Di sebuah siang yang sibuk, seorang pemuda melambai untuk menyetop taksi di jalan. Ia tampak sangat tergesa-gesa. Sebuah taksi berhenti, dan si pemuda segera bergegas masuk ke dalamnya.
“Ke gedung di jalan utama ya Pak. Mohon cepat, karena saya sudah terlambat!”
“Baik, Pak. Saya akan carikan alternatif agar Bapak lebih cepat sampai tujuan.”
Mobil pun bergegas meluncur. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada sebuah truk dari arah berlawanan melintas dengan kencangnya dan hampir menabrak mobil mereka. Sang sopir taksi terkejut, begitu pula dengan pemuda yang duduk di belakang.
Sopir dari truk yang hampir menabrak mereka, turun berteriak-teriak dengan kasar dan marah-marah. Ia memaki-maki si sopir taksi yang dianggapnya bersalah.
Si pemuda yang duduk di belakang, mendengar umpatan kasar si sopir truk dan menjadi emosi. Ia menganggap si sopir taksi tidak bersalah. Merekalah yang justru hampir tertabrak.
“Eh, dasar sopir nggak tau diri! Pak, balas saja! Edan, seenaknya saja menuduh orang!”
Namun alangkah terkejutnya dia, saat si sopir taksi justru tersenyum dan membalas si sopir truk:
“Maaf Pak, memang saya yang salah! Lain kali saya akan berhati-hati!”
Sopir truk terlihat tertegun dengan reaksi si sopir taksi, lalu sambil mengeluarkan umpatan terakhir, ia pun pergi.
Si Pemuda terheran-heran dengan sikap si sopir taksi.
“Pak, nggak salah? Kan dia yang hampir menabrak kita?”
Sopir taksi hanya tersenyum lalu berkata:
“Sudahlah Pak, yang penting kita semua selamat! Memang ada yang salah, tapi kita tidak perlu membalasnya dengan kasar juga kan? Lagipula, jika saya ladeni, Bapak pasti akan terlambat sampai tujuan!”
Si pemuda termenung dan menjawab:
“Wah, saya sungguh tidak menyangka bisa bertemu dengan orang yang bijaksana seperti Pak Supir! Tolong beritahu saya, bagaimana Bapak bisa sesabar itu?”
Sambil menyetir mobil, si sopir taksi menjawab sambil agak tertawa:
“Hahaha…. Saya ini sopir taksi, tapi berjiwa seperti truk sampah Pak. Bapak tahu? Truk sampah itu mengangkut sampah yang bau, tapi kan hanya sementara. Pada akhirnya sampah bau itu akan dibuang di tempat pembuangan akhir. Saya kan hanya mengangkut, tetapi tidak perlu menjadi seperti sampah itu? Nggak apa-apalah saya setiap hari mendapatkan sampah dari orang lain, saya biarkan sampah itu berakhir di tempat pembuangan akhir, dan tidak akan saya simpan di dalam truk saya.”
Mendengar jawaban sederhana itu, si pemuda termenung. Ia mendapat pelajaran sangat berharga di hari itu.
Jika anda mendapatkan sampah dari orang lain, ingatlah bahwa anda mempunyai pilihan untuk menerima sampah itu dan membuangnya, atau tetap menyimpan sampah itu di dalam diri anda.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu
