Fokus

AS dan China Kembali Perpanjang Gencatan Tarif

Senin kemarin, AS dan China kembali memperpanjang gencatan tarif 90 hari ke depan, menunda pemberlakuan tarif tiga digit atas masing-masing impor. Para pemain ritel AS bergegas menimbun stok barang jelang musim liburan akhir tahun. Simak selengkapnya.

Selang beberapa jam mendekati batas waktu Selasa kemarin, Beijing dan Washington sepakat memperpanjang gencatan tarif 90 hari ke depan, menunda pemberlakuan bea masuk tiga digit atas masing-masing barang, dimana tarif AS atas impor China akan naik menjadi 145%, dan tarif China untuk barang AS menjadi 125%, yang mana bisa menjadi embargo virtual antara kedua negara. Penundaan ini dinilai krusial khususnya bagi pemain ritel AS disebabkan lonjakan impor jelang akhir tahun.

Presiden AS, Donald Trump mengumumkan penangguhan tarif tinggi hingga November melalui akun media sosialnya pada Senin. Sementara itu, kementerian dagang China juga mengumumkan penangguhan tarif tambahan serta menunda penambahan beberapa perusahaan AS yang masuk dalam target sejak April ke dalam daftar pembatasan perdagangan dan investasi mereka. Menurut China, langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi global sesuai kesepakatan kedua negara pada 5 Juni.

Mei sebelumnya, kedua pihak telah menyepakati gencatan tarif 90 hari di Jenewa, guna memberi ruang untuk pembicaraan. Pertemuan lanjutan kembali digelar di Swedia akhir Juli, di mana tim delegasi AS kembali ke Washington dan mengusulkan presiden Trump untuk memperpanjang batas waktu

Data terbaru departemen perdagangan menunjukkan impor dari China melonjak di awal tahun, dan mengalami penurunan tajam pada Juni. Akibatnya, defisit perdagangan AS dengan China turun drastis menjadi $9,5 miliar, ini merupakan angka terendah sejak 2004. Defisit ini telah menyusut lebih dari 70% dalam setahun terakhir. Selain masalah tarif, AS juga mendesak China untuk berhenti membeli minyak Rusia guna mengakhiri konflik Rusia-Ukraina, bahkan mengancam akan memberlakukan tarif tambahan jika China menolak.

Meski AS dan China berhasil menunda tarif tiga digit, namun tarif AS saat ini agaknya masih membebani China. Para ekonom menyebut bahwa tingkat pengangguran di China memburuk selain karena tarif juga karena kelebihan kapasitas industri. Kondisi ini menekan pendapatan pekerja, mengurangi percaya diri mereka akan masa depan, yang berujung pada menurunnya belanja. Akibatnya, kepercayaan konsumen di China rendah dan penjualan ritel melambat.