Fokus

Tren AI Open Claw Tekan China Kendalikan AI

Tren terbaru Beijing memberi dilema bagi rezim China: dominasi AI atau pertahankan kendali?

Agen AI bernama Open Claw yang baru-baru ini diakuisisi oleh Open AI, telah meledak popularitasnya di seluruh China. Para pejabat khawatir ini dapat mengekspos data sensitif, menciptakan risiko keamanan siber, dan merusak pasar kerja yang sudah lemah.

Di seluruh China, pengguna telah mulai memasang agen AI ini ke komputer pribadi dan kantor. Open Claw dapat menangani tugas tanpa banyak instruksi, seperti membersihkan inbox email, mengelola jadwal pribadi, atau membalas pesan teks.

Popularitasnya di China memberinya julukan, “memelihara lobster”. Itu karena nama Open Claw terinspirasi oleh kecintaan para pendirinya pada lobster. Menggunakan AI ini bahkan dibandingkan dengan memelihara lobster.

Open Claw telah menimbulkan kekhawatiran bagi rezim China. Pihak berwenang telah membatasi beberapa perusahaan negara untuk memasangnya di komputer sensitif, dengan alasan potensi risiko keamanan data. Para ahli keamanan siber memperingatkan alat ini membutuhkan akses tingkat tinggi ke data pribadi dan dapat berkomunikasi dengan sistem eksternal, membuka peluang serangan siber. Ini  bahkan dapat bertindak sendiri seperti menghapus file penting setelah diberi izin.

Terlepas dari kekhawatiran itu, raksasa teknologi China termasuk Tencent dan Alibaba, membangun sistem berbasis Open Claw. Beberapa kota di China juga menawarkan subsidi jutaan dolar bagi perusahaan rintisan yang membangun sistem dengannya.

Bagi rezim China, mengatur dan mengendalikan AI semakin sulit. Ada pula kekhawatiran ekonomi yang lebih luas. Sebuah studi Universitas Peking menemukan lowongan pekerjaan sudah menurun di bidang-bidang di mana AI banyak digunakan, seperti akuntansi dan pemrograman. Dengan pengangguran kaum muda yang tinggi, meningkatnya penggunaan alat AI dapat memberikan tekanan pada pasar tenaga kerja yang melemah.