sawah rakyat akan rusak parah. Suatu hari, ketika Kaisar Taizong melakukan inspeksi sawah yang terkena hama belalang, dia menangkap beberapa ekor dan berkata: “Rakyat saya bergantung pada gandum untuk tetap hidup, tetapi kalian memakan biji-bijian itu. Saya lebih suka anda makan jeroan saya. Jangan menyakiti rakyatku lagi. “
Para pejabat di sekelilingnya semua berkata: “Jangan makan makhluk mengerikan ini atau kamu akan sakit”. Taizong berkata: “Lebih baik saya yang menderita, bukan rakyat saya. Saya tidak takut sakit jika dapat menghindarkan rakyat dari bencana”.

Setelah itu, Taizong menelan belalang-belalang itu. Menurut buku Sejarah Awal Dinasti Tang: “Tahun itu, belalang tidak merusak tanaman pangan karena belas kasihan Taizong menyentuh hati para dewa di Surga”.
Kaisar Taizong peduli dengan rakyatnya dan juga mendapat rasa hormat dari kelompok etnis di sekitarnya. Kualitas karakter moralnya menciptakan kejayaan Dinasti Tang yang luar biasa. (visiontimes/bud/chr)
