Fokus

Rekor $1T Surplus Perdagangan China oleh Pasar Non-AS

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, surplus perdagangan China mencapai 1 triliun dolar karena negara itu mengalihkan pengiriman ke pasar non-AS. Bulan November, ekspor ke negara-negara Eropa, Australia, dan Asia Tenggara melonjak, sementara pengiriman ke AS turun tajam. Para ekonom berkata tarif tinggi Washington terus membebani margin keuntungan eksportir China, hingga mereka meningkatkan upaya untuk mendiversifikasi pasar ekspornya sejak Trump kembali menjabat. China telah mengupayakan hubungan perdagangan lebih erat dengan Asia Tenggara dan Uni Eropa.

Data bea cukai menunjukkan pada Senin bahwa ekspor China tumbuh 5,9% tahun ke tahun. Data itu menunjukkan pengiriman China ke AS turun 29% pada November dibandingkan tahun sebelumnya, walau AS-China telah sepakat saling mengurangi sebagian tarif mereka.

Ekspor ke Uni Eropa tumbuh 14,8% per tahun bulan lalu, sementara pengiriman ke Australia melonjak lebih dari sepertiganya.

Seiring ekspor China mencapai rekor 1 triliun dolar, negara-negara Eropa menyuarakan kekhawatiran atas kesenjangan perdagangan yang semakin besar.

Ekspor naik lebih dari 5% tahun ini, mencapai sekitar 3,4 triliun dolar. Para pemimpin Eropa berkata ketidakseimbangan ini makin sulit untuk diabaikan. Pada hari Minggu, Presiden Prancis Macron memperingatkan bahwa Eropa dapat mengenakan tarif yang lebih tinggi pada impor China seperti AS.

Ia mengatakan Eropa kehilangan momentum di bidang-bidang seperti mobil, teknologi, dan barang-barang mewah. Menurut Wall Street Journal, China kini menyumbang sekitar 15% dari ekspor global, yaitu hampir sepertiga dari semua barang yang dikirim ke seluruh dunia berdasarkan volume.

Dengan kata lain, untuk setiap kontainer yang datang dari Eropa, empat kontainer meninggalkan China. Sementara itu, China memperluas ekspornya ke luar pasar Barat, mengirim lebih banyak barang ke Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin. Di enam negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, ekspor China telah melonjak lebih dari 20% dibandingkan tahun lalu, menurut Financial Times.

Para ekonom mengatakan sebagian lonjakan tersebut berasal dari dumping, di mana Beijing membanjiri pasar luar negeri dengan barang-barang yang lebih murah dan mengekang produsen lokal. Hal itu kini mendorong aturan impor yang lebih ketat dan diskusi tarif di seluruh negara Asia dan Eropa.