Budi Pekerti

PODCAST Kisah Klasik: Kapak Emas si Penebang Kayu

Dahulu kala, hiduplah seorang penebang kayu di sebuah desa kecil. Dia tulus dalam pekerjaannya dan sangat jujur.

Setiap hari, dia berangkat ke hutan terdekat untuk menebang pohon. Dia membawa kayu-kayu kembali ke desa dan menjualnya ke pasar untuk mendapatkan uang.

Dia tidak mendapat uang yang sangat banyak dari hasil menebang kayu, tetapi dia puas dengan kehidupannya yang sederhana.

Suatu hari, saat memotong kayu di dekat sungai, kapaknya terlepas dari tangannya dan jatuh ke sungai. Sungai itu begitu dalam, dan dia tidak bisa berenang. Jadi tidak mungkin rasanya dia bisa mengambil kapaknya sendiri.

Dia hanya memiliki satu kapak, jadi dia menjadi sangat khawatir, memikirkan bagaimana selanjutnya dia akan mencari nafkah tanpa kapaknya?

Dalam kesedihannya dia berdoa, dia berdoa dengan tulus hingga menyentuh hati seorang Dewi penjaga sungai tersebut.

Dewi itu muncul dari dasar sungai, lalu bertanya kepada si penebang kayu: “Ada masalah apa pak tua, mengapa Anda bersedih?”

Penebang kayu menjelaskan masalahnya dan meminta tolong, mungkin Dewi itu bisa membantu untuk mengambil kapaknya.

Sang Dewi memasukkan tangannya ke dalam sungai dan mengeluarkan sebuah kapak perak, lalu bertanya: “Apakah ini kapakmu?”

Si penebang kayu memandangi kapak tersebut dan menjawab, “Bukan, kapak saya terbuat dari besi dan kayu, bukan perak seperti itu.”

Jadi sang Dewi kembali memasukkan tangannya ke dalam air, lalu kemudian mengeluarkan sebuah kapak emas.

Dia bertanya lagi, “Apakah ini kapakmu?” Sambil menyodorkan kapak emas itu kepada si penebang kayu.

Si penebang kayu menjawab: “Tidak, bukan, kapak saya tidak sebagus itu, kapak saya terbuat dari besi dan kayu. Lagipula, bagaimana bisa saya menebang kayu dengan sebuah kapak emas?”

Dewi sungai itu berkata: “Coba dilihat lagi Pak, ini adalah kapak emas yang sangat bagus, yakin, ini bukan milikmu?”

Si penebang kembali menjawab: “Saya yakin, itu bukan kapak saya.”

Dewi sungai kemudian berkata, ”Baiklah,” sambil memasukkan tangannya lagi ke dalam air, kali ini dia mengeluarkan sebuah kapak usang yang terbuat dari besi tua, dengan gagang kayunya yang sudah agak lapuk. Dia bertanya lagi, “Apakah ini kapakmu?”

Si penebang kayu menjawab: “Nah, itu baru kapak saya, kapak itu sudah menemani saya selama belasan tahun, tidak mungkin saya salah mengenalinya.”

Sang Dewi sungai sangat terkesan dengan kejujuran si penebang kayu, jadi pada akhirnya, dia memberikan kapak besi, kapak perak, dan kapak emas, kepada si penebang kayu.

Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. (kisah klasik/an)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Dengarkan Podcast kami:

Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu