Alkisah, ada dua saudara lelaki yang tinggal bersama namun memiliki sifat yang sangat berbeda. Si kakak laki-laki, Marco, manja dan malas, sementara si adik laki-laki, Leo adalah pekerja keras dan bekerja sebagai penebang kayu.
Leo biasanya bekerja siang dan malam, dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu dan kemudian menghasilkan uang dengan menjual kayu-kayu tersebut. Dia berbagi semua penghasilannya dengan Ibu dan Ayahnya juga dengan kakak laki-lakinya, serta istrinya.
Suatu hari, setelah bekerja seharian, Leo lelah dan berbaring untuk beristirahat di bawah sebuah pohon ek. Sebuah biji jatuh di tanah di sampingnya, dan kemudian beberapa biji lagi jatuh.
Dia mengumpulkan semuanya, dan berpikir bahwa dengan biji ek sebanyak ini, dia akan bisa membantu keluarganya, dia lalu kembali ke rumah. Tetapi karena saat itu mulai gelap, dia tersesat dan mulai berjalan berputar-putar. Dia menggigil kedinginan dan ketakutan.
Setelah berjalan berjam-jam, dia menemukan sebuah rumah. Lega menemukan tempat berlindung dari kedinginan, dia segera mengetuk pintum namun tidak ada yang menjawab. Ketika dia lelah mengetuk, pintu rumah itu terbuka. Begitu masuk, ternyata rumah itu kosong, dia beristirahat sejenak namun tiba-tiba, dia mendengar suara-suara datang dari pintu.
Ketakutan, dia bersembunyi di dalam lemari, meninggalkan pintunya terbuka sedikit, untuk melihat siapa yang tinggal di rumah itu.
Dari celah, dia melihat sekelompok peri hutan berjalan melewati pintu, wajah mereka menyeramkan, dia ketakutan. Dia menutup mulutnya sendiri, memastikan agar suara napasnya tidak akan terdengar dari luar lemari.
Segera, para peri hutan itu berkumpul membentuk lingkaran dan mulai memukul-mukul pentungan yang mereka bawa ke atas lantai kayu dan mulai melantunkan, “Buat emas, buat emas, buat emas.”
Ketika mereka mengucapkan kata-kata tersebut dan memukul-mukul pentungannya ke lantai, sebuah gundukan emas muncul.
Leo tidak bisa mempercayai matanya. Dia terus menonton. Demikian pula, para peri hutan itu kemudian membuat tumpukan perak dan batu rubi muncul dengan nyanyian mereka. Mereka melanjutkan untuk memunculkan tembaga, berlian dan segala benda lain.
Leo mulai takut kalau para peri hutan itu akan menemukannya dan takut memikirkan apa yang akan mereka lakukan padanya jika mereka tahu bahwa dia telah melihat sihir mereka.
Tiba-tiba, perutnya mulai bergemuruh karena lapar.
Para peri hutan tersebut mendengarnya dan melihat sekeliling, salah satu dari mereka bertanya, “Suara apa itu?”
Yang lain menjawab, “Pasti guntur .. Kita harus hati-hati.”
Tapi perut Leo tidak berhenti berbunyi karena lama kosong, dia tahu dia harus menemukan cara untuk menenangkan perutnya. Pelan-pelan dia mengambil satu biji ek dari sakunya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Tapi yang membuatnya ngeri adalah, ketika dia menggigitnya, suara yang ditimbulkan cukup keras.
Bahkan para peri hutan itu mendengarnya, mereka berteriak, “Keluar ..! Rumah ini akan roboh, kita akan tertimpa atap rumah ini jika tidak melarikan diri.”
Jantung Leo berdebar kencang karena ketakutan, namun dia tidak bergerak sedikitpun sampai semua peri hutan itu melarikan diri dan menghilang.
Sepanjang malam dia tinggal di sana, takut kalau peri-peri hutan itu akan kembali dan menemukannya. Dia menunggu hingga matahari terbit, kemudian dengan pelan, dia berjingkat-jingkat keluar dari lemari dan memandangi harta karun yang ditinggalkan para peri hantu di tengah rumah tersebut.
Sebelum pergi, selekas mungkin, dia mengisi sakunya dengan sebanyak mungkin emas dan berlian, lalu kemudian berlari ke pintu. Di luar rumah dia melihat satu pentungan milik peri hantu yang tertinggal, jadi dia mengambilnya juga.
Saat itu matahari sudah bersinar, jadi dia bisa menemukan jalan untuk pulang ke rumahnya. Setelah kembali ke rumah, dia menggunakan kekayaan yang dia dapat untuk membangun rumah besar dan memindahkan orang tuanya ke rumah mewah.
Dia juga membagikan kekayaannya kepada kakak laki-lakinya, dia juga sering menyumbang dan membantu banyak orang yang memerlukan bantuan keuangan.
Sejak hari itu, setiap kali dia membutuhkan uang, dia hanya akan memukul-mukulkan pentungannya di tanah dan melantunkan, “Buat emas, buat emas, buat emas,” dan setumpuk emas akan muncul.
Ketika kakak laki-lakinya melihat kekayaan Leo, dia sangat iri dan ia menuntut saudaranya itu untuk memberitahu bagaimana dia bisa mendapatkan begitu banyak kekayaan.
Leo memang orang yang tulus, jadin dia menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada kakaknya.
Malam itu, Marco si kakak lelaki memasuki hutan, memotong-motong kayu bakar dan kemudian sama seperti saudaranya, berbaring dan tidur di samping pohon ek. Ketika akhirnya ada biji-biji ek yang jatuh, dia mengambilnya.
Tetapi alih-alih memikirkan keluarganya, di dalam benaknya, dia hanya memikirkan bagaimana caranya mendapatkan emas dari peri hutan.
Jadi dia mengisi sakunya hingga penuh, lalu berjalan mencari rumah yang diceritakan oleh Leo. Setelah lama, dia menemukannya dan terus mengetuk pintu itu hingga akhirnya pintu itu terbuka.
Lalu dia berjalan di dalam rumah dan bersembunyi di lemari.
Seperti yang dijelaskan Leo, tidak lama kemudian para peri hutan masuk dan mulai memukul-mukul pentungan mereka dan mengucapkan, “Buat emas, buat emas, buat emas.”
Tetapi Marco terlalu bersemangat dan tidak sabar, jadi dia segera menggigit satu biji ek keras-keras, berharap agar peri-peri hutan itu ketakutan dan segera pergi.
Dia menggigitnya keras-keras hingga menimbulkan suara keras, kemudian kembali mengintip keluar lemari untuk melihat apakah peri-peri hutan itu sudah pergi atau belum.
Tak disangka, di depan lemari, semua peri itu berdiri menatap lemari, kemudian berteriak: “Keluar kamu!”
Marco ketakutan dan tidak mau keluar, para peri hutan itu kemudian membuka lemari dan menyeretnya keluar.
Mereka kemudian memukulinya dengan menggunakan pentungan mereka.
Tidak lama, para peri hutan itu melemparkannya keluar rumah mereka.
Akhirnya Marco pulang dalam keadaan babak belur, tanpa harta, tanpa biji ek, juga tanpa kayu bakar.
Setibanya di rumah, adiknya Leo bertanya apa yang telah terjadi padanya. Sambil menangis Marco kemudian menceritakan apa yang dia alami, dia lalu berkata: “Saya telah menerima pelajaran saya.”
Keserakahan dan keegoisan menyebabkan dia merasakan semua penderitaan itu. (moralstories26/an)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
