Fokus

Pemimpin Iran Berencana Kabur Ke Moskow Jika Protes Meningkat

Pemimpin tertinggi Iran mungkin merencanakan pelarian atas kerusuhan yang menyebar di seluruh negeri. Sebuah laporan dari Times pada hari Minggu berkata Ayatollah Ali Khamenei bermaksud melarikan diri ke Rusia jika pasukan Iran tak dapat lagi menahan protes.

Protes anti-rezim kini memasuki minggu kedua di seluruh Iran dengan para demonstran menyerukan diakhirinya rezim. Sebuah kelompok HAM di Iran mencatat jumlah korban tewas mencapai 25 orang, sementara lebih dari 1,000 orang telah ditangkap.

Protes telah meletus di lebih dari separuh provinsi Iran, menghadirkan tantangan terbesar bagi rezim sejak 2022. Sementara itu, Iran menghadapi tekanan yang meningkat di berbagai bidang seperti krisis ekonomi hingga sanksi AS pada ekspor minyak negara itu.

Iran terikat erat dengan China, mitra dagang terbesarnya, tetapi para analis berkata hubungan itu rapuh. Perwakilan AS Brian Mast berkomentar hubungan China-Venezuela sangat relevan dengan hubungan China-Iran.

[Brian Mast, Perwakilan AS]:

“Pesan yang dikirim kepada para diktator di seluruh dunia dan para teroris di seluruh dunia adalah bahwa China bukanlah perlindungan Anda. Anda tidak mendapatkan perlindungan dari mereka; mereka mungkin menjual barang murah, tetapi mereka juga menjual persahabatan yang murahan.”

Presiden Trump memperingatkan Iran bahwa setiap serangan pada para demonstran dapat mengakibatkan respons keras dari AS. Beberapa tokoh oposisi di Iran menambahkan bahwa warga Iran secara terbuka menyerukan AS dan Israel untuk membantu melawan penindasan rezim.

Stiker di mobil, bus, dan tempat umum bertuliskan “Trump! Iran sedang menunggu Anda.” Para pejabat Iran memberitahu Reuters bahwa rezim kehabisan ruang untuk bermanuver. Sebuah sumber intelijen mengatakan pada Times bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dapat melarikan diri bersama ajudan dan keluarganya jika pasukan keamanan membelot. Ia dilaporkan akan menuju Moskow mengikuti jejak sekutunya, mantan pemimpin Suriah Bashar al-Assad, yang melarikan diri dari Damaskus sebelum pasukan oposisi merebut kota itu pada Desember 2024.